Berburu kekuasaan

kOleh: Ruslan
Politik selalu berorientasi pada hasrat kekuasaan, hasrat seseorang untuk mendapatkan posisi tertinggi. setelah mendapatkan kekuasaan tentunya ia akan menggerakan segala macam upaya untuk mempertahankan kembali kuasa tersebut, walau dengan catatan menggunakan cara manusia dan binatang. seperti anjuran Nicolo Machiavelly dedengkot politik, terkadang menggunakan cara manusia melalui jalur hukum agak sulit mempertahankan kekuasaan, diperlukan cara binatang untuk mempertahankannya.
Istilah yang sering digunakan para elit politik bahwa “tidak ada teman abadi yang ada hanya kepentingan abadi”. kepentingan menjadi pembenar dalam tindakan, walau harus mengesampingkan tinjauan etik dan religiositas. karna agama juga menjadi sarana yang efektif menuju kekuasaan. dapat kita lihat di abad pertengahan eropa, antara gereja dengan pemerintahan saling berkonspirasi, menggunakan agama untuk melegitimasi kebijakan pemerintahan. Sehingga lahirlah reformasi di tubuh agama kristen dan pada akhirnya memunculkan semangat kapitalisme (lih-max weber: etika protestan dan semangat kapitalisme).
Hasrat kekuasaan membutakan mata manusia untuk saling hidup harmonis, oleh karena diluar dari dirinya adalah musuh (kompetitif abadi) yang harus di eksekusi secepatnya. Seorang filsuf di abad modern sekaliber friedrik nietzhect mengatakan kalau kita tidak ingin dikuasai maka akan dikuasai itulah pertarungan yang sesungguhnya. Karena didalam diri manusia ada kehendak untuk berkuasa (will to power), menguasai orang lain. membiarkan diri untuk dikuasai, sama halnya dengan memperbudak diri sendiri. Sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk hidup apriory memandang yang lain superior.
Dapat kita lihat pemerintahan orde baru yang disokong oleh kekuatan ABRI, Teknorasi dan Golongan Karya mampu mempertahankan kuasa selama 32 tahun lamanya. Prestasi gemilang sepanjang masa kepresidenan indonesia, melampaui kepemimpinan Soekarno yang naik tahun 1945 sampai 1966. Tentu saja cara pemerintahan mempertahanakan kuasa mengundang banyak perdebatan, dimana Militer ikut terlibat merengsek masuk ke dunia politik, sehingga profesionalitas kerja saling tumpang tindih demi menegakan stabilitas politik orde baru. Kekuatan dari massa rakyat yang dibangun melalui organisasi, media massa, Lsm, perorangan di amputasi kebebasannya untuk menghindari kritikan dari masyarkat bawah (Grass root). Bahkan penculikan, pembunuhan dan pembredelan terhadap media massa kerap kali dilakukan tanpa adanya rasa keadilan.
Prestasi tersebut dapat di ancungi jempol bila melihat beragamnya kultur, agama, ras, bahasa dll. masyarakat indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat, mampu di eliminasi sejumlah kepentingannya melalui penertiban dan kontrol Abri yang luas. Sangat menarik mencermati pemikiran Luis Altuisser dalam hal hegemoni kuasa atas rakyat, ia mengatakan pemerintahan melakukan operasi penertiban melalui dua cara: pertama aparatus represif state dan ideologi aparatus state. Aparatur negara yang berwenang seperti polisi, militer dapat digunakan oleh negara untuk mendisiplinkan warga masyarakat melalui cara-cara kekerasan bila perlu. Dan menggunakan media massa sebagai corong menyebarkan ideologi dan gagasan pembangunan. Media massa sangat efektif menyalurkan opini pemerintah untuk dikerjakan secara konsekuen melalui cara-cara kekerasan bila perlu. Dan menggunakan media massa sebagai corong menyebarkan ideologi dan gagasan pembangunan. Media massa sangat efektif menyalurkan opini pemerintah untuk dikerjakan secara konsekuen. Sehingga jualan orde baru seperti kabinet pembangunan, revolusi hijau, P4, pelita dll laris manis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s