Matinya Rasa Kemanusiaan


 20150131_200736

 

Oleh: bung rulan

Semangat positivisme di era digital memungkinkan manusia menjadi subjek bagi dirinya sendiri, sekaligus menegaskan bahwa manusia telah menjadi sangat individual. Kerangka epistemologi dibangun berdasarkan cita-cita kemanusiaan yang hampa dari nilai etik transendental. Manusia tercerabut dari akar sejarah eksistensi, dan mengalami apa yang disebut sebagai hilangnya diri dalam diri. Keadaan ini telah melanda subyek-subyek di era virtual, subyek telah berevolusi kedalam dunia yang tak tercakapkan. Seperti halnya manusia modern yang telah menepaki jejak-jejak peradaban dengan semangat saintis positivistik, mesin teknologi menjadi pusat penghambaan. Ketika relasi manusia dengan mesin menjadi suatu simbiosis mutualisme, mengarahkan cara berpikir rasional instrumental manusia modern kedalam cara berpikir berdasarkan angka-angka (statistik).

Penciptaan mesin untuk menggantikan peran serta subyek, sebagai suatu konsekuensi logis dari sebuah peradaban barat. Yang menghandaki adanya efisiensi dan efektifitas pekerjaan subyek. Mesin memang telah menjadi alat yang membantu pekerjaan manusia, mulai dari alat untuk membuat kopi sampai peralatan perang (Alutsista) milliter yang super canggih. Baru-baru ini misalnya terjadi perang melawan teroris (Isis) di Suriah dan Irak, dimana masing-masing menggunakan peralatan modern yang super canggih untuk mengalahkan satu sama lain. Tak terhitung berapa jumlah peluru yang telah dimuntahkan oleh mesin kecil bernama senjata, namun walau kecil akibatnya sangat besar. Korban manusia jatuh berantakan seiring muntahan peluruh dikeluarkan, mereka mati tanpa punya kesempatan bertanya why must me die?. Orang-orang yang meninggal lebih banyak rakyat sipil dari pada militer maupun kelompok yang di anggap sebagai teroris, mujahid atau sebutan lainnya.

Ya,,, mesin memang sangat efektif menciptakan keadaan yang damai tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan. Manusia menciptkan alat-alat tersebut dengan dalih mempertahankan kedaulatan Negara dari ancaman luar. Yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja bila hubungan kedua Negara keruh dan mengambil sikap ofensif maupun defensive. Namun bila Negara adi kuasa yang berseteru, sudah langsung bisa ditebak kekuatan apa yang akan digunakan. Tentu Alutsista yang modern dengan berbagai generasi di munculkan sebagai reaksi. Namun pernahkah kita bertanya bahwa senjata yang diciptakan justru menciptakan hibriditas kemanusiaan. Proyek utamanya adalah dehumanisasi secara besar-besaran, membunuh tanpa memiliki rasa kemanusiaan. Inilah yang saya sebut diatas tadi bahwa rasio instrumental telah tergantikan dengan rasio statistic. Mesin tidak memiliki nilai (Free value) sebab ia objektif, melainkan manusialah yang memasukan nilai kepentingan kepada mesin tersebut. Ketika mesin-mesin telah menjadi alat manusia untuk bebas melakukan apa saja termasuk mengumandangkan perang. Artinya rasa kemanusiaannya telah mati tergerus oleh sahwat kekuasaan. Membunuh rakyat sipil dengan kejam tanpa melakukan perlawanan adalah kejahatan perang yang tidak bisa di terima secara rasio dan hukum internasional.

Rasio statistik hanya dapat menghitung besar kecil kemungkinan menang atau kalah, bila rudal balistik ditembakkan ke daerah pemukiman warga maka secara statistik dapat dihitung besar kecilnya kerugian yang menimpa obyek. Didalam angka (statistik) tidak terdapat rasa kemanusiaan (Humanistik) yang dapat memilih dan memilah kebaikan atau keburukan. Yang menjadi suatu cita-cita seluruh umat manusia, melainkan jumlah angka kerugian yang ditimbulkan oleh mesinlah yang dapat dihitung berdasarkan statistik. Perbedaannya dengan rasio, mereka akan mempertimbangkan dengan rasional apakah membunuh manusia atau tindakan destruktif etis atau tidak.

Akhir-akhir ini kemajuan selalu di persepsikan sebagai usaha rasional manusia menuju penciptaan teknologi. Teknologi sudah menjadi barang yang satu padu dengan manusia, seolah tanpa teknologi kita tak akan banyak berbuat apa-apa. Dari waktu ke waktu selalu muncul barang baru dari generasi ke generasi, sebut saja hand phone (smart phone). Benda ini awalnya belum dilengkapi dengan fasilitas fitur yang memanjakan para pengguna smart phone, tetapi semakin maju pengetahuan manusia maka semakin canggih pula desainnya. Begitu pula dengan motor, mobil, computer, internet dan sebagainya. Alat-alat tersebut seperti nyawa kedua kita, kemana-mana selalu menenteng gadget, rasanya seolah ada yang hilang bila tidak membawa benda pintar ini.

Ketergantungan terhadap teknologi bukan saja datangnya dari Negara adi daya, yang dimana-mana terdapat cerobong asap industry, melainkan Negara berkembangpun turut andil memanfaatkan teknologi untuk penggunaan pembangkitan tenaga listrik berdaya nuklir dan mesin lainnya. Hanya saja walau masing-masing memiliki persamaan tetapi perbedaaan kebutuhan sangatlah besar antara kedua Negara. Sangat bergantung pada roda industry dalam negeri, sehingga pasokannya mengikuti kebutuhan. Disini dapat kita memberikan sebuah kesimpulan walau kadang perlu di evaluasi secara sistematis. Sebuah Negara baik itu Negara maju sampai Negara terbelakang (dunia ketiga), sangat membutuhkan teknologi untuk menunjang kemajuan Negara dan memudahkan kerja manual ke otomatis. Teknologi juga menjadi salah satu ukuran beradab atau tidaknya kita maupun Negara, kita tidak bisa di anggap beradab kalau buta teknologi. Teknologi juga mampu mengkonstruksi cara pandang (red-ideologi) manusia modern untuk menjustic beradab atau tidak beradab, terbelakang atau maju dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s