Bakat Tidak Menentukan Menjadi Penulis


imagesng.jpgoleh: bung rulan

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman, agar kemampuan tulisan anda dapat segera melejit. Seperti halnya penulis-penulis hebat lainnya, yang sudah beberapa kali menerbitkan tulisannya melalui buku dan novel. Pasti dalam hati anda ingin seperti mereka atau paling tidak mendekati kesuksesan orang tersebut. Karena pada dasarnya tidak ada satupun orang yang tidak ingin menjadi sukses, kesuksesan tidak didapat hanya duduk berpangku tangan saja melainkan ia harus berkerja dan memotivasi diri. Apa yang anda lihat sekarang orang-orang disekitar anda telah berhasil, itu bukan sebab tapi ia akibat. Maksud saya,,, bahwa keberhasilan bukan proses melainkan hasil. Seseorang yang anda lihat sekarang yang telah berhasil, ia telah melakukan banyak hal untuk sampai pada posisinya sekarang. Memang tidaklah mudah sih menggapai puncak tertinggi, tetapi itu bukan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Asal anda punya prinsip untuk mencapainya, walau banyak tantangan menghadapi tetapi anda tetap berada pada prinsip awal anda yaitu mencapai puncak tertinggi karir anda.

Menjadi seorang penulis atau apapun yang anda inginkan bukan terletak pada bakat yang anda miliki. Anggapan seperti ini sudah mewabah di negri kita, anda tidak akan didukung dalam bidang tertentu jika anda tidak punya bakat dalam hal tersebut. Dan mereka cenderung mendukung jika anda punya potensi untuk bisa melakukannya. Hal demikian bukan hanya anda saja yang mengalaminya, tapi ada banyak orang yang merasakan hal yang sama seperti anda. Tapi anda jangan khawatir dan merasa minder bila sama sekali tidak punya bakat dalam bidang tertentu. Suatu pekerjaan yang membutuhkan soft skill untuk mengerjakannya, kita sama sekali tidak membutuhkan anda harus lahir dari keturunan yang punya banyak bakat sejak lahir.

Bakat adalah kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang untuk menciptakan hasil karya dan rasa. Namun biasanya bakat tersebut masih tersimpan rapi dalam diri kita sebagai potensi. Dan potensi itu tidak mungkin anda bisa melihatnya bila tidak dilakukan eksperimen atau membiasakan diri untuk bertindak mengikuti kecenderungan bakat anda. Namun dalam menulis anda tidak perlu membutuhkan bakat khusus untuk menjadi penulis. Karna dalam islam seorang bayi lahir tidak memiliki pengatahuan apapun kecuali pendengaran dan hati untuk ia bersyukur. Begitupun yang dikatakan oleh seorang filsuf Inggris Jhon Lock, bahwa seorang bayi seperti tabula rasa (kertas putih), bayi tidak mengetahui apa-apa kecuali ketika ia sudah berinteraksi dengan alam. Barulah bayi tersebut mendapatkan pengetahuan melalui indra dan rasio manusia. Kalau manusia tidak diberikan rasio maka sudah jelas manusia tidak layak menjadi khalifa fil ardy di muka bumi.

Penulis hebat pada awalnya tidak dilahirkan sebagai seorang penulis handal dikemudian hari, atau menjadi seorang polisi yang menegakan aturan. Seperti di awal saya katakan kita terkadang sering melihat seorang itu langsung pada hasilnya, sehingga anda beranggapan bahwa dia lebih baik dan telaten dibandingkan dengan diri sendiri. Padahal sebenarnya kemampuan menulis itu ditempa secara ketat, seperti tukang besi yang menempa besi bulat (belum jadi) untuk dijadikan perkakas dapur maupun perburuhan. Awalnya si tukang besi menempa kasar terlebih dahulu sebelum masuk pada tahap selanjutnya membentuk pola perkakas yang dibutuhkan.

Melalui tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa menjadi penulis bukan karena punya bakat, melainkan faktor kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus tanpa memperdulikan halangan.

Selamat mencoba

Seri Sekolah Menulis Kreatif# Tidak Ada Teori Menulis


Camera 360
Membaca adalah menjelajahi dunia

Oleh: bung rulan[1]

Banyak yang bertanya pada saya terutama adek-adek tingkat dan teman-teman seangkatan di kampus. Mungkin ini juga faktor yang membuat saya terkenal dikampus kali ya (peace bung hanya becanda jangan bawa serius entar jelek mukanya kayak Justin Bieber), walau sebenarnya dalam diri berharap untuk menjadi orang terkenal sih. Nah kembali ke leptop, hampir semua pertanyaan mereka sama. Kak bagaimana caranya menjadi penulis? apa yang harus saya tulis? bagaimana cara mengatasi jikalau kehabisan ide? dan seterusnya. Seharian saya sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari juniorku tentang dunia kepenulisan. Walau demikian ada perasaan bangga bila melihat rona mereka yang senyum lirih ketika telah mendapatkan jawabannya. Saya memang tidak memasang tarif untuk mengajari mereka bisa menulis, seperti jasa pelatihan menulis lainnya yang terdapat di lembaga-lembaga maupun di media online. Harga yang mereka tawarkan terbilang mahal untuk ukuran mahasiswa kere seperti saya ini, lah untuk makan setiap hari saja masih bergantung pada uang kiriman. Akan tetapi yang ingin saya lihat adalah mereka bisa menulis sesuai dengan keinginan mereka, tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan. Saya percaya bahwa bangsa ini akan menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang besar bila generasinya memiliki skill untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Saya tidak ingin bangsa kita disebut terus menerus sebagai bangsa yang terbelakang, bangsa yang malas dan sebagai bangsa yang bodoh. Mungkin dengan cara saya mengajari mereka untuk menuliskan pengalaman, gagasan dan bagaimana harusnya bangsa ini didesain dengan cara mereka sendiri. Akan dapat memberikan kontribusi ril atas kemajuan bangsa.

Bila berbicara tentang bangsa kita saya selalu terbawa suasana emosi. Karena sebagian kekayaan kita dijual, rakyat ditindas demi memperjuangkan perusahaan asing, para elit sibuk beritikad jahat menjarah negri kita. Akhirnya nada-nada emosi tersebut terakumulasi, lama kelamaan membesar dan menjadi letupan-letupan pemberontakan yang setiap saat bisa saja meledak. Waduh,,, kok semakin melenceng dari tema yang mau dibahas ya. Mungkin ini kelihatan wajar-wajar saja, mengingat saya juga terlibat secara langsung dalam setiap gerakan mahasiswa mahakassar. Alih-alih demonstrasi menolak penguasaan sumber daya alam oleh segelintir perusahaan asing, akan tetapi kami dibubarkan secara paksa dengan pentungan, laras panjang, gas air mata dan watter cannon. Sungguh miris melihat alat negara seperti polisi dan militer untuk di adu berhadap-hadapan dengan mahasiswa. Maaf bung kami tidak punya senjata untuk melawan sehingga kelihatan seimbang, hanya kalian yang di ijinkan secara sah oleh negara memegang senjata. Jadi tolong jangan tembak kami dengan butir-butir peluruh yang kalian beli dari uang kami para petani, buruh, nelayan, orang miskin dll.

Satu hal yang saya pelajari menjadi penulis dan itu menjadi iman saya, pada saat saya menumpahkan ide kedalam sebuah tulisan. Seorang penulis harus menjiwai apa yang sedang ia tulis, sehingga tulisan tersebut dapat masuk nominasi tulisan yang menarik. Penjiwaan atas sesuatu yang kita tulis sangat diperlukan, penulis seakan diajak terlibat secara langsung kedalam suatu peristiwa. Sehingga kita menghasilkan naskah yang layak dibaca oleh kalangan umum. Lalu bagaimana kita bisa menghadirkan penjiwaan, seperti yang dimaksud di atas. Masing-masing penulis mempunyai cara-cara tersendiri, adanya yang melakukan investigasi secara mendalam objek yang akan ditulis. Sehingga menghasilkan sebuah rekam jejak peristiwa yang seolah menyatu dengan penulis, sebab ia terlibat secara langsung. Ada juga yang melalui perenungan filsafati, membaca buku dan referensi. Dari sekian yang saya sebutkan di atas memang sangatlah sedikit sebagai contoh, untuk dapat dijadikan sebagai panduan. Tapi paling tidak bisa mengantarkan pembaca untuk memahami maknanya dan mengembangkan sendiri contohnya dengan bereksperimen.

Tapi kalau saya sendiri untuk mendapatkan penjiwaan terhadap apa yang ingin saya tulis, bukanlah seperti yang disebutkan diatas. Karena setiap pribadi memiliki perbedaan cara dan rumusan sendiri. Misalnya saya menulis tentang kondisi negara dibawah sistem kapitalisme yang jahat, atau para mahasiswa yang berdemonstrasi dinilai negatif oleh orang karena menimbulkan konflik dll. Maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan keberpihakan kepada siapa kita menulis. Apakah kepada perusahaan asing representasi dari kapitalisme atau kepada orang-orang miskin yang tertindas. Misalnya saya memilih bersama orang tertindas. Setelah itu saya akan mengumpulkan semua kemarahan, rasa jengkel, benci dan muak terhadap kapitalisme. Maka dengan itu tulisan anda akan terbentuk sendiri karakternya, apalagi bila terus-menerus dilatih.

Percayalah dalam menulis tidak ada teori menulis, semakin banyak dan sering anda membaca buku tentang penulisan, maka anda semakin sulit untuk menulis. Didalam buku-buku cetak maupun elektronik, anda pasti diperkenalkan dengan teori, rumusan, teknik, tips, cara cepat menulis dan sebagainya. Justru dengan cara demikian anda akan merasa berat karena tahapan-tahapan penulisan sangat banyak sekali. Yang perlu anda lakukan adalah segera menulis sekarang juga, ambil kertas di atas meja dan balpoint menulislah. Bila anda takut dalam tulisan tersebut tidak sesuai dengan hasilnya, anda tidak perlu khawatir. Karena para penulis profesional sekarang ini, itu pernah merasakan saat-saat dimana mereka tidak tahu apa yang harus ditulis. Sudah sering tulisan mereka ditolak media massa untuk terbit, sekali ditolak lantas mereka tidak langsung putus asa untuk mencoba lagi. Akhirnya setelah puluhan kali ditolak tulisan mereka diterima juga.

Ada suatu istilah datangnya dari negeri arab, mungkin ini bisa menjadi cambukan untuk mulai menulis yaitu β€œman jadah wa jadah” siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat. Artinya kesungguhan dan keseriusan menjalani setiap apa saja yang kita lakukan hasilnya akan setimpal dengan usaha (Ikhtiar) yang kita lakukan. Coba misalnya anda tidak serius menulis, maka hasilnya tidak akan bagus untuk dibaca oleh orang lain. Disini yang menjadi point yang saya sampaikan adalah β€œanda harus serius”.

Kamis, Samata gowa. 07/01/16

[1] Direktur sekolah menulis kreatif