Suriah di Ambang Kehancuran


perangNegri seribu satu malam ini tak pernah surut dari konflik berkepanjangan antara pendukung pemerintahan dan oposisi, antar agama sunni dan syiah dan sejumlah kepentingan global lainnya yang masuk di negri padang pasir. Seolah tak pernah berhenti dari perang yang menelan korban ribuan manusia terbunuh, korban luka-luka berserakah, infrastruktur hancur lebur dan pemerintahan ikut tidak stabil. Perang telah dikumandangkan kepada para jihadis oposisi suriah dan organisasi islam suriah dan irak (ISIS) yang ingin mendirikan Negara dibawah panji-panji Khalifah Islam.

Isis memiliki kekuatan cukup untuk memukul mundur militer suriah di medan perang dengan bantuan alat militer modern. Peralatan perang dipasok melalui perdagangan pasar hitam, senjata diselundupkan secara massal guna memberikan bantuan perang. Di suriah tidak lagi bisa dilihat dalam kacamata perang antar saudara sendiri, karena keterlibatan dari berbagai pihak sangat terang benderang, terutama Amerika serikat (USA) beserta sekutu-sekutunya. Amerika telah menggempur pasukan ISIS sudah setahun lebih, menyasar posisi-posisi teroris, pangkalan, kamp-kamp pelatihan dan konvoi tank. Setahun sudah Amerika melengkapi dan mensuplai amunisi kepada pemberontak melawan presiden Bashar Al Asshad yang tidak pro terhadap kepentingan Amerika. Alih-alih memburu kelompok teroris di suriah dan irak ternyata USA punya kepentingan terselubung masuk dizona perang, yaitu menumbangkan pemerintahan yang sah. Sama persis ketika Negara paman sam menginvansi Afganistan dan Libya untuk menjatuhkan presiden.

Koalisi pimpinan Amerika termasuk Saudi Arabiya sampai saat ini belum mampu menghancurkan organisasi ISIS pimpinan Abu Bakar Al Bagdadi, justru isis semakin kuat dan menguasai sebagian besar wilayah. Kalau ditelusuri lebih jauh siapa dalang dibalik pembentukan ISIS, maka kita akan melihat dengan sangat terang dan jelas bahwa CIA lah orang yang membentuk ISIS. Pernyataan tersebut di perkuat oleh seorang Ahli Hecker Amerika yang mendapatkan suaka politik di rusia dialah pemilik wikileaks salah satu situs yang popular, Snowden menyatakan bahwa isis merupakan bentukan dari amerika serikat untuk tetap menjaga ekskalasi konflik timur tengah dan mengokohkan eksistensi Negara adi kuasa. Mereka menciptakan suatu kondisi perang agar perusahaan senjata laris manis, intervensi kemanusiaan atas nama organsasi internasional adalah kamuflase barat.

Mengapa suriah menjadi wilayah VIP Konflik? Padahal negri ini tandus dan gersang, jangankan pohon yang ingin tumbuh benalu saja tidak sudi tumbuh di Negara ini. Akan tetapi tidak bisa disangkal bahwa suriah memiliki kandungan minyak yang luar biasa banyaknya, pasokan minyak mentah dibawah tanah tandus mampu mensuplai kebutuhan minyak dunia bertahuun-tahun lamanya. Sementara disisi lain amerika adalah Negara industri terbesar didunia, sehingga kebutuhan minyak dalam negri sangat besar pula. Inilah yang mendorong mereka untuk menjajah dan menjarah sumber daya alam di suriah, selain itu mereka ingin mendapat pengaruh dinegara timur tengah, suatu upaya pengokohan eksistensi kekuasaan Negara adi daya. Suriah hancur berantakan, ekonomi lumpuh, pendidikan tidak jalan dan pemerintahan sedang di ambang kejatuhan.

Rusia Imbangi Kekuatan Amerika

Kini Negara beruang merah tidak tinggal diam melihat perang yang digalangkan oleh amerika bersama koalisinya, rusia menawarkan bantuan peralatan militer jet tempur dan pasokan persenjataan modern kepada pemerintahan Bashar Al Asshad. Untuk mengimbangi serangan yang dilancarkan oleh ISIS dan Oposisi yang didukung militer Amerika, rusia tidak saja memberikan bantuan senjata, tetapi terlibat juga alam upaya menghancurkan pemberontak dan isis. Rusia tidak sendiri, mereka menggandeng beberapa Negara seperti Iran, Irak, Suriah dan China yang masuk menjadi koalisi.

Koalisi pimpinan Rusia bergerak cepat menggempur pemberontak, tercatat selama dua minggu rusia telah mampu membuat ISIS dan pemberontak kocar kacir kalang kabut. Sejumlah kamp pelatihan dan basis massa telah dihancurkan oleh serangan udara dan laut melalui laut kaspia. Keadaan ini membuat USA meradang disebabkan mereka telah satu tahun perang dengan ISIS bukannya melumpuhkan justru ISIS semakin kuat, dan memamerkan Alutsista baru. cibiran demi cibiran yang diterima amerika karena sebagai Negara adi kuasa dan memimpin Negara-negara maju tapi belum terlihat hasil yang signifikan. Berbeda halnya denga koalisi pimpinan rusia justru dalam waktu dua minggu pemberontak kewalahan menahan serangan udara, sehari saja mereka mampu menembakan roketnya ratusan kali mengenai teroris.

Amerika dan Rusia sama-sama memerangi teroris di bumi Suriah namun amerika menolak kerja sama yang di ajukan secara resmi oleh Rusia melalui mentri pertahanan rusia. Apabila USA serius, harusnya mereka menerima tawaran tersebut akan tetapi ada banyak alasan untuk menolak proposal kerja sama. Rusia dan Amerika punya pandangan be

Berbeda-beda pula terhadap masalah di suriah, Amerika memerangi ISIS, mempersenjatai Oposisi dan menginginkan presiden Bashar Al Ashad mundur dari kekuasaannya. Karena di anggap semakin menyulutkan konflik berkepanjangan, padahal mereka tidak setuju dengan pemerintahan yang sah di karenakan presiden bukanlah boneka asing, maka mau tidak mau harus di lengserkan. Sedangkan Rusia memerangi ISIS dan pemberontak sekaligus, dan mendukung pemerintahan yang sah.

Rusia dibawah kepemimpinan Vladimir Putin telah mampu mengembalikan kekuatan rusia setelah Michael Gorbachev membuka kran demokrasi, program prestoid dan grasnot adalah pintu awal perpecahan uni soviet. Putin mendapatkan pujian dari rakyatnya sebab di anggap mampu membangkitkan kembali Negara beruang merah dari bangun tidur panjangnya. Putin ingin mengimbangi kekuatan amerika dengan merangkul Negara-negara yang pro kremlin, setelah lama tidak lagi masuk dalam pentas konflik global.

Timur tengah seperti magnet bagi Negara adi daya, karena kandungan cadangan minyak yang banyak. Semua kepentingan masuk dengan berbagai dalih kemanusiaan, terorisme, kelompok pemberontak dan sebagainya. Hampir-hampir negri seribu satu malam ini tak merasakan indahnya kedamaian karena terus disulut perang berkepanjangan, korban berjatuhan tak terhitung jumlahnya.

Rencana Membangun Fakultas Fisipol UINAM


Workshop

Satu tahun terakhir wacana pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) sendiri bagi jurusan ilmu politik terasa mencuat ke permukaan, ini tandai dengan hadirnya kelompok-kelompok diskusi kecil-kecilan di bawah pohon mangga, walau tidak terlalu begitu masif namun keinginan untuk memisahkan diri dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat begitu kuat. Jurusan yang berdiri sejak tahun 2008 dan sudah mencetak para sarjanawan ilmu Politik dan satu-satunya menjadi jurusan favorit, menjadi point penting bagi mahasiswa untuk segera mendirikan fakultas Fisipol Untuk mengakomodir jurusan Politik.
Kegiatan workshop yang di selenggarakan oleh jurusan ilmu politik, di ruang Munaqqasah Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) menjadi salah satu ajang penting dari titik balik perjalanan untuk mendirikan fakultas baru. Kegiatan workshop tersebut mengangkat tema “pengembangan prodi ilmu politik”. Dengan menghadirkan pemateri dari akademisi Unhas Adi Suryadi Culla M.A (Ketua Jurusan Hubungan Internasional Unhas) dan Prof. Dr H.M Ramli. M.Si (Guru Besar UIN). Kamis 11/12/2014.
Menurut dosen unhas Adi Suryadi merancang jurusan HI tidak segampang yang kita inginkan, namun banyak hal yang harus dipertajam. Semacam ada spesifikasi studi kawasan kemana arahnya, Sehingga ketika menyusun kurikulum bisa diberikan bobot mata kuliah penting.
Rencana mendirikan fakultas sendiri mengalami hambatan, oleh karena beberapa fakultas yang memiliki jurusan satu atap dengan ilmu politik tidak memberikan lampu hijau. Di antaranya jurusan yang ingin di gabung pada rencana awal adalah jurusan, ilmu komunikasi, jurnalistik (Dakwah) dan ilmu perpustakaan (Adab dan humaniora). Menurut ketua jurusan ilmu politik Dr. Syarifuddin Jurdi M.Si menilai kalau tiga jurusan di atas bisa digabungkan maka sudah selesai, tanpa susah payah dulu mendirikan Hubungan Internasional sama Adminstrasi Publik kita tidak akan repot membangun dua jurusan baru untuk mendirikan fakultas fisipol.
Ia melanjutkan ada satu realiltas yang menarik di uin jakarta sejumlah elit berkompromi menyapakati agar ilmu-ilmu sosial untuk hidup bersatu dalam rumah yang namanya Fisipol pada kasus yang sama, UIN Surabaya yang lahir tahun ini itu langsung memakai seluruh Prodi Ilmu Sosial Politik dalam payung Fisipol. Dan UIN Alauddin bisa melakukan hal yang sama bila Elit kampus sepakat untuk segera mendirikan atau menpersatukan disiplin ilmu sosial dan politik yang ada di UIN Alauddin menjadi Fisipol.
Salah seorang mahasiswa ilmu politik Muhammad Ramli (21) saat diwawancara oleh tim lapotica mengatakan. Selama ini jurusan ilmu politik masih numpang di fakultas ushuluddin, dan sudah saatnya kita memiliki fakultas tersendiri. Akunnya.
Acara tersebut di buka secara langsung oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M. Ag. ia mengatakan pengintegrasian keilmuan politik berbasis Qurani dan penguatan kelembagaan ilmu-ilmu sosial di UIN Alauddin.

Oleh: Ruslan

mahasiswa ilmu politik semester IIIV