Kontestasi politik


pengertian-komunikasi-politik.jpg

Oleh: Ruslan

Berbicara tentang politik memang cukup menarik, walau kadang membuat dahi kita berkerut karena mendengarkan hal-hal aneh. Aneh,,,, wah kok politik di anggap aneh, maksudnya apa? Kelihatan aneh saja kalau ternyata banyak orang yang gemar berpolitik namun sering pula dikecewain. Politik kalau di ibaratkan dengan benda maka saya mengibaratkanya dengan “bola”. Bayangkan dalam permainan sepak bola, disediakan lapangan luas lengkap dengan fasilitasnya, bahkan stadionnya memuat ribuan manusia untuk menyaksikan permainan satu ini. Dari masing-masing team terdiri dari sebelas pemain plus tiga cadangan, mereka sepanjang Sembilan puluh menit merebut bola satu sama lain dan menunjukan atraksi bola yang membuat mata penonton tak berkedip-kedip. Satu bola diperebutkan oleh banyak orang serta mata penonton tak beranjak dari bola mini. Ditendang sana di oper sini hingga mengkalkulasi gol digawang lawan hingga menjadi campiun lapangan.

Mungkin politik ibaratnya permainan sepak bola di perebutkan orang banyak namun yang menang tetap satu team. rasa Kecewa, sedih, bahagia, terharu dan sederetan perasaan lainnya yang mengitari emosi pemain itulah yang dirasakan orang ketika menjadi pemain. Begitu pula halnya politik, sering di perebutkan banyak orang dengan kontestasi pemilu yang semarak. Namun permainan satu ini terbilang eksekutif hanya orang-orang berduit yang bisa menjadi pemain.

Kendati demikian adanya, akan tetapi tak sedikit pula orang yang berani mengaduh nasib lewat permainan ini (politik), walau terkadang orang rela untuk menjual kepercayaan, mengorbankan wibawa, melelang harga diri, melacurkan intelektualnya. Sebagai modal politik tentu sumber daya tersebut harus dipersiapkan dan dimanfaatkan sebisa mungkin, karna itu merupakan tiket menuju kekuasaan. Dijaman edan ini tak satupun orang yang tak ingin menguasai orang lain, sebab jika tidak berkuasa maka akan dikuasai itulah hukum politik. Senada dengan ungkapan seorang filsuf prancis nietchze “will to power/kehendak berkuasa”. Pada dasarnya manusia memiliki kehendak untuk menguasai yang lain walau dengan cara apapun yang ditempuh, bahkan seseorang siap menjadi diktator yang melindas, berdarah dingin membantai ummat manusia dan lain sebagainya. Senada dengan anjuran machiavelli bahwa politik merupakan upaya untuk menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan.

Wah kedengarannya cukup aneh dan unik juga ya, meminjam istilah pak sutan batugana DPP Partai Demokrat “ngeri-ngeri sedap”. Istilah apalagi satu ini, kok di kaitkan dengan pak sutan segala dimana nyambungnya ya. Walau tidak nyambung di sambung-sambung aja kali ya, karna dalam politik pun selalu mengait-ngaitkan dengan sesuatu yang lain, Bahkan sering dicari sambungannya (kabel kali di sambung). Kalau anda tidak percaya saya akan ceritakan sedikit, walau cerita ini agak disambung-sambung tapi gak apa-apalah yang penting baca aja. Dan kesimpulannya bisa anda percaya atau tidak terserah, itu bukan urusan gw.

Ada seorang politisi kaya raya, perut buncit, kepala botak dan kikir. ia dari salah satu partai ternama di negri ini. Rencananya dia ingin mencalonkan diri kembali dalam pilcaleg bulan april nanti, sebagai incumbent ia sudah banyak mempersiapkan segala sesuatu termasuk ongkos politik yang jumlahnya bejubel. Sebagai anggota DPR tentunya dia menikmati fasilitas Negara seperti mobil, rumah, gaji, tunjangan bonus dll. Dengan fasilitas tersebut sang anggota dewan memiliki gaya hidup baru, hidup alay kayak anak mudah malas hidup mati tak mau. Kemana-mana selalu didampingi oleh istrinya yang cantik sambil mengendarai mobil mercy, stelan baju mahal pun tak luput ia pakai.

Bila mengunjungi konstituennya di desa-desa yang jauh dari pusat kota, belum lagi jaraknya yang amat jauh. Dan harus memasuki wilayah hutan yang menghabiskan berjam-jam lamanya untuk sampai ke daerah tujuan, jalan yang berlubang menjadi pemandangan disepanjang perjalanan. Ya tepatnya jalan yang selama puluhan tahun tak pernah disentuh itu menjadi bertambah rusak ketika hujan deras datang dan menggenangi seluruh badan jalan. Keadaan dalam mobil seperti di hantam gempa bumi berkekuatan 5,1 skala licter, menggoncang seluruh isi mobil.

Namun karna tekad sang dewan untuk duduk kembali di kursi legislatif sangat kuat, walau harus mendatangi rumah penduduk yang cukup jauh. Akan tetapi ia tetap bersikeras untuk mendatangi warga tersebut walau bersusah payah untuk sampai kesana. kata yang tepat bagi perjuangan sang calon ini, mungkin ada dalam liriknya bang rhoma irama “Berakit-rakit ke hulu berenang ketepian” susah-susah dahulu baru senang kemudian.

Aneh memang selama ia duduk di parlemen bisa dihitung berapa kali ia mendatangi konstituennya dan menyampaikan aspirasi warga. Kira-kira ia datang setelah menjadi anggota dewan hanya satu kali dan itupun hanya datang untuk meresmikan pertandingan sepak bola antar desa. Pada saat pertama kali ia datang sebagai calon anggota dewan, dia memberikan berbagai bantuan seperti bahan sembako, memperbaiki rumah tak layak huni, membagi-bagikan uang pecahan lima puluh ribu bahkan ada yang mendapatkan seratus ribu dan berbagai macam janjinya termasuk untuk memperbaiki jalan yang rusak, membangkitkan tenga listrik berbasik tanega surya, membangun waduk untuk pengairan sawah dan mesin traktor. Janji itu bagaikan sihir merasuk dalam otak warga merembes kesemua orang dengan cepat, sehingga banyak warga yang mau pasang badan sebagai martil.

Semua masyarakat senang dengan janji kampanye caleg ini, bahkan memperlakukannya sebagai orang terpandang dan dihormati sebab ia datang bak dewa mengilhami desa ini. Namun setelah kemenangannya di pilcaleg 2009 lalu, ia pergi dengan janjinya tanpa memperdulikan nasib konstituennya.

Dari penggelan cerita pendek diatas dapat kita tarik benang merahnya, bahwa elit politik memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memenuhi hasrat politiknya walau penduduk desa menjadi korban. Kekuasaan memang cukup seksi diperebutkan para elit politik. Hingga tak jarang kita saksikan di media sosial (TV) mereka secara vulgar memperlihatkan hasratnya.

Pada dasarnya politik adalah usaha untuk menciptkan masyarakat sejahterah, seperti yang dikatakan seorang tokoh klasik abad yunani Aristoteles “political zoon” (binatang politik). Aristoteles telah merumuskan satu pondasi dasar tentang etika politik santun di abad ke-450 SM. Namun amat berbeda ketika manusia telah menemukan teknologi dan kemajuan (peradaban), pasca revolusi industry di inggris eropa telah menjadi satu kekuatan yang mampu menandingi kemajuan islam di masa kejayaan khalifa. Revolusi industry telah mendorong eropa mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan khususnya teknologi, setelah ditemukan mesin uap, mesin ketik dan kapal. Mereka melakukan ekspansi secara besar-besaran untuk mengkolonialisasi Negara-negara terbelakang dunia ketiga.

Di abad ke-20 lahirlah pemikir jenius dari kalangan aristokrat menengah di italia, dialah pemikir tersohor sepanjang abad, dicaci maki sebab ia menganjurkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Nicolo Machiavelli sang pemikir terkemuka itulah namanya, dalam surat yang ia tujukan kepada mediccin penguasa Florence berisi nasehat-nasehat agar mendapatkan perhatian dari raja. Buku yang terkenal ia tulis adalah il princes (sang pangeran), namun ia di anggap sebagai orang yang tidak memperhatikan aspek moral dalam politik dan di cap hitam. Akan tetapi bagi penulis sendiri melihat secara obyektif usaha-usaha yang dilakukan oleh Machiavelli untuk mempertahankan negaranya dari musuh sangatlah wajar, apalagi italia pada saat itu mengalami krisis politik. Sehingga ia menjelaskan politik berdasarkan pengelamanya selama menjadi pejabat Negara urusan luar negri. Anjuran dalam il princes juga mendapat sambutan yang cukup baik bagi kalangan selanjutnya

Maka tak heran kalau kita berbicara politik banyak mengadung anomali disana sini, sebab praktek tersebut sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Misal saja dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), selalu saja terjadi sengketa antar kandidat dan hampir semua diselesaikan di mahkama konstitusi (MK).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s