Sejarah Penamaan Bima


20150131_200736

Oleh: Bung Rulan

Dahulu kala masyarakat Bima hidup tentram, aman dan berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bercocok tanam di sawah dan diladang, mereka menanam berbagai biji-bijian sebagai persediaan. Selain itu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai memilih untuk menjadi nelayan atau penangkap ikan, kemudian di jual di pasar atau ditukarkan dengan barang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Corak kehidupan keseharian sangat di pengaruhi oleh ajaran yang mereka anut, seperti agama hindu dan budha. Kedua agama ini tidak diketahui kapan masuk di bima, catatan-catatan sejarah tidak menjelaskan tepatnya sejak kapan. Akan tetapi agama tersebut telah lama menjadi kepercayaan masyarakat sebelum Islam masuk menjadi kebudayaan besar.

Bima adalah nama teritorial wilayah yang di huni oleh masyarakat Mbojo yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Nama Bima sendiri di percaya datangnya dari seorang putra kerajaan jawa yang datang kebima, ia berlayar dari jawa hingga berlabuh di pulau satonda. Cerita tentang sejarah Bima tidak banyak di temukan dalam bentuk manuskrip atau tulisan, karena masyarakat kita mengenal sejarah Bima berdasarkan pada hasil cerita (Mpama) yang diceritakan secara terus menerus oleh nenek moyang dan diwariskan kepada orang tua kita. Dari cerita tersebut sebagian besar dari sejarahwan Bima menyakini cerita tersebut sebagai sejarah Bima yang asli.

Cerita tersebut terus diwariskan dan diceritakan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya, sehingga cikal bakal lahirnya kerajaan Bima berawal dari Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai lima orang putra yaitu: 1). Darmawangsa; 2). Sang Bima; 3). Sang Arjuna; 4). Sang Kuta; dan 5). Sang Dewa. Salah satu dari kelima putra raja tersebut berlayar kearah timur dan mendarat tepat di sebuah pulau yang diberi nama pulau Satonda.

Dari cerita (Mpama) yang penulis dapatkan sewaktu kecil di ceritakan oleh seorang guru. Setelah Sang Bima sampai dipulau Satonda ditengah perjalanan, tepatnya disebuah sungai Sang Bima bertemu dengan Putri Ular penunggu sungai. Kemudian dari pertemuan pertama itu akhirnya mereka menikah dan memiliki keturunan dari jenis bangsa Jin. Garis keturunan itu di kuatkan oleh beberapa catatan nama-nama keturunan Sang Bima dari jin yang ada di ASI (tempat kediaman raja sekarang sudah di alih fungsikan menjadi Museum). Selain Sang Bima bertemu dengan Putri Ular di Satonda terdapat sebuah pohon besar nan rindang dengan cabang-cabangnya yang banyak, namun pohon tersebut tidak memiliki daun. Konon Masyarakat setempat memberikan nama pohon dengan nama pohon batu, disebabkan hanya terdapat gantungan batu yang dililitkan lalu di ikat di cabang dan ranting pohon. Masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut sebagai sebuah simbol pengharapan kepada yang gaib bahwa semua permintaannya akan di kabulkan.

Masyarakat Bima yang terdiri dari beberapa wilayah kecil di yakini di pimpin oleh seorang raja yang disebut sebagai Ncuhi, ncuhi sendiri merupakan orang yang berkuasa dan menjadi pemimpin adat, secara garis besar bahwa di Bima terdapat beberapa penguasa/ncuhi yang masing-masing membagi wilayahnya kedalam lima ncuhi di antaranya yaitu; pertama Ncuhi Dara yang memiliki wilayah kekuasaan di bagian tengah Bima (Mbojo), kedua; Ncuhi Parewa yang berkuasa penuh pada wilayah Bima bagian selatan, ketiga Ncuhi Padolo yang memegang kekuasaan pada wilayah bagian barat, keempat Ncuhi banggapupa yang memiliki otoritas kekuasaan pada wilayah Bima bagian utara dan kelima; Ncuhi Dorowani yang memegang tampuk kekuasaan pada wilayah Bima bagian timur.

Struktur kekuasaan para Ncuhi masih sangat sederhana bila dibandingkan dengan struktur kekuasaan di era modern sekarang. Sehingga para ncuhi punya otoritas kekuasaan yang cukup besar atas kemaslahatan rakyatnya, para ncuhi punya peran besar terhadap aturan yang boleh dilakukan atau tidak oleh masyarakat. Walau wilayah Bima terbagi kedalam lima bagian yang dipimpin para ncuhi, kehidupan meraka aman, damai, tidak ada perselisihan. Segala macam keputusan yang menyangkut melibatkan teritorial ncuhi lain, maka akan di adakan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan proses secara bersama. Yang bertindak sebagai pemimpin rapat biasanya di dominasi oleh Ncuhi Dara, sebab ncuhi dara merupakan pusat Bima yang berada tepat di tengah-tengah kerajaan Bima.

Tepat setelah sang bima putra Maharaja Pandu Dewata datang kebimalah yang telah menyatukan kelima para ncuhi, menjadi satu kerajaan besar yang disebut sebagai Kerajaan Bima. Mulai saat itulah tanah bima (dana Mbojo) disebut sebagai sebutan”BIMA” yang berasal dari nama sang bima sebagai raja pertama, kemudian di beri gelar sebagai Sangaji Mbojo. Artinya nama Bima bukan asli di ciptakan masyarakat setempat yang memiliki nilai kearifan lokal, melainkan nama putra raja jawa yang berhasil menjadi raja pertama.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dari mana nama “Mbojo” di temukan atau sejak kapan nama ini dipakai oleh masyarakat bima. Adakah kemungkinan nama mbojo lebih dahulu ada ketika nama bima resmi menjadi nama kerajaan? Adapun kitab Bo’ Sangaji Kai adalah catatan harian yang ditulis oleh bumi luma rasanae sepanjang periode 1765-1790. Yakni pada masa awal pemerintahan sultan abdul hamid Muhammad syah. Catatan harian tersebut tidak menceritakan sejarah bima melainkan cerita tentang peristiwa, kisah, fakta yang terjadi pada masa kekuasaan sultan Abdul Hamid.

Syarifuddin Jurdi penulis buku (Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius) menjelaskan bahwa kata Mbojo mengandung makna-makna teologis keagamaan dan cultural. Mbojo mengandung makna teologi, karena kata mbojo sering dikaitkan dengan babuju yang berorientasi tinggi. Dalam terminologi agama yang tinggi merupakan orientasi religious, bahkan dalam soal lain istilah Babuju, Kabuju dan Kandase merupakan istilah religious tentu sebuah interpretasi atas makna-makna filosofis yang terkandung dalam agama. Istilah mbojo menurutnya terdapat pesan agama didalamnya, entahlah apakah pesan agama Islam, Hindu atau Budha. Sedangkan menurut penulis sendiri nama mbojo jauh sebelum islam datang kebima yang disebar luaskan oleh para datuk dari kerajaan Gowa, Tallo Dan Luwu. Setelah kerajaan bima resmi memeluk islam sebagai agama kerajaan, maka bentuk kerajaan pun berubah menjadi kesultanan. Sedangkan menurut penulis Nama Mbojo sendiri di ambil dari kata Babuju. Babuju sendiri merupakan sebuah istilah yang menggambarkan hasil panen masyarkat mbojo yang sangat banyak, penuh hingga tidak mampu di tampung lagi oleh karung.

Kata Babuju di ambil dari sebuah tempat yang ada di kota bima sekarang tepatnya di pasar tradisional kampung Sumbawa. Disana terdapat ruas tanah yang datar namun di tengahnya memiliki benjolan tanah yang menbentuk semacam bukit kecil. Disinilah kata babuju di ambil lalu di asosiasikan dengan berlimpahnya hasil panen masyarakat setiap tahun. Dari situ muncul motto bima “Ngaha Aina Ngoho” arti bebasnya makan dan jangan tebang kayu di hutan “semacam membakar hutang untuk keperluan tanam padi, kedelai, kacang dan sebagainya. Dan selanjutnya muncul pula motto bima lainnya yang menjadi panduan hidup masyarakat dimanapun ia berada. Yaitu Maja Labo Dahu (malu dan takut) mungkin dikesempatan lain penulis akan membahas khusus tentang motto ini.

Benarkah demikian adanya bahwa nama Bima berasal dari sang bima. Sang penakluk para ncuhi yang punya kekuasaan besar di bima. Inilah mengapa kemudian penulis dan sebagian besar pemuda dan mahasiswa lainnya tidak mendapatkan catatan sejarah yang komprehensif, tentang sejarah bima yang ditulis oleh nenek moyang terdahulu. Generasi sekarang mempelajari sejarah bima hanya mengandalkan cerita (Mpama) dari para tetuah yang sering mengisahkan ketika sebelum tidur. Kalau menelisik lebih jauh yang dimaksud dengan mpama (cerita) merupakan sebuah mitologi yang dibesar-besarkan dengan menambahkan ilusi agar jalannya alur cerita Nampak indah, patriot dan menegangkan. Kita banyak mengenal mitologi yang datang dari yunani, arab, skandanavia dll.

Nah kalau di atas hanyalah sebuah mpama belaka dapatkah kita mempercayainya sebagai sebuah kebenaran sejarah tanpa distorsi dan kontradiksi dimana-mana. Sebab masing-masing dari orang tua kita memiliki cerita sangat beragam pada cerita tertentu, sehingga dari desa satu maupun yang lain memiliki perbedaan cerita. Sejarah bima tentu menjadi cerita yang sangat rumit sekaligus menarik. Sebab mengetahui sejarah diri akan mengantarkan kita menjadi suatu bangsa yang besar. Sebuah bangsa yang tidak mengenal jati diri sejarahnya besar kemungkinan akan menajdi bangsa yang mengulangi kesalahan-kesalahan fatal di masa lampau dan kehilangan identitas lokal wisdom (kearifan lokal). Untuk itu generasi sekarang dituntut untuk mencari tahu sejarahnya sendiri dari berbagai literature dan penelitian yang didukung oleh Mpama para tetuah untuk mendapatkan otensitas sejarah Bima.

Ada yang menarik menurut penulis dari beberapa nama bima yang di yakini secara bersama, datangnya dari sang bima sehingga kata bima menjadi nama daerah. Sebagian kecil masyarakat bima percaya bahwa asal muasal kata bima bukan dari nama sang bima, melainkan kata bima di ambil dari kalimat Al-Quran yaitu Bismillah, yang ditafsirkan secara sederhana sebagai sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai kebudayaan islam, adat istiadat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Setelah Islam masuk di Bima dan menjadi agama mayoritas muncul berbagai aliran atau sekte dalam masyarakat seperti aliran tasawuf dll. Memang terbilang masih sedikit orang yang mengaitkan kata Bismillahirrahmanirrahim dengan sebutan nama Bima. Namun satu yang pasti bagi mereka yang percaya bahwa bahwa nama bima di ambil dari kata bismillah. Sebab sampai sekarang catatan sejarah tentang sang bima putra raja jawa juga tidak dapat dijadikan sebagai patokan sebab tidak ada catatan sejarah tertulis yang dijadikan sebagai bukti pembenar.

Masyarakat kita sangat terbatas untuk mengakses informasi sejarah bima, sebuah sejarah yagn ditutur dengan sederhana, lugas tentu terdapat nilai kebenaran yang terkandung didalamnya. Sebab sejarah adalah sebuah fakta yang telah terjadi dan tidak bisa di ubah sesuka penguasa yang ingin melebih-lebihkan kisah mereka. Bila suatu penguasa merekonstruksi sejarah perjalanan bima sama persis dengan rezim orde baru yang telah mengalihkan sejarah Indonesia. Sehingga generasi pelanjut menjadi buta sejarah. Michel Foucoult mengatakan bahwa sejarah cenderung diceritakan sesuai keinginan penguasa karena produksi pengetahuan sangat bergantung kepada siapa yang berkuasa. Untuk itu penulis mengajak kepada pembaca agar menjadi pembaca yang kritis apalagi tentang sejarang bima.

Walahu Alam Bisowad

Referensi:

Syarifuddin Jurdi, 2007, Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius, CNBS

Henri Chambert, Siti Maryam dkk, 2010, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: KPG

Samata Gowa, Minggu, 04/12/15

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s