Antara Kritik dan Menghina


20150131_200736

Oleh: bung rulan

Mungkin kita sering mendengar istilah kritik dalam keseharian, lantaran kata kritik selalu kita dengar baik di kehidupan nyata maupun di pertelevisian. biasanya individu, organisasi, ormas, partai politik dll sering menggunakan istilah kritik, apabila kelompok tersebut tidak merasa puas atas kebijakan baik oleh pimpinan perusahaan maupun pemerintah setempat. Maka dapat dipastikan kelompok tersebut akan melakukan kritik, terhadap institusi yang bersangkutan.

Memang tradisi kritik sudah menjadi suatu hal yang lumrah di negeri ini, mengingat ruang keterbukaan informasi semakin lebar dan konstitusi melegitimasinya. Sehingga siapa saja, baik dari berbagai lembaga dapat melakukan kritikan. Yang jelas kritikan tersebut tidak menyerang secara pribadi seseorang dan dapat dipertanggunjawabkan. Namun lain halnya dengan beberapa oknum yang melancarkan kritikannya, biasanya mereka tidak obyektif dan sering tendensius. Walah-walah kalau bahas kritikan tapi cenderung tendesius, biasanya akan tambah runyem. Bukan solusi yang dihasilkan melainkan akan menambah masalah baru.

Mungkin masih teringat jelas dalam memory publik, beberapa waktu lalu salah satu komisioner komisi pemberantasan korupsi (KPK). Menyebutkan bahwa kader HMI yang lulusan LK1 mereka semua cerdas, namun setelah mereka menjabat mereka cenderung korupsi dan jahat. Kira-kira seperti itu pernyataan Saut Sitomurang, pada salah satu acara TV swasta yang bertajuk “harga sebuah perkara”.

Bukan pujian dan tepuk tangan yang didapatkan Saut situmorang, melainkan kader HMI merasa dilecehkan oleh pernyataan wakil ketua KPK. Tak ayal secara serentak organisasi kemahasiswaan ini, melakukan demonstrasi secara besar-besaran. Mereka merasa dihina dipublik, apalagi pernyataan saut di media massa.

Contoh kasus ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia dalam menata sistem berdemokrasi. Demokrasi tidak saja dinilai bebas dalam pengertian bebas sebebasnya mengkritik dan menghina ornop tertentu tanpa memberikan bukti yang jelas. Akan tetapi kita harus kritik seobjektif mungkin, memang betul terdapat beberapa alumni HMI, ingat beberapa saja. Bukan secara keseluruhan melakukan generalisasi terhadap organsisasi, melainkan terdapat beberapa oknum yang telah malah melintang di HMI. Ketika memegang posisi tertentu memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri. Sebut saja ada Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Wa Ode Nurhayati sampai Zulkarnaen Djabbar.

Namun yang jelas kita tidak boleh anti pati terhadap kritikan, menganggap kritikan sebagai suatu yang selalu ingin menjatuhkan, menurut saya tidaklah tepat dan perlu di evaluasi kembali tuh orang. Sebab dengan kritikan kita dapat memperbaiki dan berbenah diri agar dikemudian hari tidak melakukan hal yang serupa. Anggap saja kritik sebagai vitamin plus untuk memonpa motivasi lebih tinggi lagi, menurutku bukan saja buku sebagai guru terbaik, melainkan kritik juga di anggap sebagai guru yang mengarahkan dan menuntut kejalan kebenaran.

Akan tetapi Naas memang hari ini, kita tidak lagi dapat membedakan mana kritikan dan mana yang bukan kritikan. mungkin dalam prespektif seseorang itu kritik, namun disisi lain orang menganggap itu sebagai ucapan kebencian (hate speech). Tak sedikit orang merasa risih dengan peryantaan-peryataan yang menghina orang lain, dan melaporkan kepolisian. Ada juga artis yang tanpa sengaja mengucapkan sesuatu dan itu di anggap menghina. Sebut saja zaskia gotik yang menplesetkan pancasila sebagai bebek nungging. Secara serentak publik merasa marah dengan ucapan Zaskia Gotik yang dinilai menghina simbol Negara dan melaporkan kepada pihak kepolisian. Pada akhirnya Zaskia Gotik meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas ucapannya tersebut dan ia malah di dapuk sebagai duta pancasila oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pasca reformasi bergulir 18 tahun lamanya, bangsa Indonesia berada pada eforia reformasi. Kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya sehingga bermunculan berbagai macam partai, organisasi, media massa dan berbagai macam lembaga non-pemerintahan yang bergerak di berbagai macam sektor. Ada yang fokus pada lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan sampai pada lembaga advokasi pada kaum marjinal.

Era Kebebasan berbicara ini menuntut siapa saja agar berani mengkritik apa saja, entah itu kebijakan pemerintahan yang tidak pro terhadap masyarakat maupun yang hal-hal yang menyangkut eksistensi diri dimasyarakat. Sayapun berharap ruang kebebasan berbicara dimuka publik tidak disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk menyerang lawan politiknya.

Nama : ruslan

Akun media : FB- rulan bebas merdeka

Twitter- aktivis Indonesia

Web: www.ruslanbima.wordpress.com

Instagram: bung rulan

Profil singkat

Ruslan adalah salah satu penulis pemula yang kesehariannya banyak menghabiskan waktu untuk mengurus organisasi HMI komisariat ushuluddin filsafat dan politik. Selain itu ia bergerak dibidan penulisan di komunitas literasi, yang dibentuk dengan teman-teman mahasiswa penggiat menulis lainnya di “Komunitas Tanpa Nama” Makassar.