Tolak Pertambangan Emas Di Bima


hqdefault

Oleh: Bung Rulan

Dominasi negara kapitalis (Amerika serikat rongsokan) dalam eksploitasi sumber daya alam di berbagai belahan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar bagi kebutuhannya dalam industry rekayasa dunia yang rakus akan minyak dan hasil tambang lainnya exxon mobil, cefron, newmont dll, memiliki andil yang cukup besar dalam hal ini. Ini terbukti dengan di kuasainya beberapa negara Arab yang mempunyai pasokan minyak terbesar di dunia, Amerika dengan dalil tugas untuk memberantas teroris dengan leluasa membuat undang-undang dan membentuk kroni-kroninya yang tidak jelas untuk melegimitasi ekspansinya di negara piramid tersebut, penjahat dunia atau musuh bersama (teroris) yang di gembar gemborkan oleh negara adikuasa tersebut hanya di jadikan sebagai platfron untuk bisa merebut ladang minyak. Usaha negara kapitalis untuk menggerogoti seluruh kekayaan alam yang ada dunia sangat besar sekali mengingat kebutuhan akan minyaknya mencapai 25% perhari dari minyak dunia angka ini sangat jauh sekali dengan penggunaan minyak di indonesia yang hanya membutuhkan 8% dari minyak dunia. ( marwan batubara,dkk,tragedi dan ironi, blok cepu)
Sanagat jelas sekali kenapa negara kapitalis Amerika tersebut merebut dan mencari lahan minyak dan tambang ? pertanyaan ini tidak perlu penulis jawab karena saya percaya bahwa rekan-rekan mahasiswa (kaum intelektual muda) bisa menjawabnya dengan kritis mengenai persoalan ini. Akhir-akhir ini kasus demi kasus terjadi mulai dari tindakan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) mosi ketidak percayaan terhadap persiden oleh masyarakat dan berbagai macam elemen organisasi massa karena berbagai macam kebijakannya yang hanya beroreantasi pada pejabat, konflik agama maupun etnis terus saja bergulir serta pemberian wewenang kepada pihak investor asing untuk menanamkan modalnya di indonesia seluas–luasnya untuk mengesploitasi sumber daya alam dengan di keluarkanyan undang-undang nomor 1 tahun 1967. Tentang penanaman modal asing di indonesia. Di sini pemerintah dengan sikap legowo (jiwa_red) terhadap asing untuk mengeksploitasi seluas-luasnya dengan berbagai macam dalil dan alasan supaya cepat di gol kan proyek tersebut. Maklum kantong-kantong para pejabat mulai menipis dan akhirnya segala usaha di lakukan untuk antisipasi di kemudian harinya nanti agar tidak menjadi orang yang melarat, aneh bin ajaib memang di saat-saat negara mengalami krisis yang berkepanjangan di saat itu pula para penguasa memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi, kasihan nasib wong cilik pak.
Para kapitalis terus dan terus saja mencari kekayaan alam yang di miliki bangsa indonesia yang berpotensi cukup besar untuk keperluan negara industri terbesar di dunia ini. Bima merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam hutan yang lebat dan pepohonan yang rindang banyaknya dan keanekaragaman sumber daya alam lainnya. Tidak kalah jauh dengan daerah sumbawa yang memiliki kandungan emas di dalamnya, bima merupakan daerah agraris penghasil gandum terbesar di daerah NTB, masyarakat yang berada di bima sebagian besar mencari nafkah dengan hasil panennya yang tiap 3x setahun yang berlimpah ruah, dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa masyarakat bima menyekolahkan anak-anaknya di berbagai daerah dan ibu kota besar jakarta karena mereka yakin dengan hasil panen padi saja bisa di akomodir semua kebutuhannya.
Pemerintah selaku instrument negara tentunya sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan berhak menata dan memajukan negara untuk bersaing dengan beberapa negara teetengga yang sudah jauh majunya dari indonesia seperti malasyia, Brunei Darusalam dan negara lainnya yang mengupayakan sumber daya alam dan sumber daya manusia bisa di operasikan dengan semaksimal mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan negara. Dan seluruh masyarakat sudah menjadi kewajiban untuk ikut serta berpartisipasi dalam mensukseskan program pemerintah negara maupun daerah agar terjadi keseimbangan antara yang memerintah dan yang di perintah supaya terwujud negara yang damai dan sejahtera seperti yang di cita-citakan oleh para founding father kita dahulu.
Kebijakan pemerintah untuk masuknya investor asing di bima agar mengeksploitasi dan menjarah seluruh kekayaan alam yang ada di bima merupakan kebijakan dan peraturan yang salah kaprah dan harus di tanjau ulang mengingat daerah bima daerah agraris yang hanya cocok dengan lahan pertanian, kelautan dan peternakan. Kalau kita beralih ke pertambangan emas maka hasil pertanian, kelautan dan peternakan akan mengalami penurunan penghasilan yang sangat drastis karena hancurnya lahan akibat limbah sisa pertambangan, rusaknya ekosisstem alam, banjir, erosi dan longsor, menjadi momok yang sangat menakutkan yang siap menerka masyarakat kapan saja dan dimana saja. Dampak kerusakan pertambangan sangat besar sekali coba kita lirik salah satu kota di jawa yang mengeluarkan semburan lahar lumpur akibat perusahaan pertambangan lapindo yang menggenangi tempat tinggal warga yang sampai sekarang ini belum ada ujungnya sehingga warga yang di rugikan dan pindah ke tempat yang nyaman di jadikan sebagai hunian. Masuknya pertambangan di bima merupakan suatu perampasan hak secara besar-besaran yang di lakukan oleh perusaahaan asing, alam seharusnya di kelolah di kemudian hari nanti setelah semuanya sudah benar-benar siap untuk di eksploitasi demi kepentingan bangsa dan negara.
Penulis yang terlibat dalam berbagai kajian dan aksi penolakan masuknya pertambangan di bima khusunya di parado, langudu, sape yang sampai hari ini masih bergulir dengan di bawah tekanan represif dari oknum kepolisian daerah kabupaten bima yang beberapa terakhir ini pihak kepolisian melakukan penembakan secara brutal kearah warga sehingga belasan masyarakat luka-luka akibat kesambat peluru panas dari oknum kepolisian, pengejaran terhadap masyarakat dan mahasiswa yang kritis dalam menolak masuknya pertambangan terus terjadi sehingga beberapa di antaranya di tahan dan bersembunyi di lereng-lereng gunung dan sawah menghindari pengejaran dan penangkapan yang di lakukan okleh oknum kepolisian. Gelombang aksi parlemen jalanan sampai aksi pembakaran lokasi dan alat-alat berat yang di lakukan oleh masyarakat merupakan akumulasi kekecewaan warga terhadap aktifitas pertambangan yang akan merusak seluruh alam, lahan pertanian yang akan ditimpah limbah organik yang beracun dan warga terancam diserang penyakit aneh dan gas beracun dari asap pabrik yang menggelembung. Penulis rasa sudah sewajarnya warga melakukan pembakaran lokasi pertambangan, kantor kapolres dan pemblokiran kantor camat.
Info terakhir bahwa ada 12 korban penembakan brutal oleh oknum kepolisian dan diantarannya warga parado rato bernama ahmad terkena tembakan timah panas tepat dibagian kakinya dan di larikan rumah sakit umum bima untuk pengobatan lebih lanjut, peluruh yang tertancam dalam dan merusak bagian urat sarafya sehingga rumah sakit bima kewalahan untuk mmemberikan pertolongan dan kemudian korban di obatin lebih lanjut di rumah sakit umum mataram dan sampai akhirnya kaki yang terkena tembakan timah panas oleh oknum kepolisian dan tidak bisa tertolong hinggan akhirnya kaki yang terkena peluru tajam di amputasi.
Perbuatan ini tidak bisa di biarkan begitu saja karna kejadian tersebut sudah melanggar hak asasi manusia, sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk berekpresi dan mengeluarkan pendapat yang di legitimasi olehundang-undang sudah sepantasnya memperjuangkan haknya.
Maka dari itu kkita sebagai masyarakat intelektual dan kemudian melakukan perbaikan sosial apabilah mahasiswa diberikan tugas dan tanggung jaawab sebagai agent of change, sosial of chontrol dan moral of force tidak tergugah hatinya untuk ikut serta bergabung dalam aliansi mahasiswa bima makassar menolak masuknya pertambangan di bimakan dipertanyakan eksistensinya sebagai, menurut cerita-erita dibuku dan doktrin dari senior bahwa ternyata pada jaman orde lama dan orde baru tumbang tidak lain dan tidak bukan merupakan mahasiswa sebagai penggerak dan pelopor peristiwa akbar yang tidak pernah hilang dalam ingatan bangsa indonesia sebagai peristiwa yang bersejarah. Inilah catatan penting yang harus di ingat dan harus dilestarikan oleh generasi sekarang sejarah harus terus di ulang agara tidak lupa oleh generasi selanjutnya, siapa lagi kalau buikan kita kalaupun hari ini kita tidak bisa mengukir sejarah dengan tintah emas kama mari kita coba mengukir sejarah dengan tinta darah sekalipun kalau itu mengaharuskan kita untuk mengahirinya sebagai sejarah yang akan di ingat dan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.
Lebih baik mati daripada tunduk pada kemunafikan (soe hok gie).
Hidup mahasiswa …….
Hidup rakyat………….
Hidup kaum proletar………

Ini tulisanku yang pertama kali di awal masuk kampus.

Arti Penting Kebebasan Bagi Umat Manusia


imagesghf Oleh; Ruslan

 Beberapa hari yang lalu di suatu sela-sela diskusi tentang isu harga bahan bakar minyak, di kabarkan akan segera di naikan oleh pemerintah di bulan mei ini oleh karena pemanfaatan dana subsidi BBM tidak memenuhi sasaran yang tepat. melainkan di manfaatkan oleh sebagian besar perusahaan swasta, sehingga negara ikut dirugikan miliyaran rupiah dengan adanya subsidi BBM yang tidak memenuhi sasaran tersebut. Belum lagi ditambah dengan masalah penundaan ujian nasional di beberapa wilayah karena terkendala pendistribusian lembar ujian nasional terkendala dan perusahaan pemenang tender tidak secara serius menghasilkan kualitas kertas dan jumlah kertasnyapun ikut bermasalah. sehingga sebagian dari sekolah-sekolah tidak mendapatkan lembar ujian secara merata, hingga akhirnya para guru sepakat untuk menggandakan (copy) soal tersebut dll.

Terlintas dalam benakku arti penting kebebasan manusia laluaku mengajukan pertanyaan tentang apa itu Kebebasan kepada teman-teman? Dan jawaban dari mereka begitu beragam untuk menjelaskan tentang kebebasan tersebut. Adapun keragaman dari jawaban tersebut tak terlepas dari pengetahuan dan referensi yang mereka gunakan, karena berbeda kepala berbeda pula pendapatnya ada yang menggunakan referensi buku, pemikiran tokoh bahkan berdasarkan pada pengelaman sendiri dengan membahasakan dengan gaya dan karakter individu tersebut. Ada yang mendefinisikan kebebasan sebagai ke tak terpenjaraan diri dari belenggu orang lain, yang selalu memonitor kita. Bebas merupakan keadaan dimana orang lain tidak bisa mengintervensi diri, melalui penjajahan secara fisik maupun penjajahan secara ideologi. Ada juga yang mengatakan kebebasan adalah bebas sebebas-bebasnya, bebas mau melakukan apa saja yang di kehendaki tanpa ada yang melarang. Sementara penulis sendiri mendefinisikan kebebasan yaitu kondisi dimana manusia bisa berekspresi sebebas-bebasnya melalui sarana dan tunduk terhadap hukum yang berlaku.

Artinya kebebasan itu merupakan hal yang paling fundamental yang dimiliki oleh manusia, karena jika saja seandainya kebebasan kita di ambil oleh orang lain. maka hidupnya sama seperti burung merpati yang di sangkar depan rumah sebagai hiasan belaka. Walau kelihatan indah oleh pemilik rumah, akan tetapi burung merpati tak bisa terbang kesana kemari seperti segerombolan burung yang lainnya berkicau kesana kemari dan hinggap di pepohonan untuk mencari buah, biji-bijian dan bahkan ulat-ulat yang bertengker di pohon. Karena tak memiliki kebebasan. Sama halnya seperti manusia yang di eksekusi hukuman penjara selama waktu tertentu dan mendekap bertahun-tahun di penjara. Menunggu nasib kapan hari kebebasan itu datang menjadi malaikat baginya. untuk keluar dari ruangan sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok berdiameter kira-kira 5 kali 6 meter bahkan dalam satu ruangan bisa ditempati 7 samapi 8 orang. Suatu ruangan yang sangat sempit untuk manusia berinteraksi dengan lingkungan. Segala aktifitasnya semua dibatasi. mulai waktu tidur, makan, bangun tidur, bekerja, ibadah, olahraga, istrahat dll semua diatur secara ketat melalui mekanisme LAPAS yang berlaku.

Ternyata kebebasan itu sangatlah penting bagi umat manusia bahkan hewan maupun binatang sekalipun. karena perlu kita ketahui bahwa kebebasan merupakan hak kita yang di bawah sejak lahir supaya di pergunakan semasa hidup di dunia ini. Coba kita bayangkan jika seandainya kita di kerangkeng atau di masukan kedalam penjara, mungkin bisa dipastikan kita akan merasakan hal yang sama seperti narapidana yang mejalani masa hukumannya. Dimana ruang-ruang kebebasan benar-benar di rampas, dan tak ada lagi aktifitas yang bisa kita lakukan seperti kebiasaan individu tersebut, misalnya jalan-jalan kesuatu tempat yang sangat sejuk dan tentram sekedar menghilangkan penat yang ada selama masa kerja yang sibuk dengan hal-hal yang berbau kantor, tidak ada lagi kunjungan kerumah kerabat lama, tidak lagi menikmati indahnya malam minggu bagi muda-mudi yang masih tahap pencarian dan proses memilih dam memilah dan aktifitas lainnya semua serba di batasi oleh tembok berculang tinggi menukik langit-langit yang seakan melihat, menertawai lalu mengencingimu tanpa ampun. Betapa sialnya kala mendekap masuk dalam tahanan seperti babi dalam kandang tak bisa lari kesan-kemari.

Apakah teman-teman masih ingat sejarah tahanan politik (tapol) rezim soeharto di pulau buruh, mereka ditahan tanpa diadili puluhan tahun akibat dituduh sebagai anggota PKI, melakukan aktifitas politik di luar golongan karya, bahkan orang-orang di carikan alibinya untuk di tahan dan di siksa di pulau buruh. Salah seorang yang menceritakan kisahnya ketika diasingkan ke pulau buruh yaitu seorang penulis novel tetralogi pulau buruh Pramodiya annanta toer. Ia menceritakan kisahnya kala di tahan beserta kawan-kawannya yang lain, disana ia mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi sama sekali.

Bagaimana dengan kita sekarang, apakah kita masih memiliki kebebasan? Apakah kita sudah menggunakan kebebasan? Kapan dan dimana kebebasan itu ada dalam diri kita? Seperti apakah bentuk kebebasan itu? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang akan muncul dalam benak kita terkait kebebasan.

Penulis sendiri menyadari kebebasan itu harus kita gunakan dan dimanfaatkan sebagai mana mestinya. Yang perlu sekali kita ajukan pertanyaan dalam diri kita masing-masing sebagai bahan evaluasi diri (hadap diri). apakah di fakultas, kita merasakan kebebasan tersebut sebagai wujud penghargaan terhadap eksistensi manusia yang harus di hormati secara bersama-sama. Berangkat dari perangkat aturan yang mencoba untuk mengukung (kerangkeng) ruang kebebasan kita sebagai mahasiswa yang bisa berpikir secara bebas, dengan adanya beberapa point penting aturan yang di keluarkan oleh birokrasi fakultas melarang untuk ini dan itu (saya kira teman-teman paham maksud saya) itu suatu wujud memenjarakan kita sebagai mahasiswa yang ingin berekspresi. akan tetapi kita seolah tidak menyadari bahwa itu merupakan penjajahan secara nyata (penjajahan non-fisik) akan tetapi kita hanya diam, diam dan terdiam membisu seribu bahasa tanpa berani untuk berkata-kata walau hanya sekedar mengatakan stop. Kami tidak mengingingkan lagi adanya pembodohan atas kami, karna kami bukan orang bodoh dan badut-badut kampus yang hanya bisa mengatakan ya, ya dan ya pada kalian.

Sudah terlalu lama kita diam membisu tanpa protes, protes terhadap kesewenangan dan keangkuhanmu selama ini. Cukup, kami akan datang sebagai anak yang keluar dari penjara itu, penjara pikiran yang selama ini menipu bahkan menginjak-injak harga diri kami. Kami bukanlah ahli protes tapi kami terpaksa untuk protes karena keadaan yang memaksa untuk bertindak secara cerdas.Selama ini kami tidak menyadari, bahwa telah terjadi pembodohan secara besar-besaran. Setelah melakukan evaluasi secara besar-besaran atas diri masing-masing ternyata saya menemukan bahwa kebebasan kami di ambil dan di rampas begitu saja tanpa sedikitpun ruang tersebut di sisakan.

Masihkan kita berpikir bahwa kita memiliki kebebasan, kebebasan secara kodrati di berikan oleh tuhan yang maha esa seluruh ummat manusiauntuk di manfaatkan sehingga mendapatkan hak kita sebagai mahasiswa. Jika seandainya kita menyadari bahwa kebebasan itu telah di ambil, mengapa kemudian kita tidak mengambilnya kembali, bukankah kebebasan itu milik kita yang di ambil. Kalau mau jadi manusia jangan biarkan milik kita yang sangat berharga dicuri, maka wajib hukumnya untuk kita pertahankan walau dengan cara apapun.

Samata 18-april-2013

 

Politik dan Anomali


index

Oleh: Bung Rulan

Berbicara tentang politik, sudah menjadi makanan keseharian masyarakat kita pada umumnya. Sebab tak ada satu pun bahasan yang keluar dari lingkungan politik, mulai dari sektor hukum, sosial politik, ekonomi, budaya, teknologi dll. Memang politik cukup menarik banyak orang untuk mendalami, meresapi dan melakukannya. Betapa tidak, kekuasaan yang ditawarkan dalam kehidupan untuk meraih hasrat sangat menggiurkan sehingga tak jarang kita menjumpai oknum memanfaatkan anggaran fantastik hanya untuk memenangkan kursi kekuasaan. Inilah yang membuat image politik di tengah masyarakat menjadi buruk dan berprasangkat menjadi-jadi

Jika kita perhatikan masyarakat pada umumnya membericarakan tentang politik di warung-warung kopi, gazebo, tampat berkumpul (nongkrong) posko dll. Pernah suatu ketika seorang dosen memberitahukan kepada penulis tentang politik di sela-sela perkuliahan, dia menyatakan, jika ingin belajar politik datangilah warkop-warkop yang ada di sekitar-kita. Karna disitulah berkumpul para pejabat, pengusaha, aktivis, lsm, akademisi dll. Mereka terkadang mengupas perpolitika yang sedang berkembang, mulai dari politik lokal (caleg, cawakot, cagub) sampai politik nasional (pilpres). Beragam tema-tema umum yang dikupas sehingga kita mendapatkan pendidikan politik secara langsung dari para praktisi maupun akademisi yang menggeluti bidang tersebut. Pendidikan politik (education of politik) tidak hanya di dapat melalui proses perkuliahan secara formal, melainkan di warung kopipun kita bisa mendapatkannya.

Masyarakat kita pada umumnya melek terhadap politik, sehingga tak jarang mereka mengetahui permasalahan kebangsaan yang menggurita bak jamur di musim hujan. Kasus-kasus korupsi (Blbi, Centuri, Wisma atlet, impor daging sapi, mafia pajak, simultor sim dll) yang menghabiskan uang negara melalui proyek-proyek yang di sah kan oleh anggota DPR hanya di makan secara rame-rame (berjama’ah) oleh mereka sendiri dengan berbagai modus untuk menipu masyarakat. terkadang pemenang tender adalah perusahan milik mereka pribadi dan perusahaan yang bisa di ajak kooperatif (suap menyuap).

Fenomena seperti ini sering kita saksikan di indonesia tercinta, seolah sudah menjadi suatu hal yang wajar-wajar saja kita saksikan. Bahkan mereka tak memiliki rasa malu di tonton dan di tampilkan di media massa, layaknya flem layar lebar di saksikan secara bersama-sama di bioskop. Lain halnya dengan sebagian dari masyarakat kita, yang menganggap politik adalah barang kotor yang di gunakan penguasa untuk mendapatkan sahwat kekuasaan, kemudian mengumpulkan pundi-pundi uang untuk memperkaya diri sendiri. Ada benarnya juga sebagian besar masyarakat menganggap bahwa politik adalah kotor, itu di karenakan pengalaman yang mereka dapatkan pada saat pemilihan umun oleh komisi pemilihan umm (KPU) sedang di gelar di berbagai wilayah.

Masyarakat di iming-imingkan oleh janji politik oleh para elit, misalnya saja elit berjanji ketika ia naik menjadi anggota DPR, Bupati, walikota dan gubernur. Akan dibangun sarana infrastruktur dan suprastruktur di wilayah tersebut, asalkan kandidat tersebut dipilih apalagi jika seluruh masyarakat memilih dia, maka tak heran kita menyaksikan bahan-bahan material sudah ada di tempat di pajang untuk di saksikan supaya masyarakat yakin bahwa dia benar-benar datang sebagai dewa penyelamat.

Walhasil ketika dia tidak mendapatkan kursi kekuasaan, maka dia mengambil kembali semua barang-barang yang dia sumbangkan kepada masyarakat. Dan yang memenangkan kursi kekuasaan melupakan begitu saja orang-orang yang mendukungnya, setelah itu ia sibuk mengurus proyek untuk mengembalikan ongkos politik (cost polical) yang telah di hamburkan pada saat kampaye. Untuk mencalonkan diri sebagai kandidat bupati saja, sang kandidat harus menyiapkan modal pribadi kira-kira 25 miliar untuk kampaye dan biaya politik, belum lagi di tambah dengan dana partai politik dan sumbangan dari berbagai piha, baik yang mewakili individu, pengusaha, perusahaan, asing dll.

Maka jangan heran para penguasa kita hari ini asyik menyibukan diri dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan membiarkan begitu saja masyarakat miskin dibawah, tanpa di carikan solusi cerdas untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya. Tak bisa juga kita menyalahkan masyarakat yang memiliki pandangan politik demikian, karna setiap hari mereka menyaksikan gonjang-ganjing para elit politik. Model politik kita di negeri ini yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Meminjam syair lagu raja dangdung rhoma irama  orang miskin (papa)  hanya bisa “gali lubang tutup lubang”. Seperti itulah realitas masyarakat indonesia sekarang.

Anomali partai politik Partai politik merupakan sarana bagi masyarakat untuk menjembatani dengan pemerintahan yang berkuasa, sehingga penguasa  tidak merasa kekuasaan tersebut menjadi milik pribadinya. Dengan adanya partai politik lembaga-lembaga negara (legislatif, eksekutif dan yudikatif) bisa di kontrol dan di awasi melalui peran partai politik, sehingga melahirkan sistem chek and balance. Peran partai politik dalam mengawal proses pemerintahan indonesia mendapatkan ruang yang cukup besar di di masyarakat, karna dengan adanya partai maka kita merasakan pemilihan umum secara langsung guna untuk mengganti sirkulasi kekuasaan presiden.

Pada awalnya sebelum negara indonesia merdeka, beberapa daerah memiliki kerajaan yang  menguasai teritorial masing-masing sesuai dengan kemampuan penaklukan atas kerajaan lain. pada masa ini kita mengenal raja sebagai pengusa tunggal dan titahnya merupakan aturan yang harus di jalankan. Jika  tidak maka murkalah yang didapatkan oleh rakyat jelata. Kekuasaan pada sistem kerajaan (monarki) cenderung absolut dan orang yang akan menggantikannya nanti adalah anak keturunannya saja. Jika saja seandainya sekarang kita masih menggunakan sistem kerajaan maka tak ada lagi partai politik sebagai sarana untuk mendapatkan kekuasaan. Bahkan orang-orang di luar dari keluarga kerajaanpun bisa mencalonkan diri menjadi presiden asalkan ia memenuhi persyaratan sehat fisik maupun jasmani. Partai politik merupakan salah satu tonggak dari demokrasi, maka negara yang menggunakan sistem demokrasi harus memiliki partai. Setidaknya kita menggunakan sistem multipartai (banyak partai).