Inilah kami: Para Pemuda Progresif


20150131_200736oleh: bung rulan

“Kebutuhan kita bukan sekedar keberanian semata lebih pada pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner” Tan Malaka.

Indonesia pasca reformasi bergulir mengalami masalah yang begitu kompleks diberbagai sektor, mulai sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, layanan dasar kebutuhan masyarakat dan sebagainya. Persoalan mendasar yang di hadapi bangsa ini adalah tidak adanya niat baik atau kemauan politik (Political Will) dari Negara untuk menangani persoalan yang ada. Seolah Negara tidak hadir disetiap sendi kehidupan masyarakat, masyarakat dibiarkan untuk terus mengalami nasib buruk menghadapi perusahaan dan investor asing mengambil alih secara paksa tanah miliknya. Bahkan Negara melalui institusi resmi seperti pengadilan memenangkan gugatan dari perusahaan, untuk mengambil secara resmi tanah rakyat. Apapun alasannya tidak dapat kita terima secara nalar rasional, bahwa Negara lebih mementingkan orang-orang yang memiliki modal besar dibandingkan dengan rakyat yang tidak memiliki apa-apa. Modal (uang) selalu menjadi panglima untuk memuluskan setiap agenda dalam berbagai macam urusan, bila demikian realitasnya yang terjadi lalu bagaimana dengan mereka yang tak memilliki modal untuk membayar uang pelicin.

Eksploitasi dan penindasan terhadap kaum marjinal menjadi tontonan keseharian kita di negri ini, yang berkuasa menindas atas yang dikuasainya, penjarahan sumber daya alam (SDA) terdapat dimana-mana terutama daerah yang memiliki kandungan kekayaan alam melimpah. Kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia tak terhitung jumlahnya, potensi tersebut disediakan oleh alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Akan tetapi kekayaan alam bukannya malah memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi rakyat lapis bawah, akan tetapi justru menjadi bencana besar bagi mereka. Masuknya investor asing membuka lahan pertambangan di sekitar daerah pemukiman warga, untuk mengelolah sumber daya alam (SDA). Kerusakan ekosistem alam akibat tambang menimbulkan bencana dan erosi yang menimpa manusia, alam tidak lagi bersahabat dengan manusia akan tetapi alam justru murka dengan tingkah laku manusia yang eksploitatif sehingga bencana muncul kapan saja dana dimana saja.

Masih segar dalam ingatan kita kasus yang baru-baru ini terjadi di lumajang, dimana seorang aktifis kontra tambang dipukul, diseret dan dibunuh depan umum tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Salim kancil adalah sosok aktifis yang teguh terhadap komitmen untuk menolak tambang pasir dilumajang yang berujung pada pembunuhan oleh suruhan dari kepala desa selor awar-awar. Tambang selalu menjadi momok yang sangat menakutkan, bukan hanya wajahnya saja yang menakutkan tetapi dampak yang ditimbulkan teramat besar bagi warga. Namun bila melihat Negara kita lebih memposisikan diri pada barisan tambang, mendukung dan mempermudah perizinan dalam mengksploitasi alam sebesar-besarnya. Negara tidak lagi memberikan rasa aman, tentram dan kesejahteraan bagi rakyat, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang dasar kita.

  • Peran Intelektual Muda

Berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncangkan dunia, pekikan orasi bung karno menjadi inspirasi gerakan pemuda Indonesia dawasa ini. Sepuluh pemuda yang mempunyai spirit perubahan bagi soekarno dapat menggerakan dunia ini, pemuda yang memiliki inovasi dan kreatifitas semangat membangun bangsa sangat menggebu-gebu, entah itu melalui propaganda ke masyarakat dengan harapan mereka tersadarkan atau dengan cara-cara revolusioner progresif. Semangat perubahan untuk mewujudkan suatu bangsa dengan tatanan kehidupan berkeadilan adalah cita-cita luhur, yang pantas diperjuangkan .

Pemuda memiliki gagasan dan ideologi yang tegak seperti tiang bendera, tahan banting dan tidak mudah roboh oleh hempasan angin pragmatisme. Kita tidak bisa menaruh harapan besar bagi perubahan mendasar negri ini, apabila golongan tua yang konservatif masih memegang kendali kekuasaan. Kalangan tua tidak progresif baik secara gagasan maupun secara tindakan, banyak pertimbangn politis yang muncul bila memutuskan persoalan tentang rakyat.

Rakyat hanya dijadikan sebagai komoditi politik, untuk mendapatkan kekuasaan. Jargon memberantas kemiskinan, ganyang koruptor, kesehatan gratis dan sebagainya menjadi jualan politik yang laris manis, ditengah kehidupan semakin menyempit. Sekali lagi kita tidak bisa memberikan kepercayaan kepada mereka golongan tua untuk merubah tatanan bangsa yang sedang karut marut. Sikap politiknya sering menggunakan standar ganda, yang penting dapat menguntungkan bagi dirinya sendiri dan partai politik. Jangankan rakyat konstituennya bahkan negarapun dapat mereka jual ke asing, tumbuh suburnya perusahaan asing di Indonesia merupakan bukti bahwa mereka tidak becus mengurus negeri ini.

Disinilah peran penting pemuda untuk mengambil alih agenda perubahan sosial yang menjadi cita-cita bersama. Tranformasi perubahan masyarakat sangat penting di perjuangkan, dimana kondisi rakyat sangat memprihatikan yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Akibat sistem liberal dijadikan sebagai sistem dalam Negara, hanya kaum kapitalis yang menguasai sebagian besar hajat hidup orang banyak.

Semangat pemuda yang lahir dari dasar jiwa dan pikiran, tak akan mudah digoyahkan dengan senapan serdadu, bom Molotov, busur, pentungan, watter cannon dan gas air mata. Militer dan kepolisian selalu menjadi alat penguasa untuk menindas, memukul dan menyeret ke sel tahanan. Akan tetapi dalam diri pemuda terdapat gelora semangat berapi-api, bahkan air pun tak dapat memadamkan api semangat pemuda. Karena hanya pada kebenaran dan keadilan lah mereka berkiblat dan tujuan menciptakan suatu konstelasi masyarakat sivil society dan demokratis.

Ada banyak anak-anak muda yang memiliki gagasan-gagasan besar namun tidak semua dari mereka yang revolusioner progresif baik dari gagasan maupun tindakan. Sebab mengambil sikap Revolusioner memiliki konsekuensi besar dinegri ini, yang dihuni sebagian besar dari kalangan konservatif yang menghendaki perubahan dengan gaya yang teramat lambat dan cenderung alot. Akan tetapi mereka yang punya nyali besar, mempertaruhkan segalanya bagi perubahan Indonesia menghendaki agar segera merubah konstelasi dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ke-arah yang lebih santun dan demokrasi.

Meminjam istilah Antonio Gramsci apa yang disebutnya sebagai intelektual organik-lah yang mampu merubah realitas masyarakat ke-arah yang lebih manusiawi ketimbang hidup dibawah kaki rezim yang manut-manut pada asing. Selaras dengan Rausyan-Fiqr Ali Syariati yaitu hanya mereka-mereka yang tercerahkan yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik lagi. Yaitu mereka-mereka orang pilihan yang selalu bersama-sama rakyat mengawal, mengadvokasi dan memberikan pendidikan politik, orang pilihan tidaklah mayoritas melainkan minoritas. Akan tetapi mereka mampu memainkan peran strategis dalam mensetting agenda perubahan sosial yang transformative.

Bukanlah kepada mereka (Intelektual Tradisional) yang sibuk merumuskan teori dan berada persis di atas menara gading, bahkan mereka cenderung menjadi alat penguasa melegitimasi kekuasaan dengan pengatahuan (relasi kuasa dan pengatahuan). Sehingga semakin mengokohkan eksistensi kekuasaan, penguasa membutuhkan para aktor intelektual sebagai penyangga jalannya kekuasaan agar tidak mudah digerogoti dan dilengserkan begitu saja oleh lawan politik (oposisi) untuk dilengserkan. Negara kita pernah merasakan kondisi seperti ini, ketika kekuasaan di pegang kendali oleh Soeharto selama 32 tahun lamanya.

Bangsa ini tidak akan maju bila masih dipegang kendali oleh kalangan tua dengan paradigma kolot (konservatif), yang cenderung menggunakan teori pembangunan ala Rostow bagi pembangunan Indonesia. Dalam sekejap saja bangsa kita menjadi bangsa penghutang, terlilit dalam pukat harimau IMF dan Word Bank. Kalau sudah demikian adanya, maka bisa jadi Negara kita akan dijual ke asing.

Hanya kepada pemudalah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi macan asia. Disegani oleh Negara-negara tetangga karena dalam visi misi pemuda terkandung bara api perubahan yang menggelora.

  • Merumuskan Kembali Gerakan Pemuda

Hampir disetiap perubahan gerak sejarah perjalanan bangsa Indonesia mulai di masa awal-awal pra-kemerdekaan 1908 para pemuda membangun organisasi boedi utomo di stovia. Organisasi ini merupakan cikal bakal lahirnya semangat Negara bangsa (nasional state). Kemudian pada tahun 1928 sumpah pemuda mereka bersepakat untuk menyatakan bahwa kita adalah Indonesia yang satu, walau memiliki banyak perbedaan. Kemudian berlanjut di tahun 1965 pergantian rezim, sampai reformasi ditahun 1998 merupakan buah dari kerja keras anak-anak muda yang gandrung terhadap perubahan.

Mereka banyak belajar dari gerakan perlawanan di berbagai Negara yang sedang melakukan revolusi sosial. Di iran ada Imam Khoimeni, Fidel Castro di cuba, Mao Zedong di cina, Che Guevara dan banyak figur-figur lainnya yang dijadikan sebagai model perlawanan. Tak bisa disangkal lagi peran-peran strategis yang di mainkan pemuda memberikan kontribusi baik pikiran maupun tindakan atas bangsa kita. Pemuda merupakan lokomotif bagi terjadinya perubahan, mereka adalah wadah bagi ide revolusioner.

Dulu kita masih menyaksikan bagaimana pemuda mampu bersatu dan memobilisasi massa untuk bergerak menumbangkan rezim otoriter-totaliter, yang berkuasa selama 32 tahun lamanya. Mereka beramai-ramai menduduki gedung parlemen berhari-hari dan memaksa Soeharto turun dari tahta kekuasaan yang didukung penuh militer. Apa yang membuat gerakan pemuda pada masa itu dapat secara bersama-sama bergerak seolah ada komando dari pimpinan mengharuskan untuk turun. Melainkan mereka sadar bahwa kekuasaan yang represif, menindas rakyat adalah kekuasaan yang semena-mena dan harus ditumbangkan dan menyeret para kroni-kroninya ke pengadilan rakyat.

Namun di akhir-akhir dasawarsa ini justru gerakan pemuda mengalami penurunan drastis, entah itu karena persoalan bahwa mereka tidak lagi memiliki gagasan besar seperti para pendahulu kita ataukah gerakan pemuda telah dikucilkan, diremehkan dan lecehkan karena menghamba pada kekuasaan. Namun tak sedikit juga dari mereka yang tetap komitmen membangun kesadaran pak tani, buruh, nelayan dan kaum miskin kota dengan memberikan pemahaman ekonomi politik Marxian sehingga mereka dapat membangun aliansi perlawanan terhadap rezim.

Kaum tertindas adalah wadah bagi kalangan pemuda untuk tetap mengobarkan api semangat perlawanan dan buruh sebagai pemantik. Sudah saatnya untuk bergerak, bergerilyah keladang-ladang, di sawah, dilaut, digunung dan sebagainya untuk merangkul semua memberikan pendidikan politik dan mengajarkan tentang cara membangun organisasi yang rapi tahan terhadap intervensi luar yang kadang ingin membubarkan. Setelah mereka di ajarkan dengan baik, pemuda tidak boleh meninggalkan mereka untuk berjuang melainkan pemuda harus bersama-sama rakyat membangun semangat perlawan kepada rezim yagn cenderung fasis.

Kelemahan gerakan pemuda dan mahasiswa dewasa ini, yaitu dengan berjuang sendiri-sendiri. Mengangkat bendera masing-masing walau kita tahu bahwa musuhnya adalah sama, egosentrisme organisasi terkadang muncul disaat yang tidak tepat sehingga gerakan mahasiswa terkooptasi oleh orang-orang yang menghendaki gerakan tersebut layu hingga akhirnya mati.

Munculnya organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi non-pemerintahan (Ornop) serikat buruh dan aliansi gerakan lainnya tumbuh subur bak jamur dimusim hujan. Tumbuhnya lembaga-lembaga tersebut tidak meniscayakan gerakan perlawanan mendapatkan tempat yang layak bagi kalangan publik, justru semakin memperkecil massa aksi dengan adanya berbagai macam organisasi dan aliansi lainnya. Sehingga daya gedor perlawanan kian melemah, maka pihak keamanan baik polisi, militer maupun para preman dengan mudah membubarkan secara paksa aksi-aksi yang digelar.

Kita harus mampu mengevaluasi kembali gerakan selama ini, mengapa kemudia selalu mudah di pecahkan konsentrasinya kedalam berbagai fragmen gerakan. melakukan otokritik terhadap manazemen aksi mencari tahu dimana letak-letak kelemahannya, sehingga dapat dirumuskan kembali model gerakan seperti apa yang tepat dan strategis untuk di pakai. Inilah tugas berat kita bersama dan bila tidak segera dipikirkan maka besar kemungkinan akan mengalami nasib yang sama seperti gerakan perlawanan lainnya yang mudah di pecahkan. Membagun gerakan radikal, militan dan kritis tentu harus melalui pendidikan politik yang membebaskan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s