Arti Penting Kebebasan Bagi Umat Manusia


imagesghf Oleh; Ruslan

 Beberapa hari yang lalu di suatu sela-sela diskusi tentang isu harga bahan bakar minyak, di kabarkan akan segera di naikan oleh pemerintah di bulan mei ini oleh karena pemanfaatan dana subsidi BBM tidak memenuhi sasaran yang tepat. melainkan di manfaatkan oleh sebagian besar perusahaan swasta, sehingga negara ikut dirugikan miliyaran rupiah dengan adanya subsidi BBM yang tidak memenuhi sasaran tersebut. Belum lagi ditambah dengan masalah penundaan ujian nasional di beberapa wilayah karena terkendala pendistribusian lembar ujian nasional terkendala dan perusahaan pemenang tender tidak secara serius menghasilkan kualitas kertas dan jumlah kertasnyapun ikut bermasalah. sehingga sebagian dari sekolah-sekolah tidak mendapatkan lembar ujian secara merata, hingga akhirnya para guru sepakat untuk menggandakan (copy) soal tersebut dll.

Terlintas dalam benakku arti penting kebebasan manusia laluaku mengajukan pertanyaan tentang apa itu Kebebasan kepada teman-teman? Dan jawaban dari mereka begitu beragam untuk menjelaskan tentang kebebasan tersebut. Adapun keragaman dari jawaban tersebut tak terlepas dari pengetahuan dan referensi yang mereka gunakan, karena berbeda kepala berbeda pula pendapatnya ada yang menggunakan referensi buku, pemikiran tokoh bahkan berdasarkan pada pengelaman sendiri dengan membahasakan dengan gaya dan karakter individu tersebut. Ada yang mendefinisikan kebebasan sebagai ke tak terpenjaraan diri dari belenggu orang lain, yang selalu memonitor kita. Bebas merupakan keadaan dimana orang lain tidak bisa mengintervensi diri, melalui penjajahan secara fisik maupun penjajahan secara ideologi. Ada juga yang mengatakan kebebasan adalah bebas sebebas-bebasnya, bebas mau melakukan apa saja yang di kehendaki tanpa ada yang melarang. Sementara penulis sendiri mendefinisikan kebebasan yaitu kondisi dimana manusia bisa berekspresi sebebas-bebasnya melalui sarana dan tunduk terhadap hukum yang berlaku.

Artinya kebebasan itu merupakan hal yang paling fundamental yang dimiliki oleh manusia, karena jika saja seandainya kebebasan kita di ambil oleh orang lain. maka hidupnya sama seperti burung merpati yang di sangkar depan rumah sebagai hiasan belaka. Walau kelihatan indah oleh pemilik rumah, akan tetapi burung merpati tak bisa terbang kesana kemari seperti segerombolan burung yang lainnya berkicau kesana kemari dan hinggap di pepohonan untuk mencari buah, biji-bijian dan bahkan ulat-ulat yang bertengker di pohon. Karena tak memiliki kebebasan. Sama halnya seperti manusia yang di eksekusi hukuman penjara selama waktu tertentu dan mendekap bertahun-tahun di penjara. Menunggu nasib kapan hari kebebasan itu datang menjadi malaikat baginya. untuk keluar dari ruangan sempit yang dibatasi oleh tembok-tembok berdiameter kira-kira 5 kali 6 meter bahkan dalam satu ruangan bisa ditempati 7 samapi 8 orang. Suatu ruangan yang sangat sempit untuk manusia berinteraksi dengan lingkungan. Segala aktifitasnya semua dibatasi. mulai waktu tidur, makan, bangun tidur, bekerja, ibadah, olahraga, istrahat dll semua diatur secara ketat melalui mekanisme LAPAS yang berlaku.

Ternyata kebebasan itu sangatlah penting bagi umat manusia bahkan hewan maupun binatang sekalipun. karena perlu kita ketahui bahwa kebebasan merupakan hak kita yang di bawah sejak lahir supaya di pergunakan semasa hidup di dunia ini. Coba kita bayangkan jika seandainya kita di kerangkeng atau di masukan kedalam penjara, mungkin bisa dipastikan kita akan merasakan hal yang sama seperti narapidana yang mejalani masa hukumannya. Dimana ruang-ruang kebebasan benar-benar di rampas, dan tak ada lagi aktifitas yang bisa kita lakukan seperti kebiasaan individu tersebut, misalnya jalan-jalan kesuatu tempat yang sangat sejuk dan tentram sekedar menghilangkan penat yang ada selama masa kerja yang sibuk dengan hal-hal yang berbau kantor, tidak ada lagi kunjungan kerumah kerabat lama, tidak lagi menikmati indahnya malam minggu bagi muda-mudi yang masih tahap pencarian dan proses memilih dam memilah dan aktifitas lainnya semua serba di batasi oleh tembok berculang tinggi menukik langit-langit yang seakan melihat, menertawai lalu mengencingimu tanpa ampun. Betapa sialnya kala mendekap masuk dalam tahanan seperti babi dalam kandang tak bisa lari kesan-kemari.

Apakah teman-teman masih ingat sejarah tahanan politik (tapol) rezim soeharto di pulau buruh, mereka ditahan tanpa diadili puluhan tahun akibat dituduh sebagai anggota PKI, melakukan aktifitas politik di luar golongan karya, bahkan orang-orang di carikan alibinya untuk di tahan dan di siksa di pulau buruh. Salah seorang yang menceritakan kisahnya ketika diasingkan ke pulau buruh yaitu seorang penulis novel tetralogi pulau buruh Pramodiya annanta toer. Ia menceritakan kisahnya kala di tahan beserta kawan-kawannya yang lain, disana ia mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi sama sekali.

Bagaimana dengan kita sekarang, apakah kita masih memiliki kebebasan? Apakah kita sudah menggunakan kebebasan? Kapan dan dimana kebebasan itu ada dalam diri kita? Seperti apakah bentuk kebebasan itu? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang akan muncul dalam benak kita terkait kebebasan.

Penulis sendiri menyadari kebebasan itu harus kita gunakan dan dimanfaatkan sebagai mana mestinya. Yang perlu sekali kita ajukan pertanyaan dalam diri kita masing-masing sebagai bahan evaluasi diri (hadap diri). apakah di fakultas, kita merasakan kebebasan tersebut sebagai wujud penghargaan terhadap eksistensi manusia yang harus di hormati secara bersama-sama. Berangkat dari perangkat aturan yang mencoba untuk mengukung (kerangkeng) ruang kebebasan kita sebagai mahasiswa yang bisa berpikir secara bebas, dengan adanya beberapa point penting aturan yang di keluarkan oleh birokrasi fakultas melarang untuk ini dan itu (saya kira teman-teman paham maksud saya) itu suatu wujud memenjarakan kita sebagai mahasiswa yang ingin berekspresi. akan tetapi kita seolah tidak menyadari bahwa itu merupakan penjajahan secara nyata (penjajahan non-fisik) akan tetapi kita hanya diam, diam dan terdiam membisu seribu bahasa tanpa berani untuk berkata-kata walau hanya sekedar mengatakan stop. Kami tidak mengingingkan lagi adanya pembodohan atas kami, karna kami bukan orang bodoh dan badut-badut kampus yang hanya bisa mengatakan ya, ya dan ya pada kalian.

Sudah terlalu lama kita diam membisu tanpa protes, protes terhadap kesewenangan dan keangkuhanmu selama ini. Cukup, kami akan datang sebagai anak yang keluar dari penjara itu, penjara pikiran yang selama ini menipu bahkan menginjak-injak harga diri kami. Kami bukanlah ahli protes tapi kami terpaksa untuk protes karena keadaan yang memaksa untuk bertindak secara cerdas.Selama ini kami tidak menyadari, bahwa telah terjadi pembodohan secara besar-besaran. Setelah melakukan evaluasi secara besar-besaran atas diri masing-masing ternyata saya menemukan bahwa kebebasan kami di ambil dan di rampas begitu saja tanpa sedikitpun ruang tersebut di sisakan.

Masihkan kita berpikir bahwa kita memiliki kebebasan, kebebasan secara kodrati di berikan oleh tuhan yang maha esa seluruh ummat manusiauntuk di manfaatkan sehingga mendapatkan hak kita sebagai mahasiswa. Jika seandainya kita menyadari bahwa kebebasan itu telah di ambil, mengapa kemudian kita tidak mengambilnya kembali, bukankah kebebasan itu milik kita yang di ambil. Kalau mau jadi manusia jangan biarkan milik kita yang sangat berharga dicuri, maka wajib hukumnya untuk kita pertahankan walau dengan cara apapun.

Samata 18-april-2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s