Inilah kami: Para Pemuda Progresif


20150131_200736oleh: bung rulan

“Kebutuhan kita bukan sekedar keberanian semata lebih pada pengetahuan revolusioner dan kecakapan mengambil sikap revolusioner” Tan Malaka.

Indonesia pasca reformasi bergulir mengalami masalah yang begitu kompleks diberbagai sektor, mulai sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, layanan dasar kebutuhan masyarakat dan sebagainya. Persoalan mendasar yang di hadapi bangsa ini adalah tidak adanya niat baik atau kemauan politik (Political Will) dari Negara untuk menangani persoalan yang ada. Seolah Negara tidak hadir disetiap sendi kehidupan masyarakat, masyarakat dibiarkan untuk terus mengalami nasib buruk menghadapi perusahaan dan investor asing mengambil alih secara paksa tanah miliknya. Bahkan Negara melalui institusi resmi seperti pengadilan memenangkan gugatan dari perusahaan, untuk mengambil secara resmi tanah rakyat. Apapun alasannya tidak dapat kita terima secara nalar rasional, bahwa Negara lebih mementingkan orang-orang yang memiliki modal besar dibandingkan dengan rakyat yang tidak memiliki apa-apa. Modal (uang) selalu menjadi panglima untuk memuluskan setiap agenda dalam berbagai macam urusan, bila demikian realitasnya yang terjadi lalu bagaimana dengan mereka yang tak memilliki modal untuk membayar uang pelicin.

Eksploitasi dan penindasan terhadap kaum marjinal menjadi tontonan keseharian kita di negri ini, yang berkuasa menindas atas yang dikuasainya, penjarahan sumber daya alam (SDA) terdapat dimana-mana terutama daerah yang memiliki kandungan kekayaan alam melimpah. Kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia tak terhitung jumlahnya, potensi tersebut disediakan oleh alam untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Akan tetapi kekayaan alam bukannya malah memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi rakyat lapis bawah, akan tetapi justru menjadi bencana besar bagi mereka. Masuknya investor asing membuka lahan pertambangan di sekitar daerah pemukiman warga, untuk mengelolah sumber daya alam (SDA). Kerusakan ekosistem alam akibat tambang menimbulkan bencana dan erosi yang menimpa manusia, alam tidak lagi bersahabat dengan manusia akan tetapi alam justru murka dengan tingkah laku manusia yang eksploitatif sehingga bencana muncul kapan saja dana dimana saja.

Masih segar dalam ingatan kita kasus yang baru-baru ini terjadi di lumajang, dimana seorang aktifis kontra tambang dipukul, diseret dan dibunuh depan umum tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan. Salim kancil adalah sosok aktifis yang teguh terhadap komitmen untuk menolak tambang pasir dilumajang yang berujung pada pembunuhan oleh suruhan dari kepala desa selor awar-awar. Tambang selalu menjadi momok yang sangat menakutkan, bukan hanya wajahnya saja yang menakutkan tetapi dampak yang ditimbulkan teramat besar bagi warga. Namun bila melihat Negara kita lebih memposisikan diri pada barisan tambang, mendukung dan mempermudah perizinan dalam mengksploitasi alam sebesar-besarnya. Negara tidak lagi memberikan rasa aman, tentram dan kesejahteraan bagi rakyat, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang dasar kita.

  • Peran Intelektual Muda

Berikan aku 10 pemuda maka akan ku goncangkan dunia, pekikan orasi bung karno menjadi inspirasi gerakan pemuda Indonesia dawasa ini. Sepuluh pemuda yang mempunyai spirit perubahan bagi soekarno dapat menggerakan dunia ini, pemuda yang memiliki inovasi dan kreatifitas semangat membangun bangsa sangat menggebu-gebu, entah itu melalui propaganda ke masyarakat dengan harapan mereka tersadarkan atau dengan cara-cara revolusioner progresif. Semangat perubahan untuk mewujudkan suatu bangsa dengan tatanan kehidupan berkeadilan adalah cita-cita luhur, yang pantas diperjuangkan .

Pemuda memiliki gagasan dan ideologi yang tegak seperti tiang bendera, tahan banting dan tidak mudah roboh oleh hempasan angin pragmatisme. Kita tidak bisa menaruh harapan besar bagi perubahan mendasar negri ini, apabila golongan tua yang konservatif masih memegang kendali kekuasaan. Kalangan tua tidak progresif baik secara gagasan maupun secara tindakan, banyak pertimbangn politis yang muncul bila memutuskan persoalan tentang rakyat.

Rakyat hanya dijadikan sebagai komoditi politik, untuk mendapatkan kekuasaan. Jargon memberantas kemiskinan, ganyang koruptor, kesehatan gratis dan sebagainya menjadi jualan politik yang laris manis, ditengah kehidupan semakin menyempit. Sekali lagi kita tidak bisa memberikan kepercayaan kepada mereka golongan tua untuk merubah tatanan bangsa yang sedang karut marut. Sikap politiknya sering menggunakan standar ganda, yang penting dapat menguntungkan bagi dirinya sendiri dan partai politik. Jangankan rakyat konstituennya bahkan negarapun dapat mereka jual ke asing, tumbuh suburnya perusahaan asing di Indonesia merupakan bukti bahwa mereka tidak becus mengurus negeri ini.

Disinilah peran penting pemuda untuk mengambil alih agenda perubahan sosial yang menjadi cita-cita bersama. Tranformasi perubahan masyarakat sangat penting di perjuangkan, dimana kondisi rakyat sangat memprihatikan yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Akibat sistem liberal dijadikan sebagai sistem dalam Negara, hanya kaum kapitalis yang menguasai sebagian besar hajat hidup orang banyak.

Semangat pemuda yang lahir dari dasar jiwa dan pikiran, tak akan mudah digoyahkan dengan senapan serdadu, bom Molotov, busur, pentungan, watter cannon dan gas air mata. Militer dan kepolisian selalu menjadi alat penguasa untuk menindas, memukul dan menyeret ke sel tahanan. Akan tetapi dalam diri pemuda terdapat gelora semangat berapi-api, bahkan air pun tak dapat memadamkan api semangat pemuda. Karena hanya pada kebenaran dan keadilan lah mereka berkiblat dan tujuan menciptakan suatu konstelasi masyarakat sivil society dan demokratis.

Ada banyak anak-anak muda yang memiliki gagasan-gagasan besar namun tidak semua dari mereka yang revolusioner progresif baik dari gagasan maupun tindakan. Sebab mengambil sikap Revolusioner memiliki konsekuensi besar dinegri ini, yang dihuni sebagian besar dari kalangan konservatif yang menghendaki perubahan dengan gaya yang teramat lambat dan cenderung alot. Akan tetapi mereka yang punya nyali besar, mempertaruhkan segalanya bagi perubahan Indonesia menghendaki agar segera merubah konstelasi dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ke-arah yang lebih santun dan demokrasi.

Meminjam istilah Antonio Gramsci apa yang disebutnya sebagai intelektual organik-lah yang mampu merubah realitas masyarakat ke-arah yang lebih manusiawi ketimbang hidup dibawah kaki rezim yang manut-manut pada asing. Selaras dengan Rausyan-Fiqr Ali Syariati yaitu hanya mereka-mereka yang tercerahkan yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik lagi. Yaitu mereka-mereka orang pilihan yang selalu bersama-sama rakyat mengawal, mengadvokasi dan memberikan pendidikan politik, orang pilihan tidaklah mayoritas melainkan minoritas. Akan tetapi mereka mampu memainkan peran strategis dalam mensetting agenda perubahan sosial yang transformative.

Bukanlah kepada mereka (Intelektual Tradisional) yang sibuk merumuskan teori dan berada persis di atas menara gading, bahkan mereka cenderung menjadi alat penguasa melegitimasi kekuasaan dengan pengatahuan (relasi kuasa dan pengatahuan). Sehingga semakin mengokohkan eksistensi kekuasaan, penguasa membutuhkan para aktor intelektual sebagai penyangga jalannya kekuasaan agar tidak mudah digerogoti dan dilengserkan begitu saja oleh lawan politik (oposisi) untuk dilengserkan. Negara kita pernah merasakan kondisi seperti ini, ketika kekuasaan di pegang kendali oleh Soeharto selama 32 tahun lamanya.

Bangsa ini tidak akan maju bila masih dipegang kendali oleh kalangan tua dengan paradigma kolot (konservatif), yang cenderung menggunakan teori pembangunan ala Rostow bagi pembangunan Indonesia. Dalam sekejap saja bangsa kita menjadi bangsa penghutang, terlilit dalam pukat harimau IMF dan Word Bank. Kalau sudah demikian adanya, maka bisa jadi Negara kita akan dijual ke asing.

Hanya kepada pemudalah bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan menjadi macan asia. Disegani oleh Negara-negara tetangga karena dalam visi misi pemuda terkandung bara api perubahan yang menggelora.

  • Merumuskan Kembali Gerakan Pemuda

Hampir disetiap perubahan gerak sejarah perjalanan bangsa Indonesia mulai di masa awal-awal pra-kemerdekaan 1908 para pemuda membangun organisasi boedi utomo di stovia. Organisasi ini merupakan cikal bakal lahirnya semangat Negara bangsa (nasional state). Kemudian pada tahun 1928 sumpah pemuda mereka bersepakat untuk menyatakan bahwa kita adalah Indonesia yang satu, walau memiliki banyak perbedaan. Kemudian berlanjut di tahun 1965 pergantian rezim, sampai reformasi ditahun 1998 merupakan buah dari kerja keras anak-anak muda yang gandrung terhadap perubahan.

Mereka banyak belajar dari gerakan perlawanan di berbagai Negara yang sedang melakukan revolusi sosial. Di iran ada Imam Khoimeni, Fidel Castro di cuba, Mao Zedong di cina, Che Guevara dan banyak figur-figur lainnya yang dijadikan sebagai model perlawanan. Tak bisa disangkal lagi peran-peran strategis yang di mainkan pemuda memberikan kontribusi baik pikiran maupun tindakan atas bangsa kita. Pemuda merupakan lokomotif bagi terjadinya perubahan, mereka adalah wadah bagi ide revolusioner.

Dulu kita masih menyaksikan bagaimana pemuda mampu bersatu dan memobilisasi massa untuk bergerak menumbangkan rezim otoriter-totaliter, yang berkuasa selama 32 tahun lamanya. Mereka beramai-ramai menduduki gedung parlemen berhari-hari dan memaksa Soeharto turun dari tahta kekuasaan yang didukung penuh militer. Apa yang membuat gerakan pemuda pada masa itu dapat secara bersama-sama bergerak seolah ada komando dari pimpinan mengharuskan untuk turun. Melainkan mereka sadar bahwa kekuasaan yang represif, menindas rakyat adalah kekuasaan yang semena-mena dan harus ditumbangkan dan menyeret para kroni-kroninya ke pengadilan rakyat.

Namun di akhir-akhir dasawarsa ini justru gerakan pemuda mengalami penurunan drastis, entah itu karena persoalan bahwa mereka tidak lagi memiliki gagasan besar seperti para pendahulu kita ataukah gerakan pemuda telah dikucilkan, diremehkan dan lecehkan karena menghamba pada kekuasaan. Namun tak sedikit juga dari mereka yang tetap komitmen membangun kesadaran pak tani, buruh, nelayan dan kaum miskin kota dengan memberikan pemahaman ekonomi politik Marxian sehingga mereka dapat membangun aliansi perlawanan terhadap rezim.

Kaum tertindas adalah wadah bagi kalangan pemuda untuk tetap mengobarkan api semangat perlawanan dan buruh sebagai pemantik. Sudah saatnya untuk bergerak, bergerilyah keladang-ladang, di sawah, dilaut, digunung dan sebagainya untuk merangkul semua memberikan pendidikan politik dan mengajarkan tentang cara membangun organisasi yang rapi tahan terhadap intervensi luar yang kadang ingin membubarkan. Setelah mereka di ajarkan dengan baik, pemuda tidak boleh meninggalkan mereka untuk berjuang melainkan pemuda harus bersama-sama rakyat membangun semangat perlawan kepada rezim yagn cenderung fasis.

Kelemahan gerakan pemuda dan mahasiswa dewasa ini, yaitu dengan berjuang sendiri-sendiri. Mengangkat bendera masing-masing walau kita tahu bahwa musuhnya adalah sama, egosentrisme organisasi terkadang muncul disaat yang tidak tepat sehingga gerakan mahasiswa terkooptasi oleh orang-orang yang menghendaki gerakan tersebut layu hingga akhirnya mati.

Munculnya organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi non-pemerintahan (Ornop) serikat buruh dan aliansi gerakan lainnya tumbuh subur bak jamur dimusim hujan. Tumbuhnya lembaga-lembaga tersebut tidak meniscayakan gerakan perlawanan mendapatkan tempat yang layak bagi kalangan publik, justru semakin memperkecil massa aksi dengan adanya berbagai macam organisasi dan aliansi lainnya. Sehingga daya gedor perlawanan kian melemah, maka pihak keamanan baik polisi, militer maupun para preman dengan mudah membubarkan secara paksa aksi-aksi yang digelar.

Kita harus mampu mengevaluasi kembali gerakan selama ini, mengapa kemudia selalu mudah di pecahkan konsentrasinya kedalam berbagai fragmen gerakan. melakukan otokritik terhadap manazemen aksi mencari tahu dimana letak-letak kelemahannya, sehingga dapat dirumuskan kembali model gerakan seperti apa yang tepat dan strategis untuk di pakai. Inilah tugas berat kita bersama dan bila tidak segera dipikirkan maka besar kemungkinan akan mengalami nasib yang sama seperti gerakan perlawanan lainnya yang mudah di pecahkan. Membagun gerakan radikal, militan dan kritis tentu harus melalui pendidikan politik yang membebaskan.

 

Matinya Rasa Kemanusiaan


 20150131_200736

 

Oleh: bung rulan

Semangat positivisme di era digital memungkinkan manusia menjadi subjek bagi dirinya sendiri, sekaligus menegaskan bahwa manusia telah menjadi sangat individual. Kerangka epistemologi dibangun berdasarkan cita-cita kemanusiaan yang hampa dari nilai etik transendental. Manusia tercerabut dari akar sejarah eksistensi, dan mengalami apa yang disebut sebagai hilangnya diri dalam diri. Keadaan ini telah melanda subyek-subyek di era virtual, subyek telah berevolusi kedalam dunia yang tak tercakapkan. Seperti halnya manusia modern yang telah menepaki jejak-jejak peradaban dengan semangat saintis positivistik, mesin teknologi menjadi pusat penghambaan. Ketika relasi manusia dengan mesin menjadi suatu simbiosis mutualisme, mengarahkan cara berpikir rasional instrumental manusia modern kedalam cara berpikir berdasarkan angka-angka (statistik).

Penciptaan mesin untuk menggantikan peran serta subyek, sebagai suatu konsekuensi logis dari sebuah peradaban barat. Yang menghandaki adanya efisiensi dan efektifitas pekerjaan subyek. Mesin memang telah menjadi alat yang membantu pekerjaan manusia, mulai dari alat untuk membuat kopi sampai peralatan perang (Alutsista) milliter yang super canggih. Baru-baru ini misalnya terjadi perang melawan teroris (Isis) di Suriah dan Irak, dimana masing-masing menggunakan peralatan modern yang super canggih untuk mengalahkan satu sama lain. Tak terhitung berapa jumlah peluru yang telah dimuntahkan oleh mesin kecil bernama senjata, namun walau kecil akibatnya sangat besar. Korban manusia jatuh berantakan seiring muntahan peluruh dikeluarkan, mereka mati tanpa punya kesempatan bertanya why must me die?. Orang-orang yang meninggal lebih banyak rakyat sipil dari pada militer maupun kelompok yang di anggap sebagai teroris, mujahid atau sebutan lainnya.

Ya,,, mesin memang sangat efektif menciptakan keadaan yang damai tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan. Manusia menciptkan alat-alat tersebut dengan dalih mempertahankan kedaulatan Negara dari ancaman luar. Yang sewaktu-waktu bisa datang kapan saja bila hubungan kedua Negara keruh dan mengambil sikap ofensif maupun defensive. Namun bila Negara adi kuasa yang berseteru, sudah langsung bisa ditebak kekuatan apa yang akan digunakan. Tentu Alutsista yang modern dengan berbagai generasi di munculkan sebagai reaksi. Namun pernahkah kita bertanya bahwa senjata yang diciptakan justru menciptakan hibriditas kemanusiaan. Proyek utamanya adalah dehumanisasi secara besar-besaran, membunuh tanpa memiliki rasa kemanusiaan. Inilah yang saya sebut diatas tadi bahwa rasio instrumental telah tergantikan dengan rasio statistic. Mesin tidak memiliki nilai (Free value) sebab ia objektif, melainkan manusialah yang memasukan nilai kepentingan kepada mesin tersebut. Ketika mesin-mesin telah menjadi alat manusia untuk bebas melakukan apa saja termasuk mengumandangkan perang. Artinya rasa kemanusiaannya telah mati tergerus oleh sahwat kekuasaan. Membunuh rakyat sipil dengan kejam tanpa melakukan perlawanan adalah kejahatan perang yang tidak bisa di terima secara rasio dan hukum internasional.

Rasio statistik hanya dapat menghitung besar kecil kemungkinan menang atau kalah, bila rudal balistik ditembakkan ke daerah pemukiman warga maka secara statistik dapat dihitung besar kecilnya kerugian yang menimpa obyek. Didalam angka (statistik) tidak terdapat rasa kemanusiaan (Humanistik) yang dapat memilih dan memilah kebaikan atau keburukan. Yang menjadi suatu cita-cita seluruh umat manusia, melainkan jumlah angka kerugian yang ditimbulkan oleh mesinlah yang dapat dihitung berdasarkan statistik. Perbedaannya dengan rasio, mereka akan mempertimbangkan dengan rasional apakah membunuh manusia atau tindakan destruktif etis atau tidak.

Akhir-akhir ini kemajuan selalu di persepsikan sebagai usaha rasional manusia menuju penciptaan teknologi. Teknologi sudah menjadi barang yang satu padu dengan manusia, seolah tanpa teknologi kita tak akan banyak berbuat apa-apa. Dari waktu ke waktu selalu muncul barang baru dari generasi ke generasi, sebut saja hand phone (smart phone). Benda ini awalnya belum dilengkapi dengan fasilitas fitur yang memanjakan para pengguna smart phone, tetapi semakin maju pengetahuan manusia maka semakin canggih pula desainnya. Begitu pula dengan motor, mobil, computer, internet dan sebagainya. Alat-alat tersebut seperti nyawa kedua kita, kemana-mana selalu menenteng gadget, rasanya seolah ada yang hilang bila tidak membawa benda pintar ini.

Ketergantungan terhadap teknologi bukan saja datangnya dari Negara adi daya, yang dimana-mana terdapat cerobong asap industry, melainkan Negara berkembangpun turut andil memanfaatkan teknologi untuk penggunaan pembangkitan tenaga listrik berdaya nuklir dan mesin lainnya. Hanya saja walau masing-masing memiliki persamaan tetapi perbedaaan kebutuhan sangatlah besar antara kedua Negara. Sangat bergantung pada roda industry dalam negeri, sehingga pasokannya mengikuti kebutuhan. Disini dapat kita memberikan sebuah kesimpulan walau kadang perlu di evaluasi secara sistematis. Sebuah Negara baik itu Negara maju sampai Negara terbelakang (dunia ketiga), sangat membutuhkan teknologi untuk menunjang kemajuan Negara dan memudahkan kerja manual ke otomatis. Teknologi juga menjadi salah satu ukuran beradab atau tidaknya kita maupun Negara, kita tidak bisa di anggap beradab kalau buta teknologi. Teknologi juga mampu mengkonstruksi cara pandang (red-ideologi) manusia modern untuk menjustic beradab atau tidak beradab, terbelakang atau maju dll.

Tolak Pertambangan Emas Di Bima


hqdefault

Oleh: Bung Rulan

Dominasi negara kapitalis (Amerika serikat rongsokan) dalam eksploitasi sumber daya alam di berbagai belahan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar bagi kebutuhannya dalam industry rekayasa dunia yang rakus akan minyak dan hasil tambang lainnya exxon mobil, cefron, newmont dll, memiliki andil yang cukup besar dalam hal ini. Ini terbukti dengan di kuasainya beberapa negara Arab yang mempunyai pasokan minyak terbesar di dunia, Amerika dengan dalil tugas untuk memberantas teroris dengan leluasa membuat undang-undang dan membentuk kroni-kroninya yang tidak jelas untuk melegimitasi ekspansinya di negara piramid tersebut, penjahat dunia atau musuh bersama (teroris) yang di gembar gemborkan oleh negara adikuasa tersebut hanya di jadikan sebagai platfron untuk bisa merebut ladang minyak. Usaha negara kapitalis untuk menggerogoti seluruh kekayaan alam yang ada dunia sangat besar sekali mengingat kebutuhan akan minyaknya mencapai 25% perhari dari minyak dunia angka ini sangat jauh sekali dengan penggunaan minyak di indonesia yang hanya membutuhkan 8% dari minyak dunia. ( marwan batubara,dkk,tragedi dan ironi, blok cepu)
Sanagat jelas sekali kenapa negara kapitalis Amerika tersebut merebut dan mencari lahan minyak dan tambang ? pertanyaan ini tidak perlu penulis jawab karena saya percaya bahwa rekan-rekan mahasiswa (kaum intelektual muda) bisa menjawabnya dengan kritis mengenai persoalan ini. Akhir-akhir ini kasus demi kasus terjadi mulai dari tindakan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) mosi ketidak percayaan terhadap persiden oleh masyarakat dan berbagai macam elemen organisasi massa karena berbagai macam kebijakannya yang hanya beroreantasi pada pejabat, konflik agama maupun etnis terus saja bergulir serta pemberian wewenang kepada pihak investor asing untuk menanamkan modalnya di indonesia seluas–luasnya untuk mengesploitasi sumber daya alam dengan di keluarkanyan undang-undang nomor 1 tahun 1967. Tentang penanaman modal asing di indonesia. Di sini pemerintah dengan sikap legowo (jiwa_red) terhadap asing untuk mengeksploitasi seluas-luasnya dengan berbagai macam dalil dan alasan supaya cepat di gol kan proyek tersebut. Maklum kantong-kantong para pejabat mulai menipis dan akhirnya segala usaha di lakukan untuk antisipasi di kemudian harinya nanti agar tidak menjadi orang yang melarat, aneh bin ajaib memang di saat-saat negara mengalami krisis yang berkepanjangan di saat itu pula para penguasa memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi, kasihan nasib wong cilik pak.
Para kapitalis terus dan terus saja mencari kekayaan alam yang di miliki bangsa indonesia yang berpotensi cukup besar untuk keperluan negara industri terbesar di dunia ini. Bima merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam hutan yang lebat dan pepohonan yang rindang banyaknya dan keanekaragaman sumber daya alam lainnya. Tidak kalah jauh dengan daerah sumbawa yang memiliki kandungan emas di dalamnya, bima merupakan daerah agraris penghasil gandum terbesar di daerah NTB, masyarakat yang berada di bima sebagian besar mencari nafkah dengan hasil panennya yang tiap 3x setahun yang berlimpah ruah, dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa masyarakat bima menyekolahkan anak-anaknya di berbagai daerah dan ibu kota besar jakarta karena mereka yakin dengan hasil panen padi saja bisa di akomodir semua kebutuhannya.
Pemerintah selaku instrument negara tentunya sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan berhak menata dan memajukan negara untuk bersaing dengan beberapa negara teetengga yang sudah jauh majunya dari indonesia seperti malasyia, Brunei Darusalam dan negara lainnya yang mengupayakan sumber daya alam dan sumber daya manusia bisa di operasikan dengan semaksimal mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan negara. Dan seluruh masyarakat sudah menjadi kewajiban untuk ikut serta berpartisipasi dalam mensukseskan program pemerintah negara maupun daerah agar terjadi keseimbangan antara yang memerintah dan yang di perintah supaya terwujud negara yang damai dan sejahtera seperti yang di cita-citakan oleh para founding father kita dahulu.
Kebijakan pemerintah untuk masuknya investor asing di bima agar mengeksploitasi dan menjarah seluruh kekayaan alam yang ada di bima merupakan kebijakan dan peraturan yang salah kaprah dan harus di tanjau ulang mengingat daerah bima daerah agraris yang hanya cocok dengan lahan pertanian, kelautan dan peternakan. Kalau kita beralih ke pertambangan emas maka hasil pertanian, kelautan dan peternakan akan mengalami penurunan penghasilan yang sangat drastis karena hancurnya lahan akibat limbah sisa pertambangan, rusaknya ekosisstem alam, banjir, erosi dan longsor, menjadi momok yang sangat menakutkan yang siap menerka masyarakat kapan saja dan dimana saja. Dampak kerusakan pertambangan sangat besar sekali coba kita lirik salah satu kota di jawa yang mengeluarkan semburan lahar lumpur akibat perusahaan pertambangan lapindo yang menggenangi tempat tinggal warga yang sampai sekarang ini belum ada ujungnya sehingga warga yang di rugikan dan pindah ke tempat yang nyaman di jadikan sebagai hunian. Masuknya pertambangan di bima merupakan suatu perampasan hak secara besar-besaran yang di lakukan oleh perusaahaan asing, alam seharusnya di kelolah di kemudian hari nanti setelah semuanya sudah benar-benar siap untuk di eksploitasi demi kepentingan bangsa dan negara.
Penulis yang terlibat dalam berbagai kajian dan aksi penolakan masuknya pertambangan di bima khusunya di parado, langudu, sape yang sampai hari ini masih bergulir dengan di bawah tekanan represif dari oknum kepolisian daerah kabupaten bima yang beberapa terakhir ini pihak kepolisian melakukan penembakan secara brutal kearah warga sehingga belasan masyarakat luka-luka akibat kesambat peluru panas dari oknum kepolisian, pengejaran terhadap masyarakat dan mahasiswa yang kritis dalam menolak masuknya pertambangan terus terjadi sehingga beberapa di antaranya di tahan dan bersembunyi di lereng-lereng gunung dan sawah menghindari pengejaran dan penangkapan yang di lakukan okleh oknum kepolisian. Gelombang aksi parlemen jalanan sampai aksi pembakaran lokasi dan alat-alat berat yang di lakukan oleh masyarakat merupakan akumulasi kekecewaan warga terhadap aktifitas pertambangan yang akan merusak seluruh alam, lahan pertanian yang akan ditimpah limbah organik yang beracun dan warga terancam diserang penyakit aneh dan gas beracun dari asap pabrik yang menggelembung. Penulis rasa sudah sewajarnya warga melakukan pembakaran lokasi pertambangan, kantor kapolres dan pemblokiran kantor camat.
Info terakhir bahwa ada 12 korban penembakan brutal oleh oknum kepolisian dan diantarannya warga parado rato bernama ahmad terkena tembakan timah panas tepat dibagian kakinya dan di larikan rumah sakit umum bima untuk pengobatan lebih lanjut, peluruh yang tertancam dalam dan merusak bagian urat sarafya sehingga rumah sakit bima kewalahan untuk mmemberikan pertolongan dan kemudian korban di obatin lebih lanjut di rumah sakit umum mataram dan sampai akhirnya kaki yang terkena tembakan timah panas oleh oknum kepolisian dan tidak bisa tertolong hinggan akhirnya kaki yang terkena peluru tajam di amputasi.
Perbuatan ini tidak bisa di biarkan begitu saja karna kejadian tersebut sudah melanggar hak asasi manusia, sebagai manusia yang memiliki kebebasan untuk berekpresi dan mengeluarkan pendapat yang di legitimasi olehundang-undang sudah sepantasnya memperjuangkan haknya.
Maka dari itu kkita sebagai masyarakat intelektual dan kemudian melakukan perbaikan sosial apabilah mahasiswa diberikan tugas dan tanggung jaawab sebagai agent of change, sosial of chontrol dan moral of force tidak tergugah hatinya untuk ikut serta bergabung dalam aliansi mahasiswa bima makassar menolak masuknya pertambangan di bimakan dipertanyakan eksistensinya sebagai, menurut cerita-erita dibuku dan doktrin dari senior bahwa ternyata pada jaman orde lama dan orde baru tumbang tidak lain dan tidak bukan merupakan mahasiswa sebagai penggerak dan pelopor peristiwa akbar yang tidak pernah hilang dalam ingatan bangsa indonesia sebagai peristiwa yang bersejarah. Inilah catatan penting yang harus di ingat dan harus dilestarikan oleh generasi sekarang sejarah harus terus di ulang agara tidak lupa oleh generasi selanjutnya, siapa lagi kalau buikan kita kalaupun hari ini kita tidak bisa mengukir sejarah dengan tintah emas kama mari kita coba mengukir sejarah dengan tinta darah sekalipun kalau itu mengaharuskan kita untuk mengahirinya sebagai sejarah yang akan di ingat dan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.
Lebih baik mati daripada tunduk pada kemunafikan (soe hok gie).
Hidup mahasiswa …….
Hidup rakyat………….
Hidup kaum proletar………

Ini tulisanku yang pertama kali di awal masuk kampus.