Antara Kritik dan Menghina


20150131_200736

Oleh: bung rulan

Mungkin kita sering mendengar istilah kritik dalam keseharian, lantaran kata kritik selalu kita dengar baik di kehidupan nyata maupun di pertelevisian. biasanya individu, organisasi, ormas, partai politik dll sering menggunakan istilah kritik, apabila kelompok tersebut tidak merasa puas atas kebijakan baik oleh pimpinan perusahaan maupun pemerintah setempat. Maka dapat dipastikan kelompok tersebut akan melakukan kritik, terhadap institusi yang bersangkutan.

Memang tradisi kritik sudah menjadi suatu hal yang lumrah di negeri ini, mengingat ruang keterbukaan informasi semakin lebar dan konstitusi melegitimasinya. Sehingga siapa saja, baik dari berbagai lembaga dapat melakukan kritikan. Yang jelas kritikan tersebut tidak menyerang secara pribadi seseorang dan dapat dipertanggunjawabkan. Namun lain halnya dengan beberapa oknum yang melancarkan kritikannya, biasanya mereka tidak obyektif dan sering tendensius. Walah-walah kalau bahas kritikan tapi cenderung tendesius, biasanya akan tambah runyem. Bukan solusi yang dihasilkan melainkan akan menambah masalah baru.

Mungkin masih teringat jelas dalam memory publik, beberapa waktu lalu salah satu komisioner komisi pemberantasan korupsi (KPK). Menyebutkan bahwa kader HMI yang lulusan LK1 mereka semua cerdas, namun setelah mereka menjabat mereka cenderung korupsi dan jahat. Kira-kira seperti itu pernyataan Saut Sitomurang, pada salah satu acara TV swasta yang bertajuk “harga sebuah perkara”.

Bukan pujian dan tepuk tangan yang didapatkan Saut situmorang, melainkan kader HMI merasa dilecehkan oleh pernyataan wakil ketua KPK. Tak ayal secara serentak organisasi kemahasiswaan ini, melakukan demonstrasi secara besar-besaran. Mereka merasa dihina dipublik, apalagi pernyataan saut di media massa.

Contoh kasus ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia dalam menata sistem berdemokrasi. Demokrasi tidak saja dinilai bebas dalam pengertian bebas sebebasnya mengkritik dan menghina ornop tertentu tanpa memberikan bukti yang jelas. Akan tetapi kita harus kritik seobjektif mungkin, memang betul terdapat beberapa alumni HMI, ingat beberapa saja. Bukan secara keseluruhan melakukan generalisasi terhadap organsisasi, melainkan terdapat beberapa oknum yang telah malah melintang di HMI. Ketika memegang posisi tertentu memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Sebut saja ada Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Wa Ode Nurhayati sampai Zulkarnaen Djabbar.

Namun yang jelas kita tidak boleh anti pati terhadap kritikan, menganggap kritikan sebagai suatu yang selalu ingin menjatuhkan, menurut saya tidaklah tepat dan perlu di evaluasi kembali tuh orang. Sebab dengan kritikan kita dapat memperbaiki dan berbenah diri agar dikemudian hari tidak melakukan hal yang serupa. Anggap saja kritik sebagai vitamin plus untuk memonpa motivasi lebih tinggi lagi, menurutku bukan saja buku sebagai guru terbaik, melainkan kritik juga di anggap sebagai guru yang mengarahkan dan menuntut kejalan kebenaran.

Akan tetapi Naas memang hari ini, kita tidak lagi dapat membedakan mana kritikan dan mana yang bukan kritikan. mungkin dalam prespektif seseorang itu kritik, namun disisi lain orang menganggap itu sebagai ucapan kebencian (hate speech). Tak sedikit orang merasa risih dengan peryantaan-peryataan yang menghina orang lain, dan melaporkan kepolisian. Ada juga artis yang tanpa sengaja mengucapkan sesuatu dan itu di anggap menghina. Sebut saja zaskia gotik yang menplesetkan pancasila sebagai bebek nungging. Secara serentak publik merasa marah dengan ucapan Zaskia Gotik yang dinilai menghina simbol Negara dan melaporkan kepada pihak kepolisian. Pada akhirnya Zaskia Gotik meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas ucapannya tersebut dan ia malah di dapuk sebagai duta pancasila oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pasca reformasi bergulir 18 tahun lamanya, bangsa Indonesia berada pada eforia reformasi. Kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya sehingga bermunculan berbagai macam partai, organisasi, media massa dan berbagai macam lembaga non-pemerintahan yang bergerak di berbagai macam sektor. Ada yang fokus pada lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan sampai pada lembaga advokasi pada kaum marjinal.

Era Kebebasan berbicara ini menuntut siapa saja agar berani mengkritik apa saja, entah itu kebijakan pemerintahan yang tidak pro terhadap masyarakat maupun yang hal-hal yang menyangkut eksistensi diri dimasyarakat. Sayapun berharap ruang kebebasan berbicara dimuka publik tidak disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk menyerang lawan politiknya.

Nama : ruslan

Akun media : FB- rulan bebas merdeka

Twitter- aktivis Indonesia

Web: www.ruslanbima.wordpress.com

Instagram: bung rulan

Profil singkat

Ruslan adalah salah satu penulis pemula yang kesehariannya banyak menghabiskan waktu untuk mengurus organisasi HMI komisariat ushuluddin filsafat dan politik. Selain itu ia bergerak dibidan penulisan di komunitas literasi, yang dibentuk dengan teman-teman mahasiswa penggiat menulis lainnya di “Komunitas Tanpa Nama” Makassar.

Iklan

Membakar buku termasuk kejahatan kemanusiaan


bukuoleh: bung rulan

Akhir-akhir ini dunia maya ramai dibicarakan tentang usaha segerombolan orang yang ingin membakar buku bacaan, entah apa yang ada dalam benak pikiran mereka sampai ingin menghancurkan buku. Padahal kita ketahui dengan buku kita bisa membuka jendela dunia selebar-lebarnya. Tidak bisa dibayangkan ketika dunia sudah tak lagi memiliki buku untuk dibaca, mungkin negeri ini akan menjadi negeri yang dikutuk oleh tuhan karena membenci ilmu pengetahuan.

Pelarangan terhadap beredarnya buku-buku yang beraliran kiri, mulai dari cendekiawan abal-abalan sampai kepada kepala perpustakaan nasional Indonesia. Ia mendukung upaya pembakaran buku marxisme yang mengandung ajaran/ideology komunisme. Bila kita mencermati seobyektif mungkin terkait komunisme, saya berpikir kita akan merasa malu dengan sendirinya. Karena sumbangsih ideologi komunisme terhadap semangat perlawanan masyarakat Indonesia terhadap kolonialisme belanda. walau saya tak bisa menampik adanya partai komunis Indonesia PKI yang menggunakan cara-cara keji membunuh para jendral, dibawah payung ideologi komunisme. Akan tetapi kita tiddak boleh melakukan generalisasi bahwa PKI mewakili komunisme. Saya bukan simpatisan PKI namun saya membela apa yang sudah seharusnya dibela, agar Negara ini tidak gagap sejarah.

Saya berdiskusi panjang lebar dengan beberapa teman di twitter yang mendukung buku-buku kiri dibakar. Komentar-komentar mereka bernada tendesius dan ambisius, tidak mampu menghadirkan fakta objektif mengapa mereka seperti predator buku. alasan-alasannya sangat sederhana menyamakan buku kiri dengan buku jihad yang membuat masyarakat merasa resah terhadap perkembangan terorisme di Indonesia. Sinisme muncul disebabkan mereka lebih suka dengan budaya diam dan menerima kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang mensejahterahkan masyarakat luas. Padahal Negara dibawah kendali kapitalisme, menciptakan turbulensi kemiskinan disegenap penjuru negeri ini. Kemiskinan menjadi tontonan murah meriah, sementara disisi lain, elit dan konglomerat berpesta pora ditengah keadaan yang semakin menggila. Pantaskan sebuah kemiskinan seperti dagelan politik saja, atau mengajak mereka untuk menentukan nasib dirinya sendiri. Ajaran kiri seperti memberikan sejuta harapan bagi masyarakat miskin dibawah bayang-bayang kapitalisme, untuk bangkit dan mengatakan tidak pada penindasan.

Entah apa yang terlintas dalam pikiran penguasa, mendukung cara biadab dan tidak beradab dengan membakar buku. Suatu bangsa yang baik harus menghargai karya dari generasi mereka sebelumnya. Saya percaya orang macam itu tidak pernah menulis buku atau karya lainnya yang bermanfaat. Masih terlintas dalam pikiran kita, bagaimana keadaan masyarakat eropa di abad kegelapan (dark age), kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan masih banyak istilah lainnya yang bisa dijadikan padanan kata untuk menyebut kondisi eropa diabad ke-13-14. Mereka terbelakang jauh dari ilmu pengetahuan, lantaran ilmu pengetahuan yang tidak sejalan dengan pihak geraja akan dimusnahkan. Dan bahkan para ilmuwan dihukum gantung, karena tidak sejalan dengan doktrin gereja.

Negara-negara tetangga setiap tahun bisa memproduksi buku dalam jutaan judul buku, sehingga para warga engaranya dapat membaca dan belajar dengan pilihan tema-tema yang menurut mereka menarik. Sementara di Indonesia jumlah produksi buku saja masih terbilang sangat kurang, kita masih kalah dengan Malaysia, singapura dan beberapa Negara tetatangga lainnya dalam jumlah produksi buku. Dalam kekurangan tersebut kitapun hendak ingin memberangus sejumlah buku-buku yang di anggap bersebrangan dengan pemikiran dan ideology yang kita pakai. Seharusnya perbedaan pandangan tersebut harus kita syukuri sebagai sebuah keregaman yang di pelihara.

Gagasan komunisme Karl Marx telah menginspirasi jutaan pemikir setelahnya untuk menghasilkan buah gagasan dan ide. Lewat Marxlah ilmu sosial nusantara dikembangkan dan praxiskan. Saya piker ilmu sosiologi tidak akan menemukan momentum besarnya bila tidak Mar yang memberikan warna terbesar dalam perkembangan sosiologi. Bukan hanya saja sosiologi tapi sudah merambat ke setiap dimensi ilmu pengetahuan lainnya.

Kritik Terhadap Pemikiran Antonio Gramsci


Gramsci_1922

Siapa yang tidak mengenal sosok satu ini, yang sangat piawai mengkhatamkan ajaran Marx. ia adalah Antonio Gramsci seorang pemikir jebolan beraliran Marxis, lahir di sebuah kota di Sardinia Italia pada tahun 22 januari 1891. Sebagai seorang pemikir intelektual marxis, yang berkecimpung dalam sebuah partai politik buruh yang progresif. Gramsci sukses membawa partai buruh sosialis menjadi partai yang tangguh dan besar, berkat dari kematangan berorganisasi untuk memobilisasi massa dalam melakukan aktifitas kerja partai. Selain itu gramsci menelurkan berbagai gagasan-gagasannya dalam bentuk buku, dan disebar luaskan keberbagai Negara. Salah satu buku yang terkenal yang pernah ia tulis adalah catatan gramsci didalam penjara (Prison of note book), yang kemudian diselundupkan oleh istrinya saat ia berkunjung ke penjara untuk bertemu dengan Gramsci. Buku catatan dari penjara ke penjara, menceritakan banyak hal didalamnya, termasuk konsep hegemoninya. Gagasan tersebut berbicara seputar usaha seseorang untuk menguasai orang lain, agar mengikuti keinginan dari orang yang mengajak. Mereka menggunakan kemampuan komunikasi politik dan loby politik untuk mengajak massa, melakukan hal yang ia inginkan.

Buku gramsci catatan dalam penjara mengingatkan kita pada tokoh komunis Indonesia Tan Malaka yang menulis buku yang serupa juga yaitu catatan dari penjara ke penjara. Namun naasnya tokoh ini dibunuh oleh masyarakat Indonesia sendiri oleh karena perbedaan pandangan politik, padahal perbedaan itu suatu keniscayaan bagi manusia. Konsep hegemoni Gramsci banyak dipakai oleh berbagai macam orang, untuk menundukkan orang lain. Oleh karena konsep tersebut sangat praktis dan elegant dibandingkan dengan cara-cara penggunaan kekuatan melalui koersif (kekerasan), agar orang lain dapat mengikuti kita. Disadari atau tidak Antonio Gramsci telah memberikan sumbangan yang amat besar terhadap perubahan dinamika politik, ia mampu merubah dan mempengaruhi paradigma pemikir-pemikir setelahnya. Karena gramsci merupakan pemikir yang berani melakukan sedikit perubahan terhadap doktrin keras marxisme ortodoks. Karena pada saat itu marxisme sudah paten dan tidak bisa dirubah sedikitpun, merubahnya sama dengan murtad kepada ajaran marx.

Disini penulis ingin melakukan kritik terhadap gagasan Gramsci sebagai salah satu upaya merekonstruksi kembali gagasan tersebut. Sehingga selain kita dapat mengambil gagasan intelektual Marxian ini secara Taken of graden mengambil begitu saja, namun kita bisa memperbaiki berbagai sisi termasuk memasukkan nilai islami kedalam pemikiran tersebut. Dan perlu diperjelas adalah saya tidak hendak melakukankan islamisasi terhadap konsep gramsci melainkan melakukan internalisasi terhadap ajaran islam kedalam pandangan dunia (epistemologi) ilmu sosial kritis. Dalam hal ini saya akan mengkritik gagasan gramsci dengan menggunakan beberapa alternative, termasuk didalamnya mengambil pemikiran islam Kuntowijoyo. Salah satu sumbangsih terbesar kuntowijoyo adalah ia mampu melahirkan gagasan Ilmu Sosial Profetik (ISP), yang mendasarkan pada etika kenabian melalui pemaknaan kreatif terhadap surat Al-Imran ayat 110. Didalam kandungan ayat tersebut tersirat tiga muatan nilai utama yang menjadi dasar dari peletakan dasar ISP, di antaranya Humanisasi, yaitu memanusiakan manusia dalam pengertian manusia seutuhnya. Liberasi melakukan pembebasan terhadap kelompok mustadafin dari penindasan sistem yang dihegemonik oleh kapitalisme dan yang terakhir transendensi yaitu segala perbuatan manusia pasti ada ikut campur tangan tuhan di dalamnya.

Sebagai mana ilmu sosial kritis yang dijelaskan, cenderung memisahkan diri dengan konsep agama. Agama justru dipandang sebagai salah satu penyebab dari kemunduran ilmu pengetahuan dan membuat masyarakat dinina bobokan dengan janji-janji agama. Ilmu sosial kritis cenderung menuduh agama sebagai salah satu penyebab dari melemahnya gerakan sosial, karena tidak menyentuh kedasar persoalan kemasyarkatan. Sebagaimana yang menajdi doktrin marxisme bahwa ekonomi merupakan basic struktur sedangkan agama, politik, hukum dan sebagainnya hanyalah suprastruktur. Jadi perubahan suprastruktur sangat bergantung pada perubahan kebutuhan dasar manusia yaitu ekonomi. Namun kaum agamawan akan banyak yang tidak sepakat dengan cara pandang kelompok marxis tersebut, lantaran islam salah satunya bukan hanya sekedar mengajarkan tentang persoalan ibadah kepada tuhan, melainkan islam juga menjadi salah satu agama perlawanan terhadap penindasan dan penghisapan. Islam mengajarkan hidup egalitarian dan tidak boleh hidup hura-hura seperti kelompok hedonisme (Kapitalisme-red).

Ilmu sosial kritis menurut kuntowijoyo tidak memberikan jalan atau pedoman bagi kita, melainkan ilmu tersebut hanya sampai pada siapa subyek yang akan menjalankannya. Sedangkan ilmu sosial profetik memberikan jalan bagi mereka pedoman sampai pada lahirnya tujuan etika profetik. Dengan ilmu tersebut islam dapat melakukan proses transformasi secara besar-besaran terhadap cara pandang yang menganggap islam tidak memberikan sumbangan untuk melakukan perubahan dan sebagai agama perlawanan.

 

ISIS


bung rulan

Negara Islam Irak dan Suryah (ISIS) menjadi familiar ditengah Masyarakat kita, gerakan sempalan islam yang didirikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi dan dibaiat sebagai khalifah dunia. Khalifah merupakan sebutan sebagai pemimpin umat Islam yang menaungi kekuasaan bumi. Seperti disebutkan dalam kitab suci bahwa manusia diturunkan dibumi sebagai khalifah bagi alam semesta, menciptakan kedamaian dan ketentraman di kerajaan bumi. Akan tetapi proses penunjukan Khalifah cukup beragam pendapat yang muncul, sehingga melahirkan perdebatan yang amat alot mulai dari pasca meninggal Rasulullah SAW hingga sekarang. Ditengah kontroversi tersebut beberapa organisasi yang mengatas namakan Islam justru bergerak lebih cepat, selangkah lebih cepat dari yang lain. dengan menunjuk sendiri khalifah dibawah naungan daulah khilafah, namun dilain sisi banyak penolakan yang justru datang dari Umat Islam itu sendiri karna mereka menganggap terlalu menggampangkan pengangkatan Khalifah. Perbedaan pandangan ini bukan hal baru dan trendy, namun sudah terjadi sejak awal.

Bagaimana masyarakat kita menanggapi dan menyikapi kehadiran ISIS, yang sudah tersebar di indonesia. bahkan dibeberapa kota besar sudah dilakukan pendeklarasian secara resmi seperti di bundaran HI, diaula Kampus Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta. Beragam respon masyarakt terhadap isu ISIS yang terakhir ini menjadi trend topik, bersamaan dengan kasus gugatan pilpres di Mahkama Konstitusi (MK) oleh kubuh yang kalah dalam pemilu. Ada yang menganggap bahwa ISIS merupakan salah satu organisasi teroris yang harus segera diambil tindakan tegas dari pihak terkait, untuk menutup akses pergerakannya. Sebab pada akhirnya nanti akan mengancam eksistensi Kebhineka Tunggal Ika-an kita dan kedaulatan bangsa Indonesia. ada juga yang beraggapan bahwa ini adalah kebangkitan Islam diseluruh dunia. Negara-negara Islam yang tergabung dalam organisasi Uni Emirat Arab tidak mampu saling bahu menbahu melawan musuh bersama (Common Sense), dimana pihak Israil telah melakukan genosida kemanusiaan terhadap palestina. Dunia islam hanya bisa terdiam seribu bahasa ketika menyaksikan kebrutalan israil, membombardil ditempat tinggal warga sipil yang tak bersalah. Sehingga dukungan terhadap pembentukan Negara Islam Irak dan Suryah cukup banyak dikalangan islam yang merasa bahwa Negara islam tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan yang paling menyakitkan hati sesama Muslim ketika Mesir menutup perbatasan dan tidak mengijinkan warga Palestina berobat dirumah Sakit dan berlindung dari rudal Israil.

Konsolidasi

Sejumlah ulama, kiyai, organisasi islam, tokoh masyarakat dll, sudah mulai menyerukan bahaya organisasi ISIS yang berkedudukan di irak dan surya terhadap ancaman bangsa indonesia. bahkan majelis ulama indonesia (MUI) dan badan nasional penanggulangan teroris (BNPT) sudah mengeluarkan fatwa “Teroris” dan organisasi berbahaya. Ancaman disentegrasi yang muncul ditengah masyarakat oleh karena perbedaan pandangan, sangat krusial mengingat organisasi tersebut menggunakan jalur-jalur kekerasan untuk mencapai tujuan politik. Kita dapat dengan mudah melihat dan menyaksikan sendiri kebrutalan ISIS melalui media sosial, yang sejak awal gencar melakukan penyerangan terhadap kota-kota penting, ladang minyak, warga sipil (muslim dan non-muslim), pertahanan militer pemerintahan distrik dll.

Kekerasan dengan menggunakan nama Islam tak dapat dibenarkan jika dilakukan secara sporadis tanpa menggunakan ushul fikhi perang islam. Sebab islam sendiri pada masa-masa kenabian memiliki syarat-syarat tertentu ketika melakukan perang, bahkan warga non-muslim, perempuan, anak-anak dan laki-laki yang tidak mampu mengangkat senjata dll, justru dilindungi. Namun berbeda halnya ketika fenomena Isis mengumandangkan negara islam dan memerangi masyarakat dan pemerintahan secara brutal, tanpa memandang kaidah-kaidah yang di anjurkan islam.

Kalau kita melihat lebih jauh organisasi tersebut melalui proses pendanaan biaya perang (latihan militer, amunisi, logistik, money, kendaraan perang dll). Sangat luar biasa pesatnya, sehingga mengalahkan anggaran yang digunakan seperti organisasi seperti Alqaidah, fattah, hizbullah, hamas dll. Kitapun tertegun dengan kemajuan demi kemajuan yang dapat mereka lakukan setiap hari, dengan menguasai dan memukul mundur tentara resmi. Ternyata ISIS mendapatkan pasokan dan pendanaan dari negara Amerika Serikat, lihat saja peralatan yang mereka gunakan, peralatan tersebut made ini Amerika dan inggris.

ISIS Bidik Indonesia

Indonesia merupakan penghuni mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, sekaligus negara yang sangat plural dibandingkan dengan negara manapun. Berbagai pandangan dan aliran keagamaan telah ada sudah sejak lama dan terasimilasi dengan kebudayaan lokal masyarakat setempat, sehingga terkadang agama disebandingkan dengan ajaran keagamaan (hanya beberapa kasus saja tidak berlaku umum). Memang cukup sulit membedakan praktek keagamaan dan praktek budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Akan tetapi pada umumnya kita menganut islam moderat modernis, menerima kemajuan dari luar (barat) baik llmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan. Sehingga cara pandang keislamanan kita sangat jauh dari pola-pola ekstremis fundamental yang menghalal haramkan sesuatu. Dan tidak cenderung untuk memaksakan kehendak organisasi tertentu untuk di ikuti oleh kelompok lain, sebagai suatu keniscayaan yang harus diterima secara luas. Memang keberislaman kita cukup unik dan berbeda, kita lebih mengutamakan toleransi, pluralisme, tenggang rasa terhadap agama lain, inilah yang dinamakan islam indonesia bukan islam berwajah arab.

Sehingga sampai pada kesimpulan penulis bahwa ISIS tidak akan berkembang dengan pesat di indonesia, mengingat mayoritas islam kita berhaluan moderat. Dan menolak segala bentuk kekerasan apapun atas nama agama, terkadang sebagaian ummat menggunakan ajaran suci alquran untuk mendukung dan melegitimasi gerakan dan aktifitas di luar dari kemanusiaan terseebut. Yang dapat dilakukan warga yaitu membentengi diri dengan pemahaman keagamaan yang benar dan tidak mudah didoktrin dengan label jihad atau semacamnya, pemuda-pemudi yang rentan terhadap pemahaman baru agar nilai budaya dan pendalam kembali terhadap makna pancasila.

NKRI harga Mati titik

Sejarah Penamaan Bima


20150131_200736

Oleh: Bung Rulan

Dahulu kala masyarakat Bima hidup tentram, aman dan berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bercocok tanam di sawah dan diladang, mereka menanam berbagai biji-bijian sebagai persediaan. Selain itu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai memilih untuk menjadi nelayan atau penangkap ikan, kemudian di jual di pasar atau ditukarkan dengan barang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Corak kehidupan keseharian sangat di pengaruhi oleh ajaran yang mereka anut, seperti agama hindu dan budha. Kedua agama ini tidak diketahui kapan masuk di bima, catatan-catatan sejarah tidak menjelaskan tepatnya sejak kapan. Akan tetapi agama tersebut telah lama menjadi kepercayaan masyarakat sebelum Islam masuk menjadi kebudayaan besar.

Bima adalah nama teritorial wilayah yang di huni oleh masyarakat Mbojo yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Nama Bima sendiri di percaya datangnya dari seorang putra kerajaan jawa yang datang kebima, ia berlayar dari jawa hingga berlabuh di pulau satonda. Cerita tentang sejarah Bima tidak banyak di temukan dalam bentuk manuskrip atau tulisan, karena masyarakat kita mengenal sejarah Bima berdasarkan pada hasil cerita (Mpama) yang diceritakan secara terus menerus oleh nenek moyang dan diwariskan kepada orang tua kita. Dari cerita tersebut sebagian besar dari sejarahwan Bima menyakini cerita tersebut sebagai sejarah Bima yang asli.

Cerita tersebut terus diwariskan dan diceritakan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya, sehingga cikal bakal lahirnya kerajaan Bima berawal dari Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai lima orang putra yaitu: 1). Darmawangsa; 2). Sang Bima; 3). Sang Arjuna; 4). Sang Kuta; dan 5). Sang Dewa. Salah satu dari kelima putra raja tersebut berlayar kearah timur dan mendarat tepat di sebuah pulau yang diberi nama pulau Satonda.

Dari cerita (Mpama) yang penulis dapatkan sewaktu kecil di ceritakan oleh seorang guru. Setelah Sang Bima sampai dipulau Satonda ditengah perjalanan, tepatnya disebuah sungai Sang Bima bertemu dengan Putri Ular penunggu sungai. Kemudian dari pertemuan pertama itu akhirnya mereka menikah dan memiliki keturunan dari jenis bangsa Jin. Garis keturunan itu di kuatkan oleh beberapa catatan nama-nama keturunan Sang Bima dari jin yang ada di ASI (tempat kediaman raja sekarang sudah di alih fungsikan menjadi Museum). Selain Sang Bima bertemu dengan Putri Ular di Satonda terdapat sebuah pohon besar nan rindang dengan cabang-cabangnya yang banyak, namun pohon tersebut tidak memiliki daun. Konon Masyarakat setempat memberikan nama pohon dengan nama pohon batu, disebabkan hanya terdapat gantungan batu yang dililitkan lalu di ikat di cabang dan ranting pohon. Masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut sebagai sebuah simbol pengharapan kepada yang gaib bahwa semua permintaannya akan di kabulkan.

Masyarakat Bima yang terdiri dari beberapa wilayah kecil di yakini di pimpin oleh seorang raja yang disebut sebagai Ncuhi, ncuhi sendiri merupakan orang yang berkuasa dan menjadi pemimpin adat, secara garis besar bahwa di Bima terdapat beberapa penguasa/ncuhi yang masing-masing membagi wilayahnya kedalam lima ncuhi di antaranya yaitu; pertama Ncuhi Dara yang memiliki wilayah kekuasaan di bagian tengah Bima (Mbojo), kedua; Ncuhi Parewa yang berkuasa penuh pada wilayah Bima bagian selatan, ketiga Ncuhi Padolo yang memegang kekuasaan pada wilayah bagian barat, keempat Ncuhi banggapupa yang memiliki otoritas kekuasaan pada wilayah Bima bagian utara dan kelima; Ncuhi Dorowani yang memegang tampuk kekuasaan pada wilayah Bima bagian timur.

Struktur kekuasaan para Ncuhi masih sangat sederhana bila dibandingkan dengan struktur kekuasaan di era modern sekarang. Sehingga para ncuhi punya otoritas kekuasaan yang cukup besar atas kemaslahatan rakyatnya, para ncuhi punya peran besar terhadap aturan yang boleh dilakukan atau tidak oleh masyarakat. Walau wilayah Bima terbagi kedalam lima bagian yang dipimpin para ncuhi, kehidupan meraka aman, damai, tidak ada perselisihan. Segala macam keputusan yang menyangkut melibatkan teritorial ncuhi lain, maka akan di adakan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan proses secara bersama. Yang bertindak sebagai pemimpin rapat biasanya di dominasi oleh Ncuhi Dara, sebab ncuhi dara merupakan pusat Bima yang berada tepat di tengah-tengah kerajaan Bima.

Tepat setelah sang bima putra Maharaja Pandu Dewata datang kebimalah yang telah menyatukan kelima para ncuhi, menjadi satu kerajaan besar yang disebut sebagai Kerajaan Bima. Mulai saat itulah tanah bima (dana Mbojo) disebut sebagai sebutan”BIMA” yang berasal dari nama sang bima sebagai raja pertama, kemudian di beri gelar sebagai Sangaji Mbojo. Artinya nama Bima bukan asli di ciptakan masyarakat setempat yang memiliki nilai kearifan lokal, melainkan nama putra raja jawa yang berhasil menjadi raja pertama.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dari mana nama “Mbojo” di temukan atau sejak kapan nama ini dipakai oleh masyarakat bima. Adakah kemungkinan nama mbojo lebih dahulu ada ketika nama bima resmi menjadi nama kerajaan? Adapun kitab Bo’ Sangaji Kai adalah catatan harian yang ditulis oleh bumi luma rasanae sepanjang periode 1765-1790. Yakni pada masa awal pemerintahan sultan abdul hamid Muhammad syah. Catatan harian tersebut tidak menceritakan sejarah bima melainkan cerita tentang peristiwa, kisah, fakta yang terjadi pada masa kekuasaan sultan Abdul Hamid.

Syarifuddin Jurdi penulis buku (Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius) menjelaskan bahwa kata Mbojo mengandung makna-makna teologis keagamaan dan cultural. Mbojo mengandung makna teologi, karena kata mbojo sering dikaitkan dengan babuju yang berorientasi tinggi. Dalam terminologi agama yang tinggi merupakan orientasi religious, bahkan dalam soal lain istilah Babuju, Kabuju dan Kandase merupakan istilah religious tentu sebuah interpretasi atas makna-makna filosofis yang terkandung dalam agama. Istilah mbojo menurutnya terdapat pesan agama didalamnya, entahlah apakah pesan agama Islam, Hindu atau Budha. Sedangkan menurut penulis sendiri nama mbojo jauh sebelum islam datang kebima yang disebar luaskan oleh para datuk dari kerajaan Gowa, Tallo Dan Luwu. Setelah kerajaan bima resmi memeluk islam sebagai agama kerajaan, maka bentuk kerajaan pun berubah menjadi kesultanan. Sedangkan menurut penulis Nama Mbojo sendiri di ambil dari kata Babuju. Babuju sendiri merupakan sebuah istilah yang menggambarkan hasil panen masyarkat mbojo yang sangat banyak, penuh hingga tidak mampu di tampung lagi oleh karung.

Kata Babuju di ambil dari sebuah tempat yang ada di kota bima sekarang tepatnya di pasar tradisional kampung Sumbawa. Disana terdapat ruas tanah yang datar namun di tengahnya memiliki benjolan tanah yang menbentuk semacam bukit kecil. Disinilah kata babuju di ambil lalu di asosiasikan dengan berlimpahnya hasil panen masyarakat setiap tahun. Dari situ muncul motto bima “Ngaha Aina Ngoho” arti bebasnya makan dan jangan tebang kayu di hutan “semacam membakar hutang untuk keperluan tanam padi, kedelai, kacang dan sebagainya. Dan selanjutnya muncul pula motto bima lainnya yang menjadi panduan hidup masyarakat dimanapun ia berada. Yaitu Maja Labo Dahu (malu dan takut) mungkin dikesempatan lain penulis akan membahas khusus tentang motto ini.

Benarkah demikian adanya bahwa nama Bima berasal dari sang bima. Sang penakluk para ncuhi yang punya kekuasaan besar di bima. Inilah mengapa kemudian penulis dan sebagian besar pemuda dan mahasiswa lainnya tidak mendapatkan catatan sejarah yang komprehensif, tentang sejarah bima yang ditulis oleh nenek moyang terdahulu. Generasi sekarang mempelajari sejarah bima hanya mengandalkan cerita (Mpama) dari para tetuah yang sering mengisahkan ketika sebelum tidur. Kalau menelisik lebih jauh yang dimaksud dengan mpama (cerita) merupakan sebuah mitologi yang dibesar-besarkan dengan menambahkan ilusi agar jalannya alur cerita Nampak indah, patriot dan menegangkan. Kita banyak mengenal mitologi yang datang dari yunani, arab, skandanavia dll.

Nah kalau di atas hanyalah sebuah mpama belaka dapatkah kita mempercayainya sebagai sebuah kebenaran sejarah tanpa distorsi dan kontradiksi dimana-mana. Sebab masing-masing dari orang tua kita memiliki cerita sangat beragam pada cerita tertentu, sehingga dari desa satu maupun yang lain memiliki perbedaan cerita. Sejarah bima tentu menjadi cerita yang sangat rumit sekaligus menarik. Sebab mengetahui sejarah diri akan mengantarkan kita menjadi suatu bangsa yang besar. Sebuah bangsa yang tidak mengenal jati diri sejarahnya besar kemungkinan akan menajdi bangsa yang mengulangi kesalahan-kesalahan fatal di masa lampau dan kehilangan identitas lokal wisdom (kearifan lokal). Untuk itu generasi sekarang dituntut untuk mencari tahu sejarahnya sendiri dari berbagai literature dan penelitian yang didukung oleh Mpama para tetuah untuk mendapatkan otensitas sejarah Bima.

Ada yang menarik menurut penulis dari beberapa nama bima yang di yakini secara bersama, datangnya dari sang bima sehingga kata bima menjadi nama daerah. Sebagian kecil masyarakat bima percaya bahwa asal muasal kata bima bukan dari nama sang bima, melainkan kata bima di ambil dari kalimat Al-Quran yaitu Bismillah, yang ditafsirkan secara sederhana sebagai sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai kebudayaan islam, adat istiadat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Setelah Islam masuk di Bima dan menjadi agama mayoritas muncul berbagai aliran atau sekte dalam masyarakat seperti aliran tasawuf dll. Memang terbilang masih sedikit orang yang mengaitkan kata Bismillahirrahmanirrahim dengan sebutan nama Bima. Namun satu yang pasti bagi mereka yang percaya bahwa bahwa nama bima di ambil dari kata bismillah. Sebab sampai sekarang catatan sejarah tentang sang bima putra raja jawa juga tidak dapat dijadikan sebagai patokan sebab tidak ada catatan sejarah tertulis yang dijadikan sebagai bukti pembenar.

Masyarakat kita sangat terbatas untuk mengakses informasi sejarah bima, sebuah sejarah yagn ditutur dengan sederhana, lugas tentu terdapat nilai kebenaran yang terkandung didalamnya. Sebab sejarah adalah sebuah fakta yang telah terjadi dan tidak bisa di ubah sesuka penguasa yang ingin melebih-lebihkan kisah mereka. Bila suatu penguasa merekonstruksi sejarah perjalanan bima sama persis dengan rezim orde baru yang telah mengalihkan sejarah Indonesia. Sehingga generasi pelanjut menjadi buta sejarah. Michel Foucoult mengatakan bahwa sejarah cenderung diceritakan sesuai keinginan penguasa karena produksi pengetahuan sangat bergantung kepada siapa yang berkuasa. Untuk itu penulis mengajak kepada pembaca agar menjadi pembaca yang kritis apalagi tentang sejarang bima.

Walahu Alam Bisowad

Referensi:

Syarifuddin Jurdi, 2007, Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius, CNBS

Henri Chambert, Siti Maryam dkk, 2010, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: KPG

Samata Gowa, Minggu, 04/12/15

 

Inilah kami: Para Pemuda Progresif


20150131_200736oleh: bung rulan

“Kebutuhan kita bukan sekedar keberanian semata lebih pada pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner” Tan Malaka.

Indonesia pasca reformasi bergulir mengalami masalah yang begitu kompleks diberbagai sektor, mulai sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, layanan dasar kebutuhan masyarakat dan sebagainya. Persoalan mendasar yang di hadapi bangsa ini adalah tidak adanya niat baik atau kemauan politik (Political Will) dari Negara untuk menangani persoalan yang ada. Seolah Negara tidak hadir disetiap sendi kehidupan masyarakat, masyarakat dibiarkan untuk terus mengalami nasib buruk menghadapi perusahaan dan investor asing mengambil alih secara paksa tanah miliknya. Bahkan Negara melalui institusi resmi seperti pengadilan memenangkan gugatan dari perusahaan, untuk mengambil secara resmi tanah rakyat. Apapun alasannya tidak dapat kita terima secara nalar rasional, bahwa Negara lebih mementingkan orang-orang yang memiliki modal besar dibandingkan dengan rakyat yang tidak memiliki apa-apa. Modal (uang) selalu menjadi panglima untuk memuluskan setiap agenda dalam berbagai macam urusan, bila demikian realitasnya yang terjadi lalu bagaimana dengan mereka yang tak memilliki modal untuk membayar uang pelicin.

Eksploitasi dan penindasan terhadap kaum marjinal menjadi tontonan keseharian kita di negri ini, yang berkuasa menindas atas yang dikuasainya, penjarahan sumber daya alam (SDA) terdapat dimana-mana terutama daerah yang memiliki kandungan kekayaan alam melimpah. Kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia tak terhitung jumlahnya, potensi tersebut disediakan oleh alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Akan tetapi kekayaan alam bukannya malah memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi rakyat lapis bawah, akan tetapi justru menjadi bencana besar bagi mereka. Masuknya investor asing membuka lahan pertambangan di sekitar daerah pemukiman warga, untuk mengelolah sumber daya alam (SDA). Kerusakan ekosistem alam akibat tambang menimbulkan bencana dan erosi yang menimpa manusia, alam tidak lagi bersahabat dengan manusia akan tetapi alam justru murka dengan tingkah laku manusia yang eksploitatif sehingga bencana muncul kapan saja dana dimana saja.

Masih segar dalam ingatan kita kasus yang baru-baru ini terjadi di lumajang, dimana seorang aktifis kontra tambang dipukul, diseret dan dibunuh depan umum tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Salim kancil adalah sosok aktifis yang teguh terhadap komitmen untuk menolak tambang pasir dilumajang yang berujung pada pembunuhan oleh suruhan dari kepala desa selor awar-awar. Tambang selalu menjadi momok yang sangat menakutkan, bukan hanya wajahnya saja yang menakutkan tetapi dampak yang ditimbulkan teramat besar bagi warga. Namun bila melihat Negara kita lebih memposisikan diri pada barisan tambang, mendukung dan mempermudah perizinan dalam mengksploitasi alam sebesar-besarnya. Negara tidak lagi memberikan rasa aman, tentram dan kesejahteraan bagi rakyat, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang dasar kita.

  • Peran Intelektual Muda

Berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncangkan dunia, pekikan orasi bung karno menjadi inspirasi gerakan pemuda Indonesia dawasa ini. Sepuluh pemuda yang mempunyai spirit perubahan bagi soekarno dapat menggerakan dunia ini, pemuda yang memiliki inovasi dan kreatifitas semangat membangun bangsa sangat menggebu-gebu, entah itu melalui propaganda ke masyarakat dengan harapan mereka tersadarkan atau dengan cara-cara revolusioner progresif. Semangat perubahan untuk mewujudkan suatu bangsa dengan tatanan kehidupan berkeadilan adalah cita-cita luhur, yang pantas diperjuangkan .

Pemuda memiliki gagasan dan ideologi yang tegak seperti tiang bendera, tahan banting dan tidak mudah roboh oleh hempasan angin pragmatisme. Kita tidak bisa menaruh harapan besar bagi perubahan mendasar negri ini, apabila golongan tua yang konservatif masih memegang kendali kekuasaan. Kalangan tua tidak progresif baik secara gagasan maupun secara tindakan, banyak pertimbangn politis yang muncul bila memutuskan persoalan tentang rakyat.

Rakyat hanya dijadikan sebagai komoditi politik, untuk mendapatkan kekuasaan. Jargon memberantas kemiskinan, ganyang koruptor, kesehatan gratis dan sebagainya menjadi jualan politik yang laris manis, ditengah kehidupan semakin menyempit. Sekali lagi kita tidak bisa memberikan kepercayaan kepada mereka golongan tua untuk merubah tatanan bangsa yang sedang karut marut. Sikap politiknya sering menggunakan standar ganda, yang penting dapat menguntungkan bagi dirinya sendiri dan partai politik. Jangankan rakyat konstituennya bahkan negarapun dapat mereka jual ke asing, tumbuh suburnya perusahaan asing di Indonesia merupakan bukti bahwa mereka tidak becus mengurus negeri ini.

Disinilah peran penting pemuda untuk mengambil alih agenda perubahan sosial yang menjadi cita-cita bersama. Tranformasi perubahan masyarakat sangat penting di perjuangkan, dimana kondisi rakyat sangat memprihatikan yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Akibat sistem liberal dijadikan sebagai sistem dalam Negara, hanya kaum kapitalis yang menguasai sebagian besar hajat hidup orang banyak.

Semangat pemuda yang lahir dari dasar jiwa dan pikiran, tak akan mudah digoyahkan dengan senapan serdadu, bom Molotov, busur, pentungan, watter cannon dan gas air mata. Militer dan kepolisian selalu menjadi alat penguasa untuk menindas, memukul dan menyeret ke sel tahanan. Akan tetapi dalam diri pemuda terdapat gelora semangat berapi-api, bahkan air pun tak dapat memadamkan api semangat pemuda. Karena hanya pada kebenaran dan keadilan lah mereka berkiblat dan tujuan menciptakan suatu konstelasi masyarakat sivil society dan demokratis.

Ada banyak anak-anak muda yang memiliki gagasan-gagasan besar namun tidak semua dari mereka yang revolusioner progresif baik dari gagasan maupun tindakan. Sebab mengambil sikap Revolusioner memiliki konsekuensi besar dinegri ini, yang dihuni sebagian besar dari kalangan konservatif yang menghendaki perubahan dengan gaya yang teramat lambat dan cenderung alot. Akan tetapi mereka yang punya nyali besar, mempertaruhkan segalanya bagi perubahan Indonesia menghendaki agar segera merubah konstelasi dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ke-arah yang lebih santun dan demokrasi.

Meminjam istilah Antonio Gramsci apa yang disebutnya sebagai intelektual organik-lah yang mampu merubah realitas masyarakat ke-arah yang lebih manusiawi ketimbang hidup dibawah kaki rezim yang manut-manut pada asing. Selaras dengan Rausyan-Fiqr Ali Syariati yaitu hanya mereka-mereka yang tercerahkan yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik lagi. Yaitu mereka-mereka orang pilihan yang selalu bersama-sama rakyat mengawal, mengadvokasi dan memberikan pendidikan politik, orang pilihan tidaklah mayoritas melainkan minoritas. Akan tetapi mereka mampu memainkan peran strategis dalam mensetting agenda perubahan sosial yang transformative.

Bukanlah kepada mereka (Intelektual Tradisional) yang sibuk merumuskan teori dan berada persis di atas menara gading, bahkan mereka cenderung menjadi alat penguasa melegitimasi kekuasaan dengan pengatahuan (relasi kuasa dan pengatahuan). Sehingga semakin mengokohkan eksistensi kekuasaan, penguasa membutuhkan para aktor intelektual sebagai penyangga jalannya kekuasaan agar tidak mudah digerogoti dan dilengserkan begitu saja oleh lawan politik (oposisi) untuk dilengserkan. Negara kita pernah merasakan kondisi seperti ini, ketika kekuasaan di pegang kendali oleh Soeharto selama 32 tahun lamanya.

Bangsa ini tidak akan maju bila masih dipegang kendali oleh kalangan tua dengan paradigma kolot (konservatif), yang cenderung menggunakan teori pembangunan ala Rostow bagi pembangunan Indonesia. Dalam sekejap saja bangsa kita menjadi bangsa penghutang, terlilit dalam pukat harimau IMF dan Word Bank. Kalau sudah demikian adanya, maka bisa jadi Negara kita akan dijual ke asing.

Hanya kepada pemudalah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi macan asia. Disegani oleh Negara-negara tetangga karena dalam visi misi pemuda terkandung bara api perubahan yang menggelora.

  • Merumuskan Kembali Gerakan Pemuda

Hampir disetiap perubahan gerak sejarah perjalanan bangsa Indonesia mulai di masa awal-awal pra-kemerdekaan 1908 para pemuda membangun organisasi boedi utomo di stovia. Organisasi ini merupakan cikal bakal lahirnya semangat Negara bangsa (nasional state). Kemudian pada tahun 1928 sumpah pemuda mereka bersepakat untuk menyatakan bahwa kita adalah Indonesia yang satu, walau memiliki banyak perbedaan. Kemudian berlanjut di tahun 1965 pergantian rezim, sampai reformasi ditahun 1998 merupakan buah dari kerja keras anak-anak muda yang gandrung terhadap perubahan.

Mereka banyak belajar dari gerakan perlawanan di berbagai Negara yang sedang melakukan revolusi sosial. Di iran ada Imam Khoimeni, Fidel Castro di cuba, Mao Zedong di cina, Che Guevara dan banyak figur-figur lainnya yang dijadikan sebagai model perlawanan. Tak bisa disangkal lagi peran-peran strategis yang di mainkan pemuda memberikan kontribusi baik pikiran maupun tindakan atas bangsa kita. Pemuda merupakan lokomotif bagi terjadinya perubahan, mereka adalah wadah bagi ide revolusioner.

Dulu kita masih menyaksikan bagaimana pemuda mampu bersatu dan memobilisasi massa untuk bergerak menumbangkan rezim otoriter-totaliter, yang berkuasa selama 32 tahun lamanya. Mereka beramai-ramai menduduki gedung parlemen berhari-hari dan memaksa Soeharto turun dari tahta kekuasaan yang didukung penuh militer. Apa yang membuat gerakan pemuda pada masa itu dapat secara bersama-sama bergerak seolah ada komando dari pimpinan mengharuskan untuk turun. Melainkan mereka sadar bahwa kekuasaan yang represif, menindas rakyat adalah kekuasaan yang semena-mena dan harus ditumbangkan dan menyeret para kroni-kroninya ke pengadilan rakyat.

Namun di akhir-akhir dasawarsa ini justru gerakan pemuda mengalami penurunan drastis, entah itu karena persoalan bahwa mereka tidak lagi memiliki gagasan besar seperti para pendahulu kita ataukah gerakan pemuda telah dikucilkan, diremehkan dan lecehkan karena menghamba pada kekuasaan. Namun tak sedikit juga dari mereka yang tetap komitmen membangun kesadaran pak tani, buruh, nelayan dan kaum miskin kota dengan memberikan pemahaman ekonomi politik Marxian sehingga mereka dapat membangun aliansi perlawanan terhadap rezim.

Kaum tertindas adalah wadah bagi kalangan pemuda untuk tetap mengobarkan api semangat perlawanan dan buruh sebagai pemantik. Sudah saatnya untuk bergerak, bergerilyah keladang-ladang, di sawah, dilaut, digunung dan sebagainya untuk merangkul semua memberikan pendidikan politik dan mengajarkan tentang cara membangun organisasi yang rapi tahan terhadap intervensi luar yang kadang ingin membubarkan. Setelah mereka di ajarkan dengan baik, pemuda tidak boleh meninggalkan mereka untuk berjuang melainkan pemuda harus bersama-sama rakyat membangun semangat perlawan kepada rezim yagn cenderung fasis.

Kelemahan gerakan pemuda dan mahasiswa dewasa ini, yaitu dengan berjuang sendiri-sendiri. Mengangkat bendera masing-masing walau kita tahu bahwa musuhnya adalah sama, egosentrisme organisasi terkadang muncul disaat yang tidak tepat sehingga gerakan mahasiswa terkooptasi oleh orang-orang yang menghendaki gerakan tersebut layu hingga akhirnya mati.

Munculnya organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi non-pemerintahan (Ornop) serikat buruh dan aliansi gerakan lainnya tumbuh subur bak jamur dimusim hujan. Tumbuhnya lembaga-lembaga tersebut tidak meniscayakan gerakan perlawanan mendapatkan tempat yang layak bagi kalangan publik, justru semakin memperkecil massa aksi dengan adanya berbagai macam organisasi dan aliansi lainnya. Sehingga daya gedor perlawanan kian melemah, maka pihak keamanan baik polisi, militer maupun para preman dengan mudah membubarkan secara paksa aksi-aksi yang digelar.

Kita harus mampu mengevaluasi kembali gerakan selama ini, mengapa kemudia selalu mudah di pecahkan konsentrasinya kedalam berbagai fragmen gerakan. melakukan otokritik terhadap manazemen aksi mencari tahu dimana letak-letak kelemahannya, sehingga dapat dirumuskan kembali model gerakan seperti apa yang tepat dan strategis untuk di pakai. Inilah tugas berat kita bersama dan bila tidak segera dipikirkan maka besar kemungkinan akan mengalami nasib yang sama seperti gerakan perlawanan lainnya yang mudah di pecahkan. Membagun gerakan radikal, militan dan kritis tentu harus melalui pendidikan politik yang membebaskan.

 

Menyoal Aturan Hate Speech


20150131_200736Oleh: Ruslan

Mahasiswa Ilmu Politik UIN Aluddin dan Ketua Bidang PTKP HMI Komisariat Ushuluddin Filsafat Dan Politik

Baru-baru ini kita dikagetkan dengan sebuah surat yang dikeluarkan Kepala Polisi Jendral Badrodin Haiti terkait ujaran kebencian (hate speech) di ruang publik. Melalui Surat Edaran Nomor SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian atau hate speech, kepolisian ingin menindak siapa saja yang memanfaatkan media massa untuk menggunakan bahasa atau ujaran penghinaan kepada individu, lembaga negara (presiden) anggota dewan dan seterusnya, akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku. Memang tak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya ruang kebebasan bagi warga masyarakat untuk bebas menyampaikan pendapat dimuka umum, khususnya di media sosial (medsos) cenderung menggunakan bahasa yang tidak sedap didengar oleh objek yang menjadi bahan pembicaraannya. Sehingga kerap kali masalah tersebut berujung di meja hijau karena di anggap melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik seseorang. Sudah selayaknya para pengguna medsos memanfaatkan media sebaik mungkin dan menghindari efek negative yang dtimbulkan, karena selain menyakitkan orang yang dituju pernyataan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai adat istiadat ketimuran yang kita miliki.

Kategori ucapan kebencian di antaranya adalah penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan, dan penyebaran berita bohong. Yang tentunya akan berujung pada konflik SARA. Sudah banyak kasus yang membuktikan bahwa penghasutan, provokasi dan penyebaran berita bohong telah melahirkan konflik etnis di negri ini. Konflik di Tolikara (Papua) dan Aceh Singkil (Aceh) merupakan konflik yang ditimbulkan oleh persoalan hasutan dari kelompok yang satu ditujukan kepada kelompok yang lain, sehingga perang antar etnis dan desa kerap kali terjadi.

Kemungkinan Penyalahgunaan

Akan tetapi surat edaran tersebut dapat saja disalahgunakan oleh pihak aparat penegak hukum untuk membungkam suara kritis masyarakat terhadap pemerintah, karena kritikan di anggap sebagai tindakan provokasi dan penghasutan untuk menciderai lembaga Negara. Kalau sudah terjadi demikian maka suara kritikan dari masyarakat lapis bawah termasuk organisasi kemahasiswaan dan serikat buruh yang sering melakukan aksi demonstrasi di jalan-jalan di anggap sebagai penghinaan. Sehingga memudahkan aparat Negara untuk menciduk dan menangkap mereka, melalui legitimasi surat edaran tersebut.

Apalagi Negara kita pernah mengalami masa-masa kelam di zaman orde baru (Orba), kekuasaan yang disokong oleh militerisme menciptakan pemerintahan yang diktator dibawah kekuasaan rezim soeharto yang berkuasa selama 32 tahun lamanya. Rakyat tidak berani untuk berbicara secara bebas untuk mengkritik pemerintahan yang semena-mena, karena kritik di anggap sebagai suatu barang yang ditakuti sehingga penguasa menciptakan teror bagi mereka yang berani berbicara. Demokrasi pancasila hanya dijadikan sebagai simbol-simbol semata dan seolah kitab suci yang tidak boleh dikritik. Akan tetapi kendati demikian adanya para aktifis 1998 tetap melancarkan aksi-aksi protesnya ditengah keseweng-wenangan rezim orba.

Kita tidak ingin terjadi hal demikian di zaman reformasi yang telah kita raih secara bersama, bahkan perjuangan untuk mendapatkan ruang kebebasan berbicara di muka umum telah memakan korban yang begitu banyak. Dimana para aktifis diculik bahkan sampai sekarang kita tidak tahu dimana keberadaannya, Wiji Thukul adalah contoh dari sekian banyak aktifis yang tidak diketahui dimana rimbanya. Lalu dimana relevansi surat edaran tersebut bagi kebebasan berbicara, kalau kritikan sudah di anggap sebagai tindakan provokasi. Sudah saatnya kita harus menghargai para pahlawan reformasi yang telah berjuang dengan darah dan air mata. Dengan cara memberikan ruang kepada masyarakat dan mahasiswa untuk bersuara menyampaikan pendapatnya dimuka umum tanpa harus dicurigai. Sebab baik dan tidaknya pelaksanaan tata kelolah pemerintahan, sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam menyampaikan masukan dan kritikan yang konstruktif dan ini akan mencitpakan pemerintahan yang baik dan bersih (good goverment and good governance).

Kita memang tidak sepakat bila seseorang menggunakan bahasa yang menghina bahkan menjatuhkan martabat orang lain melalui kebebasan berbicara, bahkan kita cenderung mendukung terciptanya hal demikian. Mengingat ujaran penghinaan semakin banyak dan terlampau bebas sehingga memang dituntut adanya mekanisme aturan yang jelas yang mengatur masalah ini. Oleh karena itu aparat kepolisian harus jeli melihat dan menindak seseorang atau kelompok mana yang menggunakan hate speech, jangan sampai dengan aturan tersebut salah digunakan untuk menangkap mereka yang berani mengkritik. Antara kritikan dan penghinaan harus ada tapal batas yang jelas sehingga di kemudian hari tidak terjadi tumpang tindih dan salah tangkap. Terlebih-lebih aparat kepolisian harus diberikan bekal pemahaman untuk dapat membedakan yang mana ekspresi kebebasan dan ujaran kebencian.