Membakar buku termasuk kejahatan kemanusiaan


bukuoleh: bung rulan

Akhir-akhir ini dunia maya ramai dibicarakan tentang usaha segerombolan orang yang ingin membakar buku bacaan, entah apa yang ada dalam benak pikiran mereka sampai ingin menghancurkan buku. Padahal kita ketahui dengan buku kita bisa membuka jendela dunia selebar-lebarnya. Tidak bisa dibayangkan ketika dunia sudah tak lagi memiliki buku untuk dibaca, mungkin negeri ini akan menjadi negeri yang dikutuk oleh tuhan karena membenci ilmu pengetahuan.

Pelarangan terhadap beredarnya buku-buku yang beraliran kiri, mulai dari cendekiawan abal-abalan sampai kepada kepala perpustakaan nasional Indonesia. Ia mendukung upaya pembakaran buku marxisme yang mengandung ajaran/ideology komunisme. Bila kita mencermati seobyektif mungkin terkait komunisme, saya berpikir kita akan merasa malu dengan sendirinya. Karena sumbangsih ideologi komunisme terhadap semangat perlawanan masyarakat Indonesia terhadap kolonialisme belanda. walau saya tak bisa menampik adanya partai komunis Indonesia PKI yang menggunakan cara-cara keji membunuh para jendral, dibawah payung ideologi komunisme. Akan tetapi kita tiddak boleh melakukan generalisasi bahwa PKI mewakili komunisme. Saya bukan simpatisan PKI namun saya membela apa yang sudah seharusnya dibela, agar Negara ini tidak gagap sejarah.

Saya berdiskusi panjang lebar dengan beberapa teman di twitter yang mendukung buku-buku kiri dibakar. Komentar-komentar mereka bernada tendesius dan ambisius, tidak mampu menghadirkan fakta objektif mengapa mereka seperti predator buku. alasan-alasannya sangat sederhana menyamakan buku kiri dengan buku jihad yang membuat masyarakat merasa resah terhadap perkembangan terorisme di Indonesia. Sinisme muncul disebabkan mereka lebih suka dengan budaya diam dan menerima kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang mensejahterahkan masyarakat luas. Padahal Negara dibawah kendali kapitalisme, menciptakan turbulensi kemiskinan disegenap penjuru negeri ini. Kemiskinan menjadi tontonan murah meriah, sementara disisi lain, elit dan konglomerat berpesta pora ditengah keadaan yang semakin menggila. Pantaskan sebuah kemiskinan seperti dagelan politik saja, atau mengajak mereka untuk menentukan nasib dirinya sendiri. Ajaran kiri seperti memberikan sejuta harapan bagi masyarakat miskin dibawah bayang-bayang kapitalisme, untuk bangkit dan mengatakan tidak pada penindasan.

Entah apa yang terlintas dalam pikiran penguasa, mendukung cara biadab dan tidak beradab dengan membakar buku. Suatu bangsa yang baik harus menghargai karya dari generasi mereka sebelumnya. Saya percaya orang macam itu tidak pernah menulis buku atau karya lainnya yang bermanfaat. Masih terlintas dalam pikiran kita, bagaimana keadaan masyarakat eropa di abad kegelapan (dark age), kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan masih banyak istilah lainnya yang bisa dijadikan padanan kata untuk menyebut kondisi eropa diabad ke-13-14. Mereka terbelakang jauh dari ilmu pengetahuan, lantaran ilmu pengetahuan yang tidak sejalan dengan pihak geraja akan dimusnahkan. Dan bahkan para ilmuwan dihukum gantung, karena tidak sejalan dengan doktrin gereja.

Negara-negara tetangga setiap tahun bisa memproduksi buku dalam jutaan judul buku, sehingga para warga engaranya dapat membaca dan belajar dengan pilihan tema-tema yang menurut mereka menarik. Sementara di Indonesia jumlah produksi buku saja masih terbilang sangat kurang, kita masih kalah dengan Malaysia, singapura dan beberapa Negara tetatangga lainnya dalam jumlah produksi buku. Dalam kekurangan tersebut kitapun hendak ingin memberangus sejumlah buku-buku yang di anggap bersebrangan dengan pemikiran dan ideology yang kita pakai. Seharusnya perbedaan pandangan tersebut harus kita syukuri sebagai sebuah keregaman yang di pelihara.

Gagasan komunisme Karl Marx telah menginspirasi jutaan pemikir setelahnya untuk menghasilkan buah gagasan dan ide. Lewat Marxlah ilmu sosial nusantara dikembangkan dan praxiskan. Saya piker ilmu sosiologi tidak akan menemukan momentum besarnya bila tidak Mar yang memberikan warna terbesar dalam perkembangan sosiologi. Bukan hanya saja sosiologi tapi sudah merambat ke setiap dimensi ilmu pengetahuan lainnya.

Kritik Terhadap Pemikiran Antonio Gramsci


Gramsci_1922

Siapa yang tidak mengenal sosok satu ini, yang sangat piawai mengkhatamkan ajaran Marx. ia adalah Antonio Gramsci seorang pemikir jebolan beraliran Marxis, lahir di sebuah kota di Sardinia Italia pada tahun 22 januari 1891. Sebagai seorang pemikir intelektual marxis, yang berkecimpung dalam sebuah partai politik buruh yang progresif. Gramsci sukses membawa partai buruh sosialis menjadi partai yang tangguh dan besar, berkat dari kematangan berorganisasi untuk memobilisasi massa dalam melakukan aktifitas kerja partai. Selain itu gramsci menelurkan berbagai gagasan-gagasannya dalam bentuk buku, dan disebar luaskan keberbagai Negara. Salah satu buku yang terkenal yang pernah ia tulis adalah catatan gramsci didalam penjara (Prison of note book), yang kemudian diselundupkan oleh istrinya saat ia berkunjung ke penjara untuk bertemu dengan Gramsci. Buku catatan dari penjara ke penjara, menceritakan banyak hal didalamnya, termasuk konsep hegemoninya. Gagasan tersebut berbicara seputar usaha seseorang untuk menguasai orang lain, agar mengikuti keinginan dari orang yang mengajak. Mereka menggunakan kemampuan komunikasi politik dan loby politik untuk mengajak massa, melakukan hal yang ia inginkan.

Buku gramsci catatan dalam penjara mengingatkan kita pada tokoh komunis Indonesia Tan Malaka yang menulis buku yang serupa juga yaitu catatan dari penjara ke penjara. Namun naasnya tokoh ini dibunuh oleh masyarakat Indonesia sendiri oleh karena perbedaan pandangan politik, padahal perbedaan itu suatu keniscayaan bagi manusia. Konsep hegemoni Gramsci banyak dipakai oleh berbagai macam orang, untuk menundukkan orang lain. Oleh karena konsep tersebut sangat praktis dan elegant dibandingkan dengan cara-cara penggunaan kekuatan melalui koersif (kekerasan), agar orang lain dapat mengikuti kita. Disadari atau tidak Antonio Gramsci telah memberikan sumbangan yang amat besar terhadap perubahan dinamika politik, ia mampu merubah dan mempengaruhi paradigma pemikir-pemikir setelahnya. Karena gramsci merupakan pemikir yang berani melakukan sedikit perubahan terhadap doktrin keras marxisme ortodoks. Karena pada saat itu marxisme sudah paten dan tidak bisa dirubah sedikitpun, merubahnya sama dengan murtad kepada ajaran marx.

Disini penulis ingin melakukan kritik terhadap gagasan Gramsci sebagai salah satu upaya merekonstruksi kembali gagasan tersebut. Sehingga selain kita dapat mengambil gagasan intelektual Marxian ini secara Taken of graden mengambil begitu saja, namun kita bisa memperbaiki berbagai sisi termasuk memasukkan nilai islami kedalam pemikiran tersebut. Dan perlu diperjelas adalah saya tidak hendak melakukankan islamisasi terhadap konsep gramsci melainkan melakukan internalisasi terhadap ajaran islam kedalam pandangan dunia (epistemologi) ilmu sosial kritis. Dalam hal ini saya akan mengkritik gagasan gramsci dengan menggunakan beberapa alternative, termasuk didalamnya mengambil pemikiran islam Kuntowijoyo. Salah satu sumbangsih terbesar kuntowijoyo adalah ia mampu melahirkan gagasan Ilmu Sosial Profetik (ISP), yang mendasarkan pada etika kenabian melalui pemaknaan kreatif terhadap surat Al-Imran ayat 110. Didalam kandungan ayat tersebut tersirat tiga muatan nilai utama yang menjadi dasar dari peletakan dasar ISP, di antaranya Humanisasi, yaitu memanusiakan manusia dalam pengertian manusia seutuhnya. Liberasi melakukan pembebasan terhadap kelompok mustadafin dari penindasan sistem yang dihegemonik oleh kapitalisme dan yang terakhir transendensi yaitu segala perbuatan manusia pasti ada ikut campur tangan tuhan di dalamnya.

Sebagai mana ilmu sosial kritis yang dijelaskan, cenderung memisahkan diri dengan konsep agama. Agama justru dipandang sebagai salah satu penyebab dari kemunduran ilmu pengetahuan dan membuat masyarakat dinina bobokan dengan janji-janji agama. Ilmu sosial kritis cenderung menuduh agama sebagai salah satu penyebab dari melemahnya gerakan sosial, karena tidak menyentuh kedasar persoalan kemasyarkatan. Sebagaimana yang menajdi doktrin marxisme bahwa ekonomi merupakan basic struktur sedangkan agama, politik, hukum dan sebagainnya hanyalah suprastruktur. Jadi perubahan suprastruktur sangat bergantung pada perubahan kebutuhan dasar manusia yaitu ekonomi. Namun kaum agamawan akan banyak yang tidak sepakat dengan cara pandang kelompok marxis tersebut, lantaran islam salah satunya bukan hanya sekedar mengajarkan tentang persoalan ibadah kepada tuhan, melainkan islam juga menjadi salah satu agama perlawanan terhadap penindasan dan penghisapan. Islam mengajarkan hidup egalitarian dan tidak boleh hidup hura-hura seperti kelompok hedonisme (Kapitalisme-red).

Ilmu sosial kritis menurut kuntowijoyo tidak memberikan jalan atau pedoman bagi kita, melainkan ilmu tersebut hanya sampai pada siapa subyek yang akan menjalankannya. Sedangkan ilmu sosial profetik memberikan jalan bagi mereka pedoman sampai pada lahirnya tujuan etika profetik. Dengan ilmu tersebut islam dapat melakukan proses transformasi secara besar-besaran terhadap cara pandang yang menganggap islam tidak memberikan sumbangan untuk melakukan perubahan dan sebagai agama perlawanan.