PERILAKU DAN ETIKA ANGGOTA DPR


imagesj

Nama   : Ruslan

Gagasan mengenai trias politica pertama kali di perkenalkan oleh tokoh berkebangsaan prancis montesqiau yang menginginkan adanya pemisahan kekuasaan dalam lembaga negara secara radikal (separatioan of power). Dimana lembaga negara tersebut terdiri dari legislatif yang akan membuat undang-undang, eksekutif sebagai lembaga operasional yang menjalankan aturan tersebut dan yudikatif sebagai lembaga pengawasn terhadap kedua lembaga negara eksekutif dan legislatif. Dimana pada masa kehidupan montesqiaua kekuasaan eksekutif tidak memiliki batasan yang jelas sehingga ada anggapan yang menyatakan negara sama dengan dirinnya. Disini hukum tidak mempunyai kekuatan untuk membatasi, dan apapun yang menjadi ucapan dari pemimpin/raja bisa menjadi hukum. Gagasan montesqiau ini di ilhami oleh pemikiran tokoh jhon lock berkebangsaan inggris dia membagi kedalam tiga lembaga yang pertama eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Indonesia menggunakan gagasan montesqiau secara tidak konsisten kerena kita tidak mengenal adanya pemisahan secara tegas, akan tetapi indonesia membagi kekuasaan (distribusi of power) karena antara eksekutif dan legislatif memiliki wewenang untuk merancang undang-undang. Ketiga lembaga negara ini memiliki peran dan fungsi yang berbeda walaupun disisi lain ada kesamaan. Di dalam penulisan ini penulis hanya menyoroti satu dari ketiga lembaga yaitu lembaga legislatif atau dewan perwakilan rakyat dalam perilaku dan etika.

Dewan perwakilan rakyat adalah lembaga penyalur aspirasi masyarakat terhadap pemerintah. Dimana masyarakat memiliki perwakilan yang akan menyampaikan suaranya, artinya DPR adalah jembatan atau penghubung. Sebagai perwakilan rakyat sudah seharusnya menjalankan misi tersebut, bukan malah sebaliknya melakukan tindakan diluar dari yang di amanahkan. Dasawarsa terakhir ini rakyat di kejutkan oleh perilaku anggota dewan yang terhormat yang menginginkan pembuatan gedung yang baru dengan memakan anggaran negara yang cukup besar di tengah-tengah masyarakat yang di himpit kemiskinan dan kelaparan. Dengan berbagai rasionalisasi yang tak masuk akal DPR melakukan upaya untuk tetap memaksakan kehendak membuat gedung yang baru walaupun di satu sisi rakyat berteriak menolak pembangunan tersebut. Kemudian pada saat rapat pleno dewan kita tercinta ini melakukan hal-hal yang diluar dari kebiasaan dimana mereka pada saat sidang untuk membuat aturan untuk rakyat adanya yang tidur, bolos mengikuti rapat, menonton flem porno di tengah-tengah sidang, menyanyi kayak anak TK dan bahkan sampai hal-hal yang konyol sekalipun melempar botol aqua ke pimpinan sidang waktu memutuskan pilihan yang mana untuk di ambil dalam isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Perilaku yang di tampilkan oleh anggota dewan terhormat ini sangat jauh dari etika dan profesionalisme anggota, seharusnya mereka yang telah di amanahkan tugas dan tanggung jawab untuk menjawab semua kebutuhan dan tuntutan rakyat yang ingin memperbaiki nasib mereka, dimana kemiskinan menjadi hal yang sangat substansial untuk di selesaikan akan tetapi yang di tunjukan oleh mereka hanyalah parade konyol ketidak senonohan dan vulgaritas kehidupan yang serba wah dan menggoda. Sudah berapa banyak anggota dewan yang terlibat dalam skandal korupsi dan perbuatan tindakan asusila dan tidak banyak mereka juga menjalani hidup sebagai tahanan negara (penjara) karena perilaku menyimpang.

Apalagi yang bisa kita harapkan kepada dewan kita dewan terhormat yang notabene mewakili suara rakyat, malah melakukan penekanan tehadap rakyat dengan melegalkan undang-undang yang tidak pro terhadap rakyat. Sebagai wakil rakyat yang duduk di kursi yang empuk dengan hawa ruangan yang dingin di kelilingi oleh pendingin ruangan serta gaji yang cukup menggiurkan beserta tunjangan-tunjangan lainnya. Sebernanya dengan fasilitas yang sudah diberikan seperti itu seharusnya mereka para wakil rakyat bekerja secara maksimal yang menghasilkan keputusan yang memihak terhadap masyarakat, akan tetap semua itu sangat jauh dari panggang api. Mereka lihai dalam memanfaatkan kesempatan, pada saat reses para wakil menggunakannya untuk berkunjung ke beberapa negara dengan dalil untuk belajar etika, hukum, sperbandingan sistem dan lain-lain yang tak masuk akan, mereka melegitimasi dengan menggunakan koalisi yang nantinya akan mendukung program tersebut. Dan yang menjadi sesuatu yang aneh dan tak masuk akal yaitu mereka membawa beserta keluarganya untuk mengujungi negara yang di tuju dengan menggunakan anggaran negara atau lebih tepatnya uang dari rakyat yang di kumpulkan melalui pajak.

Perilaku seperti ini banyak yang di tampilkan oleh anggota dewan yaitu perilaku yang tidak memberikan pembelajaran secara eedukatif maupun ssecara moral. Seharusnya mereka yang di jadikan sebagai publik figur bisa menjadi contoh dan tauladan bagi masyarakat di tengah-tengah dekadensi kepercayaan yang semakin merosot, akan tetapi tidak bagi DPR. Penulis sendiri melihat mengapa kemudian perilaku dan etika anggota dewan rakyat seperti yanag kita lihat dan rasakan hari ini, menurut pribadi penulis ini di sebabkan oleh pengrekrutan kader partai yang memiliki kepentingan politik yang cukup besar sehingga partai mencari sosok calon anggota yang mampu dan dapat untuk meningkatkan kuantitas kader. Dan ini di buktikan dengan membludaknya anggota dewan yang datang dari golongan artis, pengusaha, preman dan hartawan yang pada substansialnya mereka tidak paham dan profesiaonalisme dalam bidangnya, contohnya pengusaha di masukan ke dalam komisi banggar, preman di masukan dalam komisi hukum dan lain-lain.

 

Kontestasi politik


pengertian-komunikasi-politik.jpg

Oleh: Ruslan

Berbicara tentang politik memang cukup menarik, walau kadang membuat dahi kita berkerut karena mendengarkan hal-hal aneh. Aneh,,,, wah kok politik di anggap aneh, maksudnya apa? Kelihatan aneh saja kalau ternyata banyak orang yang gemar berpolitik namun sering pula dikecewain. Politik kalau di ibaratkan dengan benda maka saya mengibaratkanya dengan “bola”. Bayangkan dalam permainan sepak bola, disediakan lapangan luas lengkap dengan fasilitasnya, bahkan stadionnya memuat ribuan manusia untuk menyaksikan permainan satu ini. Dari masing-masing team terdiri dari sebelas pemain plus tiga cadangan, mereka sepanjang Sembilan puluh menit merebut bola satu sama lain dan menunjukan atraksi bola yang membuat mata penonton tak berkedip-kedip. Satu bola diperebutkan oleh banyak orang serta mata penonton tak beranjak dari bola mini. Ditendang sana di oper sini hingga mengkalkulasi gol digawang lawan hingga menjadi campiun lapangan.

Mungkin politik ibaratnya permainan sepak bola di perebutkan orang banyak namun yang menang tetap satu team. rasa Kecewa, sedih, bahagia, terharu dan sederetan perasaan lainnya yang mengitari emosi pemain itulah yang dirasakan orang ketika menjadi pemain. Begitu pula halnya politik, sering di perebutkan banyak orang dengan kontestasi pemilu yang semarak. Namun permainan satu ini terbilang eksekutif hanya orang-orang berduit yang bisa menjadi pemain.

Kendati demikian adanya, akan tetapi tak sedikit pula orang yang berani mengaduh nasib lewat permainan ini (politik), walau terkadang orang rela untuk menjual kepercayaan, mengorbankan wibawa, melelang harga diri, melacurkan intelektualnya. Sebagai modal politik tentu sumber daya tersebut harus dipersiapkan dan dimanfaatkan sebisa mungkin, karna itu merupakan tiket menuju kekuasaan. Dijaman edan ini tak satupun orang yang tak ingin menguasai orang lain, sebab jika tidak berkuasa maka akan dikuasai itulah hukum politik. Senada dengan ungkapan seorang filsuf prancis nietchze “will to power/kehendak berkuasa”. Pada dasarnya manusia memiliki kehendak untuk menguasai yang lain walau dengan cara apapun yang ditempuh, bahkan seseorang siap menjadi diktator yang melindas, berdarah dingin membantai ummat manusia dan lain sebagainya. Senada dengan anjuran machiavelli bahwa politik merupakan upaya untuk menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.

Wah kedengarannya cukup aneh dan unik juga ya, meminjam istilah pak sutan batugana DPP Partai Demokrat “ngeri-ngeri sedap”. Istilah apalagi satu ini, kok di kaitkan dengan pak sutan segala dimana nyambungnya ya. Walau tidak nyambung di sambung-sambung aja kali ya, karna dalam politik pun selalu mengait-ngaitkan dengan sesuatu yang lain, Bahkan sering dicari sambungannya (kabel kali di sambung). Kalau anda tidak percaya saya akan ceritakan sedikit, walau cerita ini agak disambung-sambung tapi gak apa-apalah yang penting baca aja. Dan kesimpulannya bisa anda percaya atau tidak terserah, itu bukan urusan gw.

Ada seorang politisi kaya raya, perut buncit, kepala botak dan kikir. ia dari salah satu partai ternama di negri ini. Rencananya dia ingin mencalonkan diri kembali dalam pilcaleg bulan april nanti, sebagai incumbent ia sudah banyak mempersiapkan segala sesuatu termasuk ongkos politik yang jumlahnya bejubel. Sebagai anggota DPR tentunya dia menikmati fasilitas Negara seperti mobil, rumah, gaji, tunjangan bonus dll. Dengan fasilitas tersebut sang anggota dewan memiliki gaya hidup baru, hidup alay kayak anak mudah malas hidup mati tak mau. Kemana-mana selalu didampingi oleh istrinya yang cantik sambil mengendarai mobil mercy, stelan baju mahal pun tak luput ia pakai.

Bila mengunjungi konstituennya di desa-desa yang jauh dari pusat kota, belum lagi jaraknya yang amat jauh. Dan harus memasuki wilayah hutan yang menghabiskan berjam-jam lamanya untuk sampai ke daerah tujuan, jalan yang berlubang menjadi pemandangan disepanjang perjalanan. Ya tepatnya jalan yang selama puluhan tahun tak pernah disentuh itu menjadi bertambah rusak ketika hujan deras datang dan menggenangi seluruh badan jalan. Keadaan dalam mobil seperti di hantam gempa bumi berkekuatan 5,1 skala licter, menggoncang seluruh isi mobil.

Namun karna tekad sang dewan untuk duduk kembali di kursi legislatif sangat kuat, walau harus mendatangi rumah penduduk yang cukup jauh. Akan tetapi ia tetap bersikeras untuk mendatangi warga tersebut walau bersusah payah untuk sampai kesana. kata yang tepat bagi perjuangan sang calon ini, mungkin ada dalam liriknya bang rhoma irama “Berakit-rakit ke hulu berenang ketepian” susah-susah dahulu baru senang kemudian.

Aneh memang selama ia duduk di parlemen bisa dihitung berapa kali ia mendatangi konstituennya dan menyampaikan aspirasi warga. Kira-kira ia datang setelah menjadi anggota dewan hanya satu kali dan itupun hanya datang untuk meresmikan pertandingan sepak bola antar desa. Pada saat pertama kali ia datang sebagai calon anggota dewan, dia memberikan berbagai bantuan seperti bahan sembako, memperbaiki rumah tak layak huni, membagi-bagikan uang pecahan lima puluh ribu bahkan ada yang mendapatkan seratus ribu dan berbagai macam janjinya termasuk untuk memperbaiki jalan yang rusak, membangkitkan tenga listrik berbasik tanega surya, membangun waduk untuk pengairan sawah dan mesin traktor. Janji itu bagaikan sihir merasuk dalam otak warga merembes kesemua orang dengan cepat, sehingga banyak warga yang mau pasang badan sebagai martil.

Semua masyarakat senang dengan janji kampanye caleg ini, bahkan memperlakukannya sebagai orang terpandang dan dihormati sebab ia datang bak dewa mengilhami desa ini. Namun setelah kemenangannya di pilcaleg 2009 lalu, ia pergi dengan janjinya tanpa memperdulikan nasib konstituennya.

Dari penggelan cerita pendek diatas dapat kita tarik benang merahnya, bahwa elit politik memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memenuhi hasrat politiknya walau penduduk desa menjadi korban. Kekuasaan memang cukup seksi diperebutkan para elit politik. Hingga tak jarang kita saksikan di media sosial (TV) mereka secara vulgar memperlihatkan hasratnya.

Pada dasarnya politik adalah usaha untuk menciptkan masyarakat sejahterah, seperti yang dikatakan seorang tokoh klasik abad yunani Aristoteles “political zoon” (binatang politik). Aristoteles telah merumuskan satu pondasi dasar tentang etika politik santun di abad ke-450 SM. Namun amat berbeda ketika manusia telah menemukan teknologi dan kemajuan (peradaban), pasca revolusi industry di inggris eropa telah menjadi satu kekuatan yang mampu menandingi kemajuan islam di masa kejayaan khalifa. Revolusi industry telah mendorong eropa mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan khususnya teknologi, setelah ditemukan mesin uap, mesin ketik dan kapal. Mereka melakukan ekspansi secara besar-besaran untuk mengkolonialisasi Negara-negara terbelakang dunia ketiga.

Di abad ke-20 lahirlah pemikir jenius dari kalangan aristokrat menengah di italia, dialah pemikir tersohor sepanjang abad, dicaci maki sebab ia menganjurkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Nicolo Machiavelli sang pemikir terkemuka itulah namanya, dalam surat yang ia tujukan kepada mediccin penguasa Florence berisi nasehat-nasehat agar mendapatkan perhatian dari raja. Buku yang terkenal ia tulis adalah il princes (sang pangeran), namun ia di anggap sebagai orang yang tidak memperhatikan aspek moral dalam politik dan di cap hitam. Akan tetapi bagi penulis sendiri melihat secara obyektif usaha-usaha yang dilakukan oleh Machiavelli untuk mempertahankan negaranya dari musuh sangatlah wajar, apalagi italia pada saat itu mengalami krisis politik. Sehingga ia menjelaskan politik berdasarkan pengelamanya selama menjadi pejabat Negara urusan luar negri. Anjuran dalam il princes juga mendapat sambutan yang cukup baik bagi kalangan selanjutnya

Maka tak heran kalau kita berbicara politik banyak mengadung anomali disana sini, sebab praktek tersebut sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Misal saja dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), selalu saja terjadi sengketa antar kandidat dan hampir semua diselesaikan di mahkama konstitusi (MK).

Kembalikan tanah petani


imagesjmOleh: bung rulan
 
Jual saja negeri ini. Negeri kaya di hinggapi hipokrit, kerjaannya mencari pelanggan untuk melelang barang dagangnya. Untuk apa memiliki banyak kekayaan kalau justru membuat kita semakin miskin dan tertindas. Amanat undang-undang tertera dengan jelas dalam pasal bahwa yang menyangkut hidup rakyat banyak tidak boleh dikuasai asing. Kekayaan yang terkandung dalam tanah harus kita sendiri mengolahnya. Tapi apa boleh buat bila itu menjadi bencana. Dari pada ribut-ribut lebih baik di jual saja.
Tanah subur kalau di Tanami batu pasti tumbuh, saking suburnya tanah milik kita. Awalnya rakyat di suruh kerja jangan malas-malasan. Setelah rakyat bekerja sebagai petani tentunya menanam padi, kedelai, jagung dan sebagainya. Setelah rakyat bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kalian datang untuk mengambil paksa tanah kami. Mengambil dari tangan pak tani yang kalian suruh kerja karna di anggap pemalas dan bodoh. Kalau tanah kami di ambil lalu kami harus menanam di mana, karena hanya di tanah lah kami bisa bercocok tanam.
Kalian robohkan rumah kami yang di atapi jerami menggantikan dengan gedung menculang tinggi. Berdirilah perusahaan besar dengan konstruksi bangunan megah, saking megahnya sulit rasanya menjelaskan dengan baik karna rumah kami hanya terdiri dari batu bata dan rotan saja. Kami tolak kesewenangan kalian mengambil secara paksa tanah milik nenek moyang. Dimana Negara yang harus melindungi rakyatnya sendiri dari kesewenang-wenangan para perusahaan. Tapi menunggu Negara datang untuk membela rakyat layaknya superman bak menunggu hujan salju di Negara khatulistiwa. Sungguh tidak mungkin terjadi, karena Negara sudah menjadi kaki tangan kapitalisme global. Negara siap memproteksi kepentingan asing asung di negeri kita dan tidak segan-segan menembaki secara membabi buta kepada rakyatnya sendiri yagn tidak mempunyai senjata seperti mereka. Polisi dan militer membrondongi rakyat dengan peluru karet dan timah panas, negri aneh dihuni para bedebah.
 

Meneropong Konflik Timur Tengah Antara Kepentingan Dan Ideologi


Konfliksuriah1

Oleh. rulan bebas merdeka[1]

Berbicara tentang timur tengah tidak bisa terlepas dari konflik yang berkepanjangan dan negeri yang pernah hidup para nabi ini hanya menjadi bulan-bulanan saja. Dimana dalam negara ini memiliki cadangan minyak dunia yang sangat besar sekali, islam garis keras, wilayah yang tandus. Negeri 1001 malam ini memiliki ceritera yang amat banyak dan imajinasi tinggi, ini di karenakan orang-orang arab menyukai cerita misalnya saja cerita abu nawas yang cerdik penuh dengah canda tawa, cerita tentang lampu ajaib alauddin, pelaut albab dan masih banyak cerita lainnya.

Perlu kita berikan batasan atau definisi yang jelas mengenai timur tengah, karena beberapa ahli politik internasional belum menyepakati nama tentang timur tengah. Walaupun kita sekarang sudah menggunakan kata timur tengah sebagai kata penunjuk untuk negara-negara yang berada di timur seperti arab, irak, iran, mesir, suriah dll. Negara-negara ini disebut-sebut sebagai negara yang berada di timur tengah. Sebelum kata timur tengah menjadi santer dan bahan kosumsi bagi masyarakat dunia dalam penyebutan negara tersebut, pada awalnya para ilmuwan politik masih menamainya dengan kata “timur dekat (near east)” orang-orang inggris masih menggunakan kata timur dekat untuk menunjukan kata timur tengah sekarang ini. Pasca perang dunia ke II selesai negara-negara tersebut resmi di namai menjadi timur tengah oleh inggris dan amerika yang menjadikan sebagai negara penyokong kebutuhan inggris dan amerika yang berperang di teluk. Artinya timur tengah hanya dijadikan sebagai dapur untuk mengambil kekayaan dan membantu biaya selama perang berlangsung. Sebutan timur tengah bagi negara–negara yang berada di dataran arab tidak lain melainkan sebuah distorsi yang hegemonik, sementara barat selalu di identikan dengan eropa. Sebuah sebutan superioritas bagi bangsa yang memiliki peradaban modern.

Perlu kita ketahui bersama sebelum terjadi kekeliruan yang fatal dan membawa fitnah dan dosa bagi generasi setelah ini. Karena keotentikan dan kevaliditas sebuah data dalam rangka untuk menganalisa persoalan timur tengah tidaklah segampang yang kita kira, dikarenakan timur tengah mengalami perubahan yang sangat cepat baik secara politik, ideologi, ekkonomi dan lain-lain. Dimana timur tengah menjadi lahan konflik berkepanjangan, sehingga membutuhkan data yang benar-benar segar dan baru, sehingga dalam kajiannya tidak ketinggalan waktu.

Dalam beberapa waktu terakhir ini konflik yang terjadi di timur tengah mengalami tensi yang begitu tinggi, karena peperangan, pembunuhan dan pembomam berserakah dimana-mana. Dan itu menyiratkan bahwa cerita tentang timur tengah belumlah usai. Masih teringat dalam benak kita peperangan meletus antara masyarakat sipil dengan pihak pemerintahan kadafi di libya yang menghilangkan ribuan nyawa dari warga sipil maupun militer, gedung-gedung yang menculang tinggi ke angkasa ambruk berantakan diterjam granat. Masyarakat oposisi yang menentang kekuasaan otoriter muhammad khadafi tumpah riah dijalan-jalan dengan memegang senjata di kedua tangannya dan siap jihad untuk kemerdekaan dari penindasan dan kekuasaan yang semena-mena. Mereka berkumpul dan mengorganisir kelompok tersebut dengan kekuatan militer yang mendukung oposisi dan melakukan gencatan senjata di beberapa kota libya. Sementara di sisi pemerintahan khadafi bersikukuh untuk mempertahankan kekuasaannya walaupun masyarakat sudah tidak menghendakinya lagi menjadi seorang presiden seumur hidupnya. Dengan dibantu kekuatan militer baik angkatan darat maupun udara membombardir dengan peluru.

[1] Seorang mahasiswa yang menempuh pendidikan strata satu di univesitas islam negeri alauddin makassar, dengan jurusan ilmu politik semester III.

tulisan lama waktu semester III

Patronase: Mengungkung Kebebasan Berpikir


20150611_174649Oleh: bung rulan

Dewasa ini Islam sedang mengalami banyak persoalan dan tantangan, dimana perlu segera mencarikan langkah cepat untuk di tangani. Sebagai sebuah agama, Islam tidak hanya boleh sampai pada ritus-ritus keagamaan dan ritualitas ibadat. Persoalan tersebut hanya menyangkut individu personal seorang, tapi bagaimana kemudian Islam menyentuh persoalan kongkret yang dihadapi masyarakat. Tidak seperti kalangan yang menganggap dirinya punya otoritas sahih untuk memberikan sebuah putusan, dalam tradisi jawa dikenal dengan budaya patron klien (Patron Client). Cukup dengan satu orang yang berpikir yang lainnya mengikuti saja tanpa mempertanyakan secara kritis, mengapa harus mengikuti orang tersebut. Biasanya orang ini dikenal sebagai ahli agama atau para ulama, mereka tidak hanya saja mengurusi persoalan etika, moral, akhlakul karimah dll, melainkan mereka juga terlibat dalam urusan politik sesaat. Saya ingin mengambil contoh tokoh sentral di kalangan Nahdiliyin NU yaitu Abdurrahman Wahid (biasa di panggil dengan nama-Gusdur). Gusdur merupakan sosok utama di partai PKB dan memiliki pengaruh yang sangat luas dimasyarakat. Pengaruh sosok Gusdur di mata masyarakat tidak saja menjadikannya sebagai seorang Kyiai besar, melainkan masyarakat mengkultuskan Gusdur. Seolah apapun yang dilakukannya tidak pernah salah karna akan dibela habis-habisan oleh para pendukungnya dari PKB, GP Ansor dll a man can do wrong. Contoh dari Gusdur sangat memudahkan kita untuk mengetahui lebih jauh tentang budaya patron klien, dimana mayoritas mengikuti satu orang.

Umat Islam hari ini tidak membutuhkan budaya panutan yang tidak memberikan keleluasan kepada umat untuk berpikir kritis dan inovatif. Cara berpikir bertumpu pada satu orang, akan menciptakan rasa malas dari umat. Mereka seharusnya tidak dikungkung dengan karismatik tokoh, melainkan memberikan ruang bagi mereka untuk berpikir secara bebas dan reflektif. Agar bisa menentukan sendiri langkah apa yang harus dilakukan kedepannya, sehingga umat tidak lagi berada dalam kondisi statis atau dalam pengertian berdiri di tempat. Artinya umat tidak akan maju dan fleksibel terhadap perubahan sosial di era jaman post modern. Tuntutan jaman yang mengharuskan masyarakat untuk cepat beradaptasi dengan kemajuan dari serbuan budaya, neoliberalisme, globalisasi dll. Teknologi sudah merambah pada sendi-sendi kehidupan masyarakat, mulai dari elektronik, otomotif sampai pada peralatan rumah tangga sudah sebagian besar telah digantikan dengan mesin dan robot. Perusahaan multynasional memproduksi secara besar-besaran mesin untuk di distribusikan keberbagai kota dan kabupaten. Tentu disini nilai bisnis dan pasar sangat terlihat sekali oleh karena negara kita dijadikan sebagai konsumen bagi barang-barang luar negeri.

Apalagi sekarang Indonesia masuk pada masyarakat ekonomi Asean (MEA) terhitung tahun baru 2016. Integrasi ekonomi global sudah pasti dilakukan sebagai konsekuensi dari keberadaan negara dalam sebuah komunitas besar seperti MEA. Bila demikian yang terjadih, lalu, apakah umat Islam sekarang sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya, karena bagaimanapun ini menjadi tantangan berat untuk dihadapi saat ini. Bila sebagian umat masih menyandarkan pada satu orang sebagai tokoh karismatik yang akan menentukan apakah ini boleh atau tidak boleh dilakukan, maka kita akan menjadi penonton sekaligus yang merasakan dampak negatifnya.

Masyarkat Islam dituntut bisa mengambil pelajaran lebih banyak dari pengalaman-pengalaman negara welfare state (negara kesejahteraan) menciptakan sebuah kondisi kebangsaan yang dapat menjamin baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertahanan dan keamanan Negara dll. Agar di kemudian hari tida hanya sekedar memberikan solusi subjektif dimana gaungan kembali ke Al-Quran dan Hadist menjadi pekikan mayoriti. Simbolitas Islam ingin diwujudkan, karena dengan demikian Islam bisa bangkit kembali sebagai negara yang besar dan berkeadilan. Mereka ingin mendirikan negara Islam (dawulah islamiyah), hukum-hukum yang berdasar pada syariat Islam. Kelompok tersebut meyakini bahwa hanya dengan cara demikian Islam bisa kembali berjaya seperti di masa Rasulllah ketika memimpin madinah. Padahal jikalau mau ditelusuri lebih jauh bahwa perjanjian madinah merupakan kontrak sosial antara beberapa agama dan kepercayaan yang sepakat untuk hidup berdampingan. Menunjuk rasulullah sebagai pemimpinnya. Artinya bila kelompok Islam fundamental yang mengklaim bahwa negara madina merupakan representasi negara islam, yang dipimpin oleh nabi muhammad. Klaiman seperti itu merupakan ahistori terhadap sejarah, sebab nabi tidak mendirikan negara islam. Melainkan sebuah negara yang mengakomodasi berbagai macam kepercayaan didalamnya, dibawah perjanjian madinah.

Kita harus tinggalkan simbolisasi Islam yang membenarkan pendirian negara Islam, menuju penciptaan negara persemakmuran dibawah sistem demokrasi. Kita harus berhenti mencurigai barat yang memproduksi sistem demokrasi sebagai sistem kafir, tidak islami atau apapun sebutan lainnya. Sebab, bila demikian yang terjadi maka tenaga umat terkuras hanya mempersoalkan boleh atau tidak. Artinya perdebatan tersebut tidak produktif dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali tenaga yang terkuras. Menurut kuntowijoyo sesuatu yang objektif tidak perlu di islamisasikan agar umat dapat menjalankan syariat Islam secara kaffah. Melainkan sesuatu yang objektif harus diterima, sebab dalam Islam mengakui adanya objektifisme. Demokrasi mengandung nilai-nilai universal didalamnya, seperti keadilan, kesamaan, kebebasan berekspresi (dalam batasan hukum), dan sebagainya. Nilai-nilai tersebut juga dimiliki oleh islam begitupun juga dengan agama lainnya. Sehingga kita tidak lagi memperdebatkannya terlalu panjang. Lalu kunto memberi penegasan bahwa kita hanya membutuhkan objektifikasi saja terhadap sistem demokrasi, pancasila, NKRI, bhineka tunggal ika. Dan meninggalkan islamisasi terhadap sistem yang tidak islam.

Sehingga demikian tidak saja orang muslim saja yang ikut terlibat merasakan hasil melainkan orang non-muslim merasakan hal yang sama sebagai kita merasakannya. Nilai-nilai universal yang terkandung masing-masing agama di Indonesia itu kemudian dapat menjadi objektif di agama manapun. Misalnya nilai keadilan, kemanusiaan, demokratis, dan negara menjamin kehidupan warga negaranya. Semua agama mengandung muatan universal tersebut sehingga tidak ada lagi klaim kebenaran yang sepihak. Seperti dominasi mayoritas atas minoritas lainnya yang justru menciptakan disentegrasi masyarakat, menyulut api konflik berkepanjangan.

Negara demokrasi yang di anut dari sistem politik barat tidaklah dapat di sebutkan salah, karena tidak ada dalil dalam Al-Quran yang menjelaskan bahwa Islam mengenal sistem demokrasi. Dalam Islam dikenal sistem syurah (musyawarah) untuk mengambil keputusan. Biasanya dipakai memilih pemimpin negara atau ketua dalam lembaga tertentu. Sistem tersebut memiliki kesamaan dalam format dan substansinya dengan demokrasi. Walau tidak dapat di nafikan bahwa terdapat perbedaan yang sering salah di mengerti, oleh sebagian besar ormas Islam. Namun demokrasi adalah objektifikasi dari Islam.

Tantangan Cendekiawan Muslim Indonesia

Umat islam tidak lagi mengungkung cara berpikir dikotomis yang melahirkan halal haram, syiah sunni dll. Pendikotonomian seperti itu dapat menyebabkan perpecahan antar umat beragama, yang berujung semakin melebarnya jurang-jurang permusuhan. Para ulama, fukaha dan pemikir islam di masa awal telah menghabiskan tenaganya dalam pergulatan pemikiran dikotomis, akan tetapi di jaman yang modern kita harus lebih cerdas melihat persoalan dan tantangan yang dihadapi kedepannya.

Pasca masyarakat pra-modern, manusia sudah jauh menemukan tonggak-tonggak peradaban melalui penemuan-penemun dibidang sains. Penelitian (riset) di berbagai perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), telah lama di lakukan sehingga mereka menemukan berbagai macam disipline ilmu dan teknologi. Ini membuktikan barat melangkah lebih jauh bila dibandingkan dengan sebagian besar negara-negara muslim lainnya. Yang cenderung masih tertinggal dan miskin di negara dunia ketiga. Kita memang perlu mengapresiasi kemajuan barat diberbagai bidang ilmu pengetahuan, karena disanalah muncul para pemikir besar yang mempengaruhi para cendekiawan di Timur Tengah, Asia dan termasuk Indonesia. Kesadaran akan untuk melahirkan ilmu sosial yang lahir dari rahim lokalitas Nusantara atau dalam sebutan sosiologi Indegenousis ilmu-ilmu sosial. Teori-teori barat hampir merambat disemua universitas baik yang menegaskan dirinya sebagai kampus Islam seperti UIN maupun kampus non Islam lainnya. Dominasi tersebut mengimplikasikan bahwa kita tiak memiliki ilmu sosial yang lahir dari semangat lokal tadi, melainkan teori barat berselancar seperti sungai-sungai pengetahuan yang membentang dari hulu sampai ke hilir.

Disadari atau tidak ini juga merupakan bagian dari imperialisme barat terhadap dunia pendidikan. Namun kita merasa seolah tidak dijajah karena keterjajahan tersebut sangat kita nikmati selama ini. Di universitas para mahasiswa dari ilmu sosial sangat mengenal baik dengan pemikiran sosologi karl Marx, yang menjadi inspirasi gerakan kiri seluruh dunia untuk menumbangkan kekuasaan yang disokong oleh kapitalisme. Suatu buku yang ditulis marx Das Kapital yang menjadi “Magnum Opusnya” Marx berusaha menelanjangi sistem kapitalisme dengan kritik ekonomi. Gagasannya menginspirasi pemikir selanjutnya yang mengembangkan lebih lanjut ilmu sosial. Kemudian muncul juga Agust Comte yang memperkenalkan teori Evolusioner yaitu hukum tiga tahap perkembangan sejarah. Selanjutnya Max Weber, Emil Durkheim dan Herber Spencer. Hampir semua terbitan buku yang ditulis oleh cendekiawan Indonesia selalu merujuk pada tokoh di atas sebagai landasan grand teory untuk menjelaskan fenomena dan persoalan yang terjadi.

Namun walau demikian sangat minimnya cendekiawan muslim yang lahir sebagai pemikir, yang mengkonstruksi ilmu sosial menjadi ilmu yang bebas dari pengaruh barat. Akan tetapi tidak sedikit pula cendekiawan yang justru melahirkan gagasan-gagasan baru. Sebut saja ada Moelim Abdurrahman dengan teologi transformatinya, Kuntowijoyo dengan ilmu sosial profetik, gusdur pribumisasi islam, Cak Nur islam keindonesiaan dan kemodernan dll. Akan tetapi kita tidak boleh Berpuas diri, melainkan tetap terus menggali ilmu, sehingga kedepan kita akan mandiri secara ilmu pengetahuan.

Walahu Alam Bisowad

Samata, Gowa 5/01/16

Bakat Tidak Menentukan Menjadi Penulis


imagesng.jpgoleh: bung rulan

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman, agar kemampuan tulisan anda dapat segera melejit. Seperti halnya penulis-penulis hebat lainnya, yang sudah beberapa kali menerbitkan tulisannya melalui buku dan novel. Pasti dalam hati anda ingin seperti mereka atau paling tidak mendekati kesuksesan orang tersebut. Karena pada dasarnya tidak ada satupun orang yang tidak ingin menjadi sukses, kesuksesan tidak didapat hanya duduk berpangku tangan saja melainkan ia harus berkerja dan memotivasi diri. Apa yang anda lihat sekarang orang-orang disekitar anda telah berhasil, itu bukan sebab tapi ia akibat. Maksud saya,,, bahwa keberhasilan bukan proses melainkan hasil. Seseorang yang anda lihat sekarang yang telah berhasil, ia telah melakukan banyak hal untuk sampai pada posisinya sekarang. Memang tidaklah mudah sih menggapai puncak tertinggi, tetapi itu bukan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Asal anda punya prinsip untuk mencapainya, walau banyak tantangan menghadapi tetapi anda tetap berada pada prinsip awal anda yaitu mencapai puncak tertinggi karir anda.

Menjadi seorang penulis atau apapun yang anda inginkan bukan terletak pada bakat yang anda miliki. Anggapan seperti ini sudah mewabah di negri kita, anda tidak akan didukung dalam bidang tertentu jika anda tidak punya bakat dalam hal tersebut. Dan mereka cenderung mendukung jika anda punya potensi untuk bisa melakukannya. Hal demikian bukan hanya anda saja yang mengalaminya, tapi ada banyak orang yang merasakan hal yang sama seperti anda. Tapi anda jangan khawatir dan merasa minder bila sama sekali tidak punya bakat dalam bidang tertentu. Suatu pekerjaan yang membutuhkan soft skill untuk mengerjakannya, kita sama sekali tidak membutuhkan anda harus lahir dari keturunan yang punya banyak bakat sejak lahir.

Bakat adalah kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang untuk menciptakan hasil karya dan rasa. Namun biasanya bakat tersebut masih tersimpan rapi dalam diri kita sebagai potensi. Dan potensi itu tidak mungkin anda bisa melihatnya bila tidak dilakukan eksperimen atau membiasakan diri untuk bertindak mengikuti kecenderungan bakat anda. Namun dalam menulis anda tidak perlu membutuhkan bakat khusus untuk menjadi penulis. Karna dalam islam seorang bayi lahir tidak memiliki pengatahuan apapun kecuali pendengaran dan hati untuk ia bersyukur. Begitupun yang dikatakan oleh seorang filsuf Inggris Jhon Lock, bahwa seorang bayi seperti tabula rasa (kertas putih), bayi tidak mengetahui apa-apa kecuali ketika ia sudah berinteraksi dengan alam. Barulah bayi tersebut mendapatkan pengetahuan melalui indra dan rasio manusia. Kalau manusia tidak diberikan rasio maka sudah jelas manusia tidak layak menjadi khalifa fil ardy di muka bumi.

Penulis hebat pada awalnya tidak dilahirkan sebagai seorang penulis handal dikemudian hari, atau menjadi seorang polisi yang menegakan aturan. Seperti di awal saya katakan kita terkadang sering melihat seorang itu langsung pada hasilnya, sehingga anda beranggapan bahwa dia lebih baik dan telaten dibandingkan dengan diri sendiri. Padahal sebenarnya kemampuan menulis itu ditempa secara ketat, seperti tukang besi yang menempa besi bulat (belum jadi) untuk dijadikan perkakas dapur maupun perburuhan. Awalnya si tukang besi menempa kasar terlebih dahulu sebelum masuk pada tahap selanjutnya membentuk pola perkakas yang dibutuhkan.

Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa menjadi penulis bukan karena punya bakat, melainkan faktor kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus tanpa memperdulikan halangan.

Selamat mencoba

Seri Sekolah Menulis Kreatif# Tidak Ada Teori Menulis


Camera 360
Membaca adalah menjelajahi dunia

Oleh: bung rulan[1]

Banyak yang bertanya pada saya terutama adek-adek tingkat dan teman-teman seangkatan di kampus. Mungkin ini juga faktor yang membuat saya terkenal dikampus kali ya (peace bung hanya becanda jangan bawa serius entar jelek mukanya kayak Justin Bieber), walau sebenarnya dalam diri berharap untuk menjadi orang terkenal sih. Nah kembali ke leptop, hampir semua pertanyaan mereka sama. Kak bagaimana caranya menjadi penulis? apa yang harus saya tulis? bagaimana cara mengatasi jikalau kehabisan ide? dan seterusnya. Seharian saya sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari juniorku tentang dunia kepenulisan. Walau demikian ada perasaan bangga bila melihat rona mereka yang senyum lirih ketika telah mendapatkan jawabannya. Saya memang tidak memasang tarif untuk mengajari mereka bisa menulis, seperti jasa pelatihan menulis lainnya yang terdapat di lembaga-lembaga maupun di media online. Harga yang mereka tawarkan terbilang mahal untuk ukuran mahasiswa kere seperti saya ini, lah untuk makan setiap hari saja masih bergantung pada uang kiriman. Akan tetapi yang ingin saya lihat adalah mereka bisa menulis sesuai dengan keinginan mereka, tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan. Saya percaya bahwa bangsa ini akan menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang besar bila generasinya memiliki skill untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Saya tidak ingin bangsa kita disebut terus menerus sebagai bangsa yang terbelakang, bangsa yang malas dan sebagai bangsa yang bodoh. Mungkin dengan cara saya mengajari mereka untuk menuliskan pengalaman, gagasan dan bagaimana harusnya bangsa ini didesain dengan cara mereka sendiri. Akan dapat memberikan kontribusi ril atas kemajuan bangsa.

Bila berbicara tentang bangsa kita saya selalu terbawa suasana emosi. Karena sebagian kekayaan kita dijual, rakyat ditindas demi memperjuangkan perusahaan asing, para elit sibuk beritikad jahat menjarah negri kita. Akhirnya nada-nada emosi tersebut terakumulasi, lama kelamaan membesar dan menjadi letupan-letupan pemberontakan yang setiap saat bisa saja meledak. Waduh,,, kok semakin melenceng dari tema yang mau dibahas ya. Mungkin ini kelihatan wajar-wajar saja, mengingat saya juga terlibat secara langsung dalam setiap gerakan mahasiswa mahakassar. Alih-alih demonstrasi menolak penguasaan sumber daya alam oleh segelintir perusahaan asing, akan tetapi kami dibubarkan secara paksa dengan pentungan, laras panjang, gas air mata dan watter cannon. Sungguh miris melihat alat negara seperti polisi dan militer untuk di adu berhadap-hadapan dengan mahasiswa. Maaf bung kami tidak punya senjata untuk melawan sehingga kelihatan seimbang, hanya kalian yang di ijinkan secara sah oleh negara memegang senjata. Jadi tolong jangan tembak kami dengan butir-butir peluruh yang kalian beli dari uang kami para petani, buruh, nelayan, orang miskin dll.

Satu hal yang saya pelajari menjadi penulis dan itu menjadi iman saya, pada saat saya menumpahkan ide kedalam sebuah tulisan. Seorang penulis harus menjiwai apa yang sedang ia tulis, sehingga tulisan tersebut dapat masuk nominasi tulisan yang menarik. Penjiwaan atas sesuatu yang kita tulis sangat diperlukan, penulis seakan diajak terlibat secara langsung kedalam suatu peristiwa. Sehingga kita menghasilkan naskah yang layak dibaca oleh kalangan umum. Lalu bagaimana kita bisa menghadirkan penjiwaan, seperti yang dimaksud di atas. Masing-masing penulis mempunyai cara-cara tersendiri, adanya yang melakukan investigasi secara mendalam objek yang akan ditulis. Sehingga menghasilkan sebuah rekam jejak peristiwa yang seolah menyatu dengan penulis, sebab ia terlibat secara langsung. Ada juga yang melalui perenungan filsafati, membaca buku dan referensi. Dari sekian yang saya sebutkan di atas memang sangatlah sedikit sebagai contoh, untuk dapat dijadikan sebagai panduan. Tapi paling tidak bisa mengantarkan pembaca untuk memahami maknanya dan mengembangkan sendiri contohnya dengan bereksperimen.

Tapi kalau saya sendiri untuk mendapatkan penjiwaan terhadap apa yang ingin saya tulis, bukanlah seperti yang disebutkan diatas. Karena setiap pribadi memiliki perbedaan cara dan rumusan sendiri. Misalnya saya menulis tentang kondisi negara dibawah sistem kapitalisme yang jahat, atau para mahasiswa yang berdemonstrasi dinilai negatif oleh orang karena menimbulkan konflik dll. Maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan keberpihakan kepada siapa kita menulis. Apakah kepada perusahaan asing representasi dari kapitalisme atau kepada orang-orang miskin yang tertindas. Misalnya saya memilih bersama orang tertindas. Setelah itu saya akan mengumpulkan semua kemarahan, rasa jengkel, benci dan muak terhadap kapitalisme. Maka dengan itu tulisan anda akan terbentuk sendiri karakternya, apalagi bila terus-menerus dilatih.

Percayalah dalam menulis tidak ada teori menulis, semakin banyak dan sering anda membaca buku tentang penulisan, maka anda semakin sulit untuk menulis. Didalam buku-buku cetak maupun elektronik, anda pasti diperkenalkan dengan teori, rumusan, teknik, tips, cara cepat menulis dan sebagainya. Justru dengan cara demikian anda akan merasa berat karena tahapan-tahapan penulisan sangat banyak sekali. Yang perlu anda lakukan adalah segera menulis sekarang juga, ambil kertas di atas meja dan balpoint menulislah. Bila anda takut dalam tulisan tersebut tidak sesuai dengan hasilnya, anda tidak perlu khawatir. Karena para penulis profesional sekarang ini, itu pernah merasakan saat-saat dimana mereka tidak tahu apa yang harus ditulis. Sudah sering tulisan mereka ditolak media massa untuk terbit, sekali ditolak lantas mereka tidak langsung putus asa untuk mencoba lagi. Akhirnya setelah puluhan kali ditolak tulisan mereka diterima juga.

Ada suatu istilah datangnya dari negeri arab, mungkin ini bisa menjadi cambukan untuk mulai menulis yaitu “man jadah wa jadah” siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat. Artinya kesungguhan dan keseriusan menjalani setiap apa saja yang kita lakukan hasilnya akan setimpal dengan usaha (Ikhtiar) yang kita lakukan. Coba misalnya anda tidak serius menulis, maka hasilnya tidak akan bagus untuk dibaca oleh orang lain. Disini yang menjadi point yang saya sampaikan adalah “anda harus serius”.

Kamis, Samata gowa. 07/01/16

[1] Direktur sekolah menulis kreatif